Home Inspirasi Elsana Bekti Nugroho, Lulusan Arsitektur UGM yang Sukses Berbisnis Ecoprint

Elsana Bekti Nugroho, Lulusan Arsitektur UGM yang Sukses Berbisnis Ecoprint

7 min read
0
0
156

Elsana Bekti Nugroho lahir di Wonosari, Gunung Kidul 12 Juni 1994. Diusianya yang masih terbilang muda, ia telah sukses membesarkan Arane Ecoprint. Elsen, begitu sapaan akrab salah satu peserta Kita Muda Kreatif Unesco ini.

Kita Muda Kreatif merupakan salah satu program pendampingan kepada wirausaha muda melalui program Creative Youth at Indonesian Heritage Sites kerjasama antara Unesco dengan Citi Foundation. Program ini telah dilaksanakan untuk para wirausaha muda yang tinggal di Jogja, Prambanan dan Magelang.

Ketika ditemui Tim Web GenPi Jogja di Joglo Ayu Tenan Makerspace, Pogung Baru, Elsen dengan ramah menjelaskan perjalanannya dalam dunia bisnis serta menceritakan sejarah perjuangannya dalam membangun bisnis dari nol.

Arane Ecoprint

Elsen merupakan pemuda yang gigih dan menyukai tantangan untuk mengembangkan diri. Berbagai macam prestasi telah diraihnya. Grandfinalist Dimas Jogja 2012, Semifinalist of Hilo Green Ambassador 2013, Grandfinalist Putra Batik Nusantara 2014 dan Most Favorit Lomba Desain Motif Batik Khas Jogja 2015. Dalam berbisnis keberanian untuk berkompetisi sangat dibutuhkan.

Membangun sebuah bisnis bukan perkara yang mudah dan bukan cita-cita lulusan Arsitektur UGM ini sejak awal. Layaknya kebanyakan mahasiswa lainnya, keinginannya adalah lulus dengan baik dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai.

Ternyata jalan hidup yang harus dilaluinya berbeda sama sekali. “Pada awal masa perkuliahan Mama masuk rumah sakit, koma selama 10 hari dan total 2 bulan dirawat dirumah sakit. Kebayanglah ya, jaman dulu belum ada BPJS. Biaya rumah sakit yang mahal membuatku struggle banget menjalani masa-masa kuliah.” kata Elsen mengenang masa-masa sulitnya.

Semangat serta kegigihan seorang Elsana Bekti Nugroho menghadapi kesulitan finansial ternyata justru membuka peluang karir baru dalam hidupnya. Berbagai macam cara ia lakukan untuk melanjutkan kuliah, mulai dari mengikuti proyek dosen, mendirikan pattern desainer, mendirikan Svaloka, hingga akhirnya bertemu Ibu Yayuk pemilik Joglo Ayu Tenan yang menawarkan kerjasama. “Dulu aku sempat minder sama temen-temen, gak bisa nongkrong di cafe karena harus hemat.” kenang Elsen.

Menjadi enterpreneur tidak membuat semangat Elsen redup untuk mengikuti kompetisi. Justru semakin antusias mengambil berbagai kesempatan baik serta peluang untuk menchalengge diri. Saat ini Elsen sedang mengikuti beberapa kompetisi, Citi Microentrepreneurship Awards (CMA) Citibank, Astra Creative Start Up Challenge dan Australian Award.

“Aku suka mengambil peluang tapi juga overthingking. Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari tahu sebuah informasi. Mungkin aku juga perfectionist.” kata Elsen sambil tertawa ringan mendeskripsikan pola kerjanya.

Ia memberikan pesan, untuk sukses berbisnis harus siap menghadapi segala tantangan dan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Bisnis berhubungan dengan kepuasan rekan bisnis dan konsumen.

Arane Ecoprint

Dalam perjalanan bisnisnya, akhirnya sejak 2017, Elsen berlabuh menekuni ecoprint dengan brand Arane. “Ruh Arane Ecoprint adalah berkelanjutan, jadi Arane tidak hanya menghasilkan produk yang ramah lingkungan tapi juga membantu setiap pihak yang berhubungan dengan Arane Ecoprint untuk berkembang bersama. Jika Arane Ecoprint semakin sukses, maka semua pekerja, penjahit, hingga pembuat kain yang bekerjasama dengan Arane Ecoprint juga harus semakin sukses dan sejahtera.” ungkap Elsen.

“Tidak hanya ecoprint yang ramah lingkungan, aku juga ingin menghadirkan cerita dari setiap produk yang dihasilkan, mulai dari kain yang digunakan.” uangkapnya sembari menunjukkan selembar kain yang akan dibuat menjadi selendang bermotifkan ecoprint dedaunan.

“Kain yang kami pakai merupakan kain katun ATBM custom berasal dari pengrajin di Klaten. Jadi tidak ada yang menyamai. Selain katun kami juga menggunakan kain sutera. Semua kain yang digunakan adalah kain bahan alami. Selain ramah lingkungan kain bahan alam juga lebih mudah menyerap pewarna alami.” jelasnya sembari menunjukkan proses pembuatan Arane Ecoprint.

P2091097

Satu persatu proses pembuatan ecoprint diperlihatkan dan dijelaskan kepada Tim Web GenPi Jogja yang berkunjung. Elsen merupakan sosok yang ramah dan suka membagi ilmu yang dimilikinya. Selain produk ecoprint berupa kain dan baju, Elsen juga membuka workshop untuk siapa saja yang berminat belajar ecoprint.

Produk baru yang dibuat adalah dompet kayu dengan penutup kulit berhias ecoprint. Produk Arane Ecoprint dibandrol mulai harga 200.000 rupiah. Arane Ecoprint ingin menghadirkan produk berkualitas namun juga masih dapat terjangkau masyarakat luas.

“Harapan ke depannya, ingin membuat Arane Ecoprint menjadi brand yang Go International. Juga membuat stigma di masyarakat, kalau ecoprint unik dan berkualitas itu ya Arane. Menjadi icon ecoprint.” ungkap Elsen mengakhiri sesi bincang santai bersama Tim Web GenPi Jogja.

Load More Related Articles
Load More By Kazebara
Load More In Inspirasi