Merayakan Lebaran Seni di ARTJOG 2024, Menelusuri Ramalan Lewat Karya Seni hingga ‘Didongengi’ Nicholas Saputra

7 min read
0
16

GenPi Jogja – Lebaran Seni di Yogyakarta telah tiba, salah satunya ditandai dengan dibukanya ARTJOG 2024 yang dinanti-nanti para penikmat seni dari Indonesia maupun mancanegara. ARTJOG 2024 digelar 28 Juni sampai 1 September 2024 di Jogja National Museum (JNM), Wirobrajan, Yogyakarta.

“Motif: Ramalan” diangkat sebagai tema ARTJOG 2024. Sebagai lanjutan dari tema sebelumnya, Ramalan diartikan sebagai motif imajiner yang menghubungkan antara waktu lampau, kini, dengan esok, atau antara esok dengan kini dan yang lalu. Sementara bagi seniman, ramalan merupakan imajinasi dan daya prediksi yang menggerakkan kreativitas dalam proses mencipta.

ARTJOG 2024

Yang Baru di ARTJOG 2024

Jogja National Museum diwarnai dengan berbagai karya indah para seniman yang membawa pengunjung menelusuri ramalan. Karya-karya seni yang dipamerkan dirasa segar lantaran cukup banyak seniman baru yang sebelumnya belum pernah berpartisipasi di ARTJOG 2024.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, di samping memfungsikan bangunan tiga lantai JNM, ARTJOG juga membangun bangunan yang bersifat temporal di bagian depan. Tentu saja, baik fasad maupun isinya telah dikonsep sedemikian rupa agar sesuai dengan tema yang diangkat.

Selain itu, panggung di belakang gedung JNM pun diratakan. Dalam konferensi pers yang berlangsung Jumat (28/6/2024) lalu, Heri Pemad selaku Direktur ARTJOG mengatakan bahwa harapannya space yang ada bisa lebih fungsional.

IMG_5541

Namun, perataan panggung lama bukan berarti meniadakan pertunjukan seni yang juga menjadi salah satu ciri khas ARTJOG. Telah dibangun panggung non-permanen sebagai tempat unjuk gigi para seniman pertunjukan sepanjang gelaran ARTJOG 2024.

Selain hal-hal yang bersifat fisik, ARTJOG juga mengaktivasi program Love ARTJOG. Program ini merupakan gerakan dan ruang inisiatif untuk menumbuhkan, mendorong, dan memperluas kesadaran bersama tentang kesetaraan serta kebersamaan.

Heri Pemad mengungkapkan, gagasan Love ARTJOG telah dirumuskan sejak tahun beberapa tahun lalu. Program ini mengedepankan rasa cinta dan kasih sayang yang universal terhadap sesama, sekaligus mendorong cita-cita sebuah festival yang diselenggarakan oleh semua, dari semua, dan untuk semua.

Oleh sebab itu, Heri Pemad mengaku bangga lantaran ARTJOG kemudian bisa menjadi pameran seni yang memperhatikan sisi inklusivitas.

“Sekarang ini kita berbicara yang baru, satu kebanggan bagi saya bagi temen-teman, tentang program yang sudah ada (dibicarakan) sejak 2022. Sekarang ada program kesetaraan Love ARTJOG,” kata Heri Pemad.

ARTJOG 2024

Selain itu, ARTJOG juga agaknya menonjolkan sisi regenerasi seniman dengan adanya program ARTJOG Kids dan Young Artist Awards tahun ini. Young Artist Award (YAA) merupakan bentuk apresiasi ARTJOG bagi seniman muda di bawah 35 tahun atas kiprah mereka dalam berkarya. Tahun ini, program YAA hadir atas dukungan dari Dinas Kebudayaan (Kundha Kebudayaan) Provinsi DIY.

Melihat Karya Seniman ARTJOG 202

ARTJOG 2024 diikuti oleh 48 seniman individu maupun kelompok yang berpartisipasi di ARTJOG, yang terdiri dari 30 seniman undangan dan 18 seniman terbuka, serta 36 seniman anak dan remaja yang telah diseleksi.

Pada bagian awal, ketika masuk pameran pengunjung akan disuguhkan oleh karya Agus Suwage dan Titarubi sebagai seniman komisi dengan karya berjudul Suara Keheningan (2024).

Agus Suwage memamerkan obyek berupa telinga manusia sebagai simbol indera manusia yang paling ‘toleran’ di lingkungan sosial yang bising. Di tengah kebisingan, indera pendengaran dapat menguji pengalaman ketubuhan dan mengalami keheningan.

FullSizeRender

Di ruang yang sama, Titarubi menumbuhkan berbagai jenis padi yang diiringi rekaman doa, pepatah dan pujian dari kelompok masyarakat adat yang dapat didengarkan di beberapa ruangan. Karya dari dua seniman ini saling terhubung satu sama lain.

“Ketika India sempat menghentikan ekspor berasnya, semua negara panik, termasuk Indonesia. Bahkan kita sempat kehilangan beras di banyak tempat. Ini membuat saya bertanya-tanya apakah betul dunia mengalami kehancuran. Berita-berita ini menurut saya menjadi sebuah perwujudan ramalan,” jelas Tita ketika menjelaskan karyanya.

Yang tak kalah menarik dan cukup terhilight dari ARTJOG 2024, ialah karya yang melibatkan aktor Nicholas Saputra dalam pembuatan karyanya.

Nicholas Saputra berkolaborasi dengan Happy Salma dan almarhum Gunawan Maryanto dalam karya mix media installation bertajuk “Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan”.

Pemeran Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) itu membacakan Serat Centhini, khususnya dalam bab Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan yang merupakan terjemahan Elizabeth D Inandiak pada 2002 lalu.

Pembacaan potongan Serat Centhini tersebut dibagi dalam enam babak. Nicholas bersama Happy Salma secara bergantian bertindak sebagai narator.

ARTJOG 2024

Karya yang melibatkan Nicholas Saputra ini berada di lantai 1 sisi Timur JNM. Pengunjung dapat bergantian mendengarkan dongeng Serat Centhini dengan headset yang secara khusus disediakan di pameran tersebut.

Pameran ARTJOG 2024 bisa dikunjungi setiap hari, mulai pukul 10.00-21.00 WIB dengan harga tiket masuk Rp75.000 untuk dewasa dan Rp50.000 untuk pengunjung anak usia 6-16 tahun. Tiket pengujung bisa dibeli melalui situs www.artjog.id atau loket di lokasi.

Load More Related Articles
Load More By Hernawan
Load More In Event