Program Baru Love ARTJOG, Libatkan Difabel Pada Program Pameran dan Pertunjukan

4 min read
0
10

Lebaran seni tahunan, ARTJOG akan kembali diselenggarakan di Jogja Nasional Museum pada 28 Juni hingga 1 September 2024 mendatang. Tahun ini ARTJOG akan mengusung tema Motif: Ramalan, sebuah tema yang berangkat untuk membedah batasan waktu, ruang, serta hubungan keduanya dalam memahami sebuah peristiwa.

“Tema ini dirancang untuk mengajak seniman menelusuri sejarah lalu dan kemungkinan peristiwa masa depan,” ungkap Pendiri sekaligus Direktur ARTJOG Heri Pemad saat media gathering ARTJOG 2024 di Roca Restaurant, ARTOTEL, Kamis (20/6).

Sebagai kelanjutan dari tema Motif: Lamaran yang diusung tahun lalu, tema kali ini dirancang oleh tim kuratorial ARTJOG dan curator tamu Hendro Wijayanto untuk mengajak seniman menelusuri Sejarah masa lalu dan kemungkinan peristiwa masa depan. Secara khusus ARTJOG mengundang Agus Suwage dan Titarubi sebagai seniman komisi untuk merespon dan menerjemahkan tema yang diangkat dan akan ditampilkan pada fasad ARTJOG.

Selain itu ARTJOG juga mengundang penari Rianto dan musisi Risky Summerbee & The Honeythief beserta 57 seniman penampil lainnya untuk mempresentasikan gagasan dan ide karyanya dalam program peforma ARTJOG X Bakti Budaya Djarum Foundation. Tahun ini ARTJOG menampilkan karya dari 48 seniman dewasa dari dalam dan luar negeri melalui program panggilan terbuka dan undangan. Ditambah dengan 36 seniman anak dan remaja yang lolos seleksi.

Sebagai upaya untuk mendorong dan memperluas kesadaran mengenai kesetaraan yang sudah dimulai sejak 2 tahun yang lalu, tahun ini ARTJOG meluncurkan program baru bersama Pusat Layanan Disabilitas (PLD) bertajuk Love ARTJOG. Semangat ini tidak hanya terbatas pada akses pelayanan dan fasilitas semata, namun juga secara aktif melibatkan kawan-kawan difabel dalam beberapa program, seperti pameran, tur pameran dan pertunjukan.

“Kita menggandeng PLD, jadi itu semangat baru buat saya dan menginspirasi kami membuat program Love ARTJOG. Karena simbol ‘I Love U’ (tangan tiga jari) saat ini sudah menjadi bahasa universal,” kata Heri Pemad.

Heri menambahkan, nantinya akan ada pendampingan untuk teman-teman difabel untuk memahami karya seni yang ditampilkan. Namun, jika ada yang berkenan untuk berkeliling sendiri juga diperkenankan.

Adapun tema-tema karya di ARTJOG terbentang luas mulai dari isu lingkungan, keberagaman, dan kesetaraan, hingga ihwal ramalan itu sendiri. Salah satunya karya Nicholas Saputra dan Happy Salma yang merespons pementasan mendiang Gunawan Maryanto tentang Serat Centhini. Program unggulan lainnya adalah launching buku, award bagi seniman anak, serta banyak pertunjukan seni.

Program Merchandise Project tahun ini menawarkan kolaborasi baru bersama ONXIDEA Studio, KICKYOURBUTT Project, Blasu Studio, dan Sweda.co. Beragam produk ditawarkan seperti kaos hingga perhiasan perak yang bisa dibawa pulang pengunjung selama ARTJOG berlangsung.

Tiket masuk ARTJOG bisa didapatkan melalui website dan loket di lokasi dengan harga Rp 75.000 (dewasa) dan Rp 50.000 (anak 6-15 tahun). Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui media sosial dan website resmi ARTJOG.

 

 

Load More Related Articles
Load More By Kazebara
Load More In Event