Wayang Wong, Pertunjukan Istimewa dari Istana

7 min read
0
19

Yogyakarta merupakan salah satu kota pariwisata di Indonesia yang daya pikatnya telah mendunia. Daya tarik utamanya tentu saja unsur-unsur budaya tradisional yang masih tetap terjaga dan melekat pada setiap lapisan masyarakat Yogyakarta. Sesuai dengan namanya, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan adanya Kraton sebagai institusi non-formal yang memiliki peran besar dalam melestarikan dan menjaga nilai-nilai tradisi masyarakat Jawa.

Wayang wong merupakan salah satu produk kebudayaan dari kraton. Wayang wong pada dasarnya merupakan seni pertunjukan wayang yang mana tokoh-tokohnya diperankan oleh manusia, bukan oleh boneka wayang atau hasil kerajinan kulit hewan. Tradisi pagelaran wayang wong dimulai sejak masa Sultan Hamengku Buwana I, yang sekaligus dianggap sebagai penciptanya. Wayang wong Yogyakarta dinyatakan melambangkan nilai-nilai istana yang diciptakan.

Bagi masyarakat Yogyakarta, wayang wong merupakan bentuk kesenian kraton yang sangat istimewa. Wayang wong merupakan sebuah genre tari yang dapat dikategorikan sebagai suatu pertunjukan total yang di dalamnya tercakup seni tari, seni drama, seni sastra, seni musik, dan seni rupa. Karena itu, amat jelas terlihat bahwa wayang wong merupakan produk kesenian elit yang bernilai amat tinggi. Untuk menampilkan sebuah produksi wayang wong yang besar memerlukan hadirnya sejumlah seniman dari berbagai cabang seni.

 

PA280459

Untuk bisa membawakan peran dalam wayang wong dengan baik, seorang pemeran tidak hanya harus menguasai teknik tarinya saja, tetapi juga yang tidak kalah pentingnya adalah penjiwaan dari karakter yang dibawakan. Ketika menari ia harus lebur dalam karakter perannya. Untuk memperoleh penjiwaan yang baik diperlukan latihan yang intensif dan berat. Oleh karena beratnya syarat tersebut satu orang hanya diperbolehkan memerankan satu tokoh dalam wayang wong.

Dalam rangka menyambut Pameran Sumakala 2022, Kawedanan Kridhamardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, mempersembahkan: Wayang Wong Episode 1 Lakon Semar Boyong, Wayang Wong Episode 2 Lakon Rama Nitik, dan Wayang Wong Episode 3 Lakon Rama Nitis.

PA280445

Episode pertama dengan lampahan (lakon) Semar Boyong atau “penculikan Semar” merupakan cerita carangan yang di dalamnya dijumpai sebuah kombinasi dari cerita yang berasal dari Mahabarata dan Ramayana. Alkisah di Kerajaan Poncowati, Prabu Rama Wijaya dan Dewi Sinta tengah bersedih karena Sekar Dewa dari Ron Kastuba dan Sandilata layu serta mengering, sehingga para kapi (pasukan kera) jatuh sakit hingga ada yang tewas. Prabu Rama Wijaya kemudian mengutus Prabu Wibisana untuk pergi ke Karangkabolotan guna memboyong Ki Lurah Semar yang dapat memuliakan Sekar Dewa dari Ron Kastuba dan Sandilata. Setelah Ki Lurah Semar berhasil memuliakan Sekar Dewa tersebut, para kera dapat disembuhkan. Episode pertama ini dapat disaksikan di kanal Youtube dari Kraton Yogyakarta.

Kemudian episode kedua dengan lakon Rama Nitik. Lakon ini berkisah tentang Drupadi yang akan diboyong oleh Anoman. Namun atas kecerdikan Prabu Kresna, Drupadi yang akan diberikan Anoman telah diganti dengan Gatot Kaca yang telah dimasukkan ke dalam Gendaga Kencana. Anoman kemudian membawa Gendaga Kencana ke Pancawati. Sesampainya di Pancawati, atas saran Prabu Wibisana Gendaga Kencana dibuka di Alun alun. Suasana berubah menegangkan saat Gendaga Kencana dibuka ternyata isinya bukan Drupadi melainkan Raden Gatot Kaca.

Maka terjadilan peperangan, kemudian peperangan terhenti saat Raden Lesmana melepaskan panah Guwa Wijaya dan menancap pada tubuh Gatot Kaca. Di taman Madu Gandha, Sembadra dan para garwa Janaka kedatangan Lesmana yang ingin memboyong Sembadra ke Pancawati sebagai sarana berkumpulnya atau Nitisnya Sri Sekar.

Lalu terjadilah perang besar untuk merebutkan Sembadra antara Pancawati dan Amerta. Akhir dari peperangan tersebut, Sembadra diboyong ke Pancawati sebagai sarana manunggalnya titisan Bendara Wisnu dan Dewi Sri Sekar, dan Prabu Rama Wijaya untuk menitik surganya yang kelak nitis sebagai Betara Whisnu.

Lakon Rama Nitik ini merupakan kelanjutan dari lakon Semar Boyong. Pada episode kedua ini khusus dipentaskan saat pembukaan Pameran Sumakala 2022 yang disaksikan langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Bendara dan GKR Maduretno serta wayah dalem di Bangsal Sri Manganti, Kraton Yogyakarta bersama masyarakat umum.

Episode terakhir yang akan dipentaskan saat penutupan Pameran Sumakala pada akhir Januari 2023 nanti membawa lakon Rama Nitis. Secara garis besar, lakon ini akan menggambarkan reinkarnasi Rama ke tubuh Kresna. Lakon ini merupakan kelanjutan dari Rama Nitik. Persaingan yang khas untuk mendapatkan putri juga ditampilkan dalam lakon ini. Istri Prabu Barata, yaitu Dewi Antrakawulan menawarkan sebuah sayembara, bahwa ia hanya akan mencintai ksatria yang dapat menebak teka-tekinya. Empat orang peserta sayembara tampil dalam kompetisi itu, dan Leksmana keluar sebagai pemenang. Namun demikian, sebenarnya keikutsertaannya dalam sayembara itu adalah atas nama Barata, hingga Antrakawulan bisa dipertemukan kembali dengan suaminya. Lakon ini berakhir dengan reinkarnasi Prabu Rama ke dalam Prabu Kresna.

Load More Related Articles
Load More By Dewangga Liem
Load More In Dokumentasi