Nyengker, Prosesi Masuknya Calon Mempelai Wanita dan Keluarga ke Kadipaten Pakualaman

5 min read
0
77

Pada hari Senin, 25 Jumadilakir Jimawal 1957 bertepatan dengan 8 Januari 2024 digelar acara Sengkeran atau prosesi adat Nyengker dimana calon mempelai wanita beserta kedua orang tuanya hadir masuk ke dalam lingkungan Pura Pakualaman. Upacara sengkeran ini dilaksanakan di Kagungan Dalem Bangsal Kepatihan Kadipaten Pakualaman yang akan menjadi kamar calon mempelai wanita menuju upacara Dhaup. Prosesi ini menjadi tanda bahwa calon menantu memasuki pernikahan dan menjadi bagian dari Kadipaten Pakualaman.

“Ini yang berbeda dari masyarakat lainnya. Di sini karena yang kagungan kersa (mempunyai hajat) itu adalah KGPAA Paku Alam X dan kebetulan trahnya calon penganten kakung. Sehingga yang wajib masuk ke cepuri adalah calon pengantin wanita karena dia bukan dari kalangan kerajaan. Sebab itu, yang masuk bukan hanya calon pengantin wanita namun juga orang tuanya,” ungkap Ketua Bidang II Panitia Dhaup Ageng Pakualaman 2024 Kanjeng Raden Tumenggung [KRT] Radyo Wisroyo di Puro Pakualaman, Senin (08/01) siang.

Dhaup Ageng Pakualaman nyengker

 

KRT Radyo Wisroyo menjelaskan prosesi Nyengker yang dilakukan saat ini memiliki perbedaan dengan zaman dahulu. Pada awal masa Kadipaten Pakualaman, Nyengker digelar selama sebulan, sedangkan kali ini Nyengker hanya dilaksanakan beberapa hari menjelang hari pernikahan. Namun, esensi Nyengker tetap dilaksanakan salah satunya untuk melestarikan budaya di Pakualaman.

“Tapi kita mengambil esensinya, adat ini yang masih kita pegang di adat Pakualaman supaya bisa lestari. Memang kita harapkan tidak menerima tamu yang lain secara bebas. Cuma diberi waktu pada saat midodareni, meski tidak bisa menjumpai teman secara bebas,” jelas KRT Radyo Wisroyo.

Nyengker berarti  ‘pingit’ berlaku bagi calon pengantin perempuan sebelum dilaksanakan upacara dhaup. Pada acara nyěngkěr ini diharapkan calon pengantin perempuan semakin dapat menata hati agar mantap dalam menyongsong prosesi pernikahan. Calon Mempelai Wanita dan orang tua ditempatkan di KD Kepatihan Gandhok Wetan. Keluarga caten akan tinggal selama empat hari kedepan hingga 12 Januari pada acara Pahargyan Hari kedua.

“Prosesi nyengker ini dilakukan untuk mempersiapkan jiwa caten puteri sebelum ke prosesi lainnya. Seperti siraman, midodareni, panggih, sungkem hingga ke akad dan resepsi. Semua di-gladi oleh abdi dalem yang bertugas, termasuk orang tua caten putri,” tambahnya.

Selama menjalani pingitan, calon mempelai akan menjalani piwulang di Dhaup Ageng. Piwulang tersebut juga diambil dari naskah-naskah kuno yang ada di Pura Pakualaman dan menjadi pegangan hidup seorang manusia untuk masuk ke langkah kehidupan yang baru.

“Kita sampaikan ke masyarakat itu salah satunya sudah dicetak ada serat piwulang sudah disampaikan kepada masyarakat,” jelasnya.

Tidak hanya calon mempelai Wanita, calon mempelai laki-laki juga melaksanakan prosesi serupa. BPH Kusumo secara adat sudah dipisahkan dari tempat tinggalnya di KD Gedhong Ijem. Calon mempelai laki-laki juga mengikuti gladi resik akad nikah di Masjid Paku Alam. Diarak dari KD Gedhong Ijem diiringi puluhan prajurit menuju lokasi Akad Nikah dengan didampingi, sang kakak BPH Kusumo Bimantoro beserta istri.

Dalam prosesi Nyengker ini, KRT Radyo Wisroyo menjelaskan tidak ada ritual khusus seperti harus berpuasa. Meskipun calon mempelai masih bisa berkomunikasi dengan orang luar selama proses pingitan, namun esensi Nyengker yang ditekankan adalah persiapan kedua mempelai untuk menjalani proses pernikahan. Agar berjalan dengan lancar dalam setiap rangkaian yang dilaksanakan.

 

Load More Related Articles
Load More By Kazebara
Load More In Event