Home Event Workshop Batik Lumpur dari Thailand Meramaikan JIBB 2018

Workshop Batik Lumpur dari Thailand Meramaikan JIBB 2018

7 menit waktu baca
22
Jogja Internasional Batik Biennale 2018. Foto milik Ary Guns.
Jogja Internasional Batik Biennale 2018. Foto milik Ary Gunawan.

Tersenyum lebar dan bersemangat, mungkin itulah ekspresi yang bisa menggambarkan matahari terik waktu itu. Ratusan orang telah berkumpul saat aku menuliskan namaku dalam daftar hadir pengunjung workshop Jogja Internasional Batik Biennale (JIBB) 2018 di Griya Batik Giriloyo, Imogiri, Bantul, DIY.

Tahun ini adalah even JIBB yang ke-2, sebelumnya JIBB telah dihelat tahun 2016 lalu. JIBB merupakan even batik internasional dalam rangka mengembangkan dan melestarikan batik sekaligus memperkenalkan tradisi batik di dunia kepada masyarakat luas.

Even seperti JIBB semakin mengukuhkan eksistensi Jogja sebagai Kota Batik Dunia. “Daerah Istimewa Yogyakarta dinobatkan sebagai Kota Batik Dunia bukan tanpa persaingan, ada kota-kota lain yang bersaing ketat dengan Jogja, maka dari itu perlu adanya kegiatan yang berkelanjutan untuk mengembangkan, melestarikan dan mengenalkan batik kita ke dunia.” ungkap Suharsono, Bupati Bantul dalam sambutannya.

Ketika di ungkapkan Jogja sebagai Kota Batik Dunia, aku bangga sekali. Ternyata Jogja, satu-satunya kota yang memenuhi 7 (tujuh) kriteria sebagai Kota Batik Dunia, yaitu nilai historis, orisinalitas, regenerasi, nilai ekonomi, ramah lingkungan, mempunyai reputasi internasional dan mempunyai persebaran luas.

Acara kali ini dihadiri juga oleh President World Craft Council (WCC) Asia Pasific Region Dr. Ghada Hijjawi Qaddumi. Beliau sangat terkesan dengan batik Jogja, menurutnya batik khas Jogja sangat menarik. JIBB 2018 juga menghadirkan perajin batik internasional. Ini adalah salah satu langkah Jogja untuk mengembangkan batik.

Setelah dibuka secara resmi oleh Bupati Bantul, acara dilanjutkan dengan penanaman pohon. Penanaman pohon ini sebagai simbol tekad untuk menjaga keberlangsungan bahan membatik di desa Giriloyo, Imogiri.

Batik Giriloyo memang terkenal menggunakan pewarna alami. Warna cokelat misalnya, warna cokelat didapatkan dari kayu mahoni yang di ekstraksi. Itulah sebabnya, kenapa prosesi penanaman pohon dimasukkan sebagai rangkaian JIBB tahun ini.

Jogja Internasional Batik Biennale 2018. Foto milik Ary Guns.
Jogja Internasional Batik Biennale 2018. Foto milik Ary Gunawan.

Workshop pewarnaan batik berlokasi di Griya Batik Sekar Arum milik Nur Ahmadi, warga asli desa Giriloyo. Sebelum memulai workshop, Nur Ahmadi berbagi pengalaman kepada peserta bagaimana beliau memulai usaha batiknya. Dulunya, Giriloyo ini merupakan sentra pekerja batik di Jogja. Sebagian besar warganya adalah karyawan batik.

Gempa bumi berkekuatan 5,9 SR di tahun 2006 yang mengguncang Bantul dan sekitarnya telah merusak sebagian besar sarana dan prasarana di Giriloyo. Tapi siapa sangka, Tuhan berkehendak lain. Setelah kejadian itu justru momentum tercipta, Giriloyo bangkit sebagai Sentra Kerajinan Batik di Jogja.

Workshop JIBB tahun ini, tenyata tidak hanya diikuti oleh peserta dari Jogja dan beberapa kota sekitarnya. Nampak pula peserta WNA ikut meramaikan acara. Sebagai pemateri ada Mr. Cho dari Taiwan, Mr. Endric dari Malaysia dan Mr. Mann dari Thailand, sedangkan pesertanya ada yang dari India dan Korea.

Jogja Internasional Batik Biennale 2018. Foto milik Ary Gunawan.
Jogja Internasional Batik Biennale 2018. Foto milik Ary Gunawan.

Adanya 3 (tiga) pemateri yang berbeda membuat kegiatan ini dibagi menjadi 3 kelompok. Aku memilih mengikuti kelompok Mr. Mann, narasumber dari Thailand.

Mr. Mann adalah pemilik salah satu brand di Thailand, Mann Craft adalah produk asli miliknya. Pria bernama asli Prach Niyomkar menggunakan lumpur sebagai salah satu media batiknya.

I used Clay because it is easy to remove, easier to clean“, jelasnya di awal workshop. Sebagai salah satu produsen batik di Thailand, Mr. Mann memiliki ciri khas dalam setiap karyanya. Selain warna biru miliknya yang khas, ada juga detail warna lain yang enak dipandang.

Presentasi Mr. Mann di Batik Sekar Arum benar-benar membuatku terkesan. Beliau nampak menikmati sekali berinteraksi dengan peserta workshop. Tanpa ragu Mr. Mann memperagakan sendiri teori yang diberikannya. Beberapa kali beliau mengulang kata,”Have you already understand what I said?“.

Maklum Mr.Mann menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi. Meskipun ada translator dari panitia, pertanyaan tadi menunjukkan bagaimana kepedulian Mr.Mann terhadap perkembangan batik dunia, khususnya Jogja. Aku menyempatkan diri berbincang dengannya setelah workshop.

I like Batik Jogja, its motives are simple but very unique”, ujarnya saat kami bercakap.

“Apa motivasi Anda bersedia menjadi narasumber di workshop ini?” tanyaku yang penasaran dengan kehadiran Mr. Mann di JIBB kali ini. “I think, I have to share my knowledge about batik to the others. So, Batik around the world is increasingly growing“, pungkas Mr.Mann.

Workshop ini membuatku semakin terkesan dan sadar betapa berharganya batik. Obrolan dengan Mr. Mann dan melihat bagaimana caranya berbagi pengetahuan membuatku semakin paham kenapa harga batik tulis begitu ekslusif di dunia.

  • Soto Bathok Wulung, Nikmatnya Bikin Gobyos!

    Siapa sih yang enggak kenal Soto? Menu makanan ini menjadi favorit masyarakat pada umumnya…
  • Seafood di Wates, Memang Ada?

    Kulon Progo terletak di ujung sebelah barat Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan ibu kota ka…
Muat Lagi Dari Dody Hendro W
Muat Lebih Banyak Di Event