Menjelajahi Keindahan Pantai Perawan dan Ragam Potensi Desa Wisata Tepus

7 min read
0
38

genpijogja.com – Langit membentang biru di atas pegunungan seribu. Angin semilir menyusuri celah-celah bukit kapur. Kelak-kelok jalan berlalu satu demi satu. Hijau pohonan lengkapi nuansa asyiknya perjalanan. Hamparan tanah merah dan batu karang hadir silih berganti.

Hampir satu setengah jam perjalanan harus dilalui untuk tiba di Desa Wisata Tepus yang berhasil masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Desa Wisata Tepus seakan menyiapkan kejutan bagi mereka yang baru pertama kali berkunjung.

Pengelola Desa Wisata Tepus menyambut dengan ramah. Obrolan hangat mengantarkan pada gambaran akan petualangan yang akan dialami. Gambaran tersebut kian nyata saat pengelola Desa Wisata Tepus menyiapkan dua unit jip untuk mengantar penjelajahan potensi yang belum banyak diketahui.

Menjelajahi Keindahan Pantai Perawan dan Ragam Potensi Desa Wisata Tepus
Menjelajahi Keindahan Pantai Perawan dan Ragam Potensi Desa Wisata Tepus

Tak menunggu lama rombongan naik ke jip dan petualangan pun dimulai. Deru roda jip menemani perjalanan melintasi proyek Jalur Jawa Lintas Selatan yang dikebut pengerjaannya. Alat-alat berat nampak bekerja keras memapas bukit-bukit kapur.

Pada salah ruas jip berbelok naik tebing kecil yang membuat seluruh penumpang berpegangan erat. Sambutan pertama untuk petualangan hari ini. Jip berbelok pada salah satu gang dan berhenti di depan sebuah pendopo. Pendopo ini adalah ruang kerja bagi Pinilih Art, kelompok wanita yang membuat kerajinan batik dan beberapa produk fashion.

Kelompok ini belum lama berdiri. Tahun 2020 mereka merintis usaha kain batik dengan pendampingan dari salah satu desa produsen batik di Gunungkidul. Pinilih art memiliki motif batik khas yaitu biota laut.

Motif ini diaplikasikan pada kain batik produksi mereka dan beberapa produk turunannya seperti tas dan topi. Selain batik, Pinilih Art juga membuat produk ecoprint. Pengunjung dapat mencoba membuat motif batik Biota Laut dan membeli beberapa produk yang di pajang di pendopo.

Kami melanjutkan petualangan dengan menyusuri jalan kampung yang sebagian besar sudah dibeton. Menjauh dari perkampungan kami melalui perbukitan yang ditanami pohon jati. Beberapa petani yang sedang bekerja di ladang menyapa dengan ramah.

Pada perbukitan yang sepi, sekelompok kera ekor Panjang sedang mencari makan di ladang warga. Jip tiba-tiba berbelok memasuki jalanan tanah yang sempit mengantarkan kami pada panorama hamparan laut yang terlihat dari celah rumpun pandan laut.

Jip berhenti di pantai Mbeling dan penumpang turun menyusuri lereng bukit menuju tepi tebing pantai. Tebing-tebing tinggi membentang di sebelah Timur. Ombak bergulung dan menghempas dengan segenap kekuatannya.

Suara hempasan ombak dihantarkan angin ke segala penjuru. Menyusuri dinding tebing, pandangan kita akan sampai pada pulau Timang di kejauhan. Samar-samar terlihat ada yang menyeberang ke pulau menaiki gondola.

Saat sedang asyik menikmati suasana, pengelola Desa Wisata yang mengantarkan kami menunjukkan empat ekor penyu yang sejenak berenang di permuakaan laut.

Tidak hanya itu, sedikit ke tengah terlihat Hiu Paus yang juga muncul ke permukaan. Sungguh pengalaman yang sangat berkesan. Masih ada beberapa pantai lagi di sebelah barat yang memiliki hamparan pasir putih. Salah satunya adalah pantai Watu Nene yang pada bulan April menjadi lokasi bagi penyu untuk bertelur.

Beranjak dari pantai, rombongan berjalan kembali menyusuri jalan naik turun berliku menuju pusat kerajinan Surya Silver. Gelang, Liontin hingga pernak-pernik hiasan rumah adalah produk unggulan yang dibuat. Tak hanya Perak, pusat kerajinan ini juga membuat kerajinan lain berbahan tembaga dan kuningan.

pusat kerajinan Surya Silver
pusat kerajinan Surya Silver

Kita dapat melihat proses pengerjaan berbagai kerajinan di salah satu sudut pendopo yang juga difungsikan sebagai galeri penjualan. Produk-produk kerajinan dari Surya Silver juga telah sering mengikuti pameran-pameran di tingkat Nasional.

Penjelajahan Desa Wisata Tepus berlanjut menuju sentra Pathilo. Pathilo adalah panganan khas Gunung Kidul yang terbuat dari bahan dasar singkong.

Kondisi tanah daerah Gunungkidul yang kering dan kontur berbukit menjadikan singkong sebagai salah satu sumber pangan yang ditanam oleh sebagian besar warga. Pengembangan produk berbahan dasar singkong menghasilkan beberapa camilan yang dapat dijadikan oleh-oleh dari kunjungan ke Desa Wisata Tepus.

Pathilo, produk olahan singkong Desa Wisata Tepus
Pathilo, produk olahan singkong Desa Wisata Tepus

Rombongan mencoba lempeng yang disajikan dengan teh hangat. Rasanya gurih dan renyah, sangat cocok sebagai pendamping obrolan di sore hari. Setelah menghabiskan teh yang disuguhkan rombongan pun berpamitan kepada bapak ibu pembuat pathilo dan pengelola Desa Wisata Tepus. Masih banyak potensi yang sangat menarik untuk dijelajahi jadi akan ada kunjungan berikutnya untuk menggenapi semua daya tarik yang dimiliki oleh Desa Wisata Tepus.

Load More Related Articles
Load More By Hardy Breck
Load More In Destinasi Wisata