Home Destinasi Digital Kesederhanaan Bubur Cemplung Pasar Laguna dan Maknanya

Kesederhanaan Bubur Cemplung Pasar Laguna dan Maknanya

6 min read
0
0
49

Sabtu sore, menjelang matahari terbenam, sebuah lapak bambu tradisional menjajakan kuliner khas Pasar Laguna Depok sepekan sekali. Lokasinya tidak jauh dari Jembatan Kretek. Belokan kanan sebelum retribusi Pantai Parangtritis, tepat di sisi utara Pantai Depok.

Bila ditanya menu utama apa yang ditawarkan, Ibu Padma, sang pemilik lapak, akan menyebut Bubur Cemplung sebagai salah satu andalannya.

6. Bubur Cemplung

Bubur sendiri merupakan salah satu menu makanan kegemaran masyarakat Indonesia. Orang-orang familiar dengan gerobak dorong atau warung yang menjajakan bubur di pinggir jalan. Entah itu di kota-kota besar maupun di kota terpencil.

Nusantara punya beragam variasi bubur, sebagai salah satu menu ciri khas suatu daerah, bagian dari suatu adat, ataupun sebatas hasil kreasi seseorang kemudian jadi terkenal.

Kalau Ambon punya bubur sagu maka Bantul, khususnya Depok, punya khasnya sendiri, yaitu bubur cemplung. Biasanya, setiap variasi bubur punya cara penyajian dan bahan utama yang berbeda-beda. Bubur Sagu terbuat dari sagu yang direndam, kemudian direbus, lantas disajikan dengan kuah santan dan talas kukus.

Sedang bubur cemplung sendiri terbuat dari beras, kemudian dimasak dengan santan dan garam agar rasanya lebih gurih. Tidak lupa dimasukkan potongan daun kelor, katuk, wortel dan brokoli. Hal yang membuat variasi bubur ini istimewa dari yang lain adalah bagaimana bubur cemplung dilahirkan.

Bubur cemplung lahir atas kesengajaan warga Depok demi memenuhi gizi dan kebutuhan perut setiap anggota keluarganya. Dahulu, ketika Indonesia masih ada dalam tekanan ekonomi yang begitu berat, begitupula dengan warga Depok yang tiap keluarganya punya delapan sampai sepuluh anggota.

Mereka memeras otak untuk mengolah sejimpit beras selain menjadi makanan yang bergizi, juga mengenyangkan perut seluruh anggota keluarga. Maka, dibuatlah beras sejimpit itu menjadi bubur yang porsinya empat kali lebih banyak daripada nasi, ditambah santan dan garam, dicampur dengan daun katuk dan kelor. Jadilah bubur cemplung yang rasanya enak, porsi cukup untuk seluruh anggota keluarga dan gizi pun terpenuhi.

Namun, siapa yang tahu bahwa dengan kesederhanaan itu akan membawa makna bagi mereka?

Ternyata, setelah diteliti, daun kelor berguna untuk menurunkan kolesterol, obat anemia, tekanan darah, dan bisul. Jed W Fahey dalam jurnalnya, Trees for Life Journal: A Review of the Medical Evidence for Its Nutritional, Theurapeutic, and Prophylactic Properties, menyebutkan 169 riset yang melibatkan seluruh bagian tanaman kelor.

Peran daun kelor sebagai sumber nutrisi yang kaya protein dan vitamin juga disebutkan dalam Jurnal AIDS volume 7 pada tahun 1993, selain itu efek ekstrak daun ini dalam mengatasi diabetes melitus telah dibuktikan lebih berdampak daripada pemberian glibenkamid yang fungsinya meningkatkan sekresi insulin oleh pankreas.

Selain daun kelor, daun katuk juga telah dibuktikan dapat meningkatkan produksi ASI pada ibu menyusui. Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Profesor Bambang Pujiasmanto mengatakan bahwa daun katuk mengandung efedrin, vitamin A, B, C, K, dan pro vitamin A, kalsium, zat besi yang memperlancar dan meningkatkan ASI.

“Dalam pandangan masyarakat nusantara sendiri, kalau ibu yang habis melahirkan nggak keluar ASI-nya, biasanya orang-orang langsung menyuruh untuk makan sayur katuk”, terang Suharyanto, salah satu pengurus Pasar Laguna Depok ketika bercerita tentang sejarah bubur cemplung.

Dengan beberapa kandungan yang ada dalam daun katuk dan kelor, bubur cemplung mengajarkan arti kesederhanaan sesungguhnya. Diciptakan dengan apa adanya, justru membuatnya tidak menjadi makanan yang sembarangan, tetapi malah membawa manfaat tersendiri.

Orangtua pada zaman itu mencampurkan bubur dengan apa yang ada, namun tidak serampangan, sehingga melahirkan bubur cemplung yang dengan kesederhanaan membawa banyak sekali manfaat. Mereka secara tidak langsung juga menerapkan nilai keadilan dengan tidak mengecualikan satu anggota keluarga pun. Ketika ada makanan, semua harus dibagi sama rata dan sama porsi.

Begitulah yang diajarkan secara tidak langsung oleh leluhur kita pada anak-anaknya. Tidak dengan nasihat panjang, namun dengan penerapan langsung yang otomatis di dalamnya ada nilai-nilai yang dapat maknai.

Load More Related Articles
Load More By Dzatarisa Almas
Load More In Destinasi Digital