Desa Wisata Ngoro-ngoro Hadirkan Paket Wisata Pengelolaan Sampah di Jogja

5 min read
0
21

Sabtu (3/12) telah dilaksanakan uji coba paket wisata pengelolaan sampah di Desa Wisata Ngoro-oro. Acara ini dilaksanakan dalam rangka kegiatan pengabdian kepada masyarakat Universitas Gadjah Mada (UGM) yang bemitra dengan BUMDesa Margo Mulyo Ngoro-oro, Kelurahan Ngoro-oro, Kapanewon Patuk, Gunungkidul.

 

Kegiatan ini dibuka di balai desa Kelurahan Ngoro-oro oleh Sukasto Lurah Desa Ngoro-oro. “Harapan kami dengan uji coba ini dapat melihat potensi desa ngoro-oro  Dan menikmati apa yang disuguhkan desa kami. Dapat benar merasakan sebagai wisatawan” ujarnya.

 

Uji coba paket wisata pengelolaan sampah ini diikuti oleh belasan peserta yang berasal dari Dinas Lingkungan Hidup Dan Kehutanan DIY, Dinas Lingkungan Hidup Gunungkidul, komunitas dan mahasiswa UGM.

 

Setelah pembukaan acara dilanjutkan menuju lokasi pengolahan sampah dengan menaiki shuttle yang telah disediakan oleh pemandu wisata. Di lokasi pengolahan sampah disambut oleh pengurus Himpunan Pemuda Mutaqin (HPM) yang diwakili oleh But Jumirah. “Sampah yang ada disini adalah sedekah dari warga. Kami kumpulkan dan olah. Sampah yang terkumpul kami jual ke pengepul. Uang yang terkumpul kami gunakan untuk pemberdayaan masyarakat dan pembangunan desa” jelasnya.

 

Peserta diajak untuk melihat pengolahan sampah anorganik yang terdiri dari berbagai macam plastik seperti plastik kresek, botol minuman, tutup botol, bungkus makanan, pipa pralon, dan lainnya. Selain itu peserta juga diajak untuk melihat pengolahan sampah organik menggunakan larva lalat. Larva-larva ini juga dibudidayakan untuk dijual sebagai pakan ikan. Selain itu sampah-sampah organik ini juga diolah menjadi pupuk organik yang dipasarkan kepada komunitas-komunitas petani di sekitar Desa Wisata Ngoro-oro.

 

Tak hanya sampai disitu, peserta diajari untuk membuat eco enzyme yang dipandu langsung oleh Bu Jumirah. Peserta botol plastik yang telah terisi tetes tebu dan sebungkus sampah-sampah organik. Bu Jumirah menjelaskan takaran bahan-bahan untuk membuat eco enzyme ini harus tepat agar mendapatkan manfaat dari eco enzyme yang dibuat. Poin penting lainya yang dijelaskan oleh Bu Jumirah adalah pentingnya penyimpanan selama proses fermentasi yang berlangsung kurang lebih tiga bulan. Eco enzyme yang dibuat oleh peserta menjadi cendera mata bersama pupuk hasil produksi Desa Wisata Ngoro-oro.

 

“Harapanya dengan kunjungan para wisatawan ke Desa Wisata Ngoro-oro ini menambah semangat dan mendapatkan ilmu untuk pengelolaan sampah organik dan anorganik menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi masyaraka dan lingkungan sekitart” ujar Munawar Kepala Dusun Jatikuning.

 

Kegiatan dilanjutkan dengan makan siang di Warung Mbendo yang berada di pinggir sawah. Dalam perjalanan peserta tak lupa menyempatkan untuk berfoto dengan latar persawahan dan sembilan menara dari berbagai stasiun televisi nasional.

 

Di Warung Mbendo disajikan kuliner khas Desa Wisata Ngoro-oro yaitu nasi gumbreg. Panganan khas ini biasa disajikan saat acara syukuran Gumbregan yaitu syukuran para peternak sapi atas kelahiran sapi. Nasi gumbreg terdiri Dari nasi yang dibentuk kerucut seperti tumpeng, suwiran ayam, telur, sambal kentang krecek, gudangan, ikan asin, dan sayur lodeh melinjo. Sehabis makan siang acara dilanjutkan dengan diskusi ringan mengenai potensi paket wisata pengolahan sampah di Desa Wisata Ngoro-oro.

 

Kegiatan uji coba paket wisata pengolahan sampah ini diakhiri dengan mengunjungi sentra UMKM Desa Wisata Ngoro-oro. Beberapa produk unggulan UMKM Desa Wisata Ngoro-oro adalah pisang untir, mangleng, keripik pisang, kunir asem dan kembang goyang. Peserta juga dapat membeli produk-produk UMKM ini sebagai buah tangan Dari Desa Wisata Ngoro-oro.

Load More Related Articles
Load More By Genpi Jogja
Load More In Destinasi Wisata