Home Destinasi Digital Watu Tapak Camp Hill akan Menjadi Destinasi Wisata Baru di Kawasan Geoheritage Breksi

Watu Tapak Camp Hill akan Menjadi Destinasi Wisata Baru di Kawasan Geoheritage Breksi

5 menit waktu baca
129

Kawasan Tebing Breksi sudah banyak dikenal wisatawan sebagai kawasan wisata yang eksotis serta menyajikan pemandangan indah kota Jogja di sore dan malam hari.

Masih satu kompleks dengan wisata Tebing Breksi, Watu Tapak akan menjadi destinasi wisata baru yang digarap oleh GenPi Jogja. Letaknya persis bersebelahan dengan kawasan Taman Tebing Breksi, Sleman. Jadi wisatawan bisa secara langsung mengunjungi kedua area wisata ini.

Selain mengusung tema destinasi digital, seperti Pasar Kakilangit dan Pasar Ngingrong, Watu Tapak juga akan melibatkan para pengusaha muda Jogja (food truck) dan co-branding dari Kemenpar. Food truck sendiri merupakan konsep berdagang kuliner dengan keunggulan lebih modern dan fleksibel.

Area food truck ini bisa menjadi salah satu penarik minat pengunjung terutama anak-anak muda. Menu yang beragam seperti makanan ringan dan fast food disajikan di area food truck.

Tidak hanya sajian kuliner, keindahan landskap Watu Tapak menghadirkan pemandangan indah baik di saat matahari terbit atau senja, bedanya dengan kawasan breksi adalah kamu bisa menikmati pemandangan sambil mendirikan tenda.

Satu kawasan disediakan khusus untuk kegiatan camping berkapasitas 50 tenda, setiap tenda mampu menampung hingga 4 orang. Watu Tapak Camp Hill memiliki kontur tanah berundak yang menghadap ke utara dan barat. Kawasan ini sudah tertata rapi dengan ornamen batuan alam.

Pemandangan lanskap Jogja terlihat jelas seperti Bandara Adisutjipto, Gunung Merapi, Candi Barong, Candi Prambanan, dan Situs Ratu Boko. Tidak hanya menggunakan tenda, wisatawan juga bisa bermalam menggunakan campervan. Satu kawasan disediakan untuk area api unggun dan bersantai sembari menikmati suasana malam Watu Tapak Camp Hill.

Memiliki bentuk landskap yang unik, ternyata Watu Tapak Camp Hill memiliki legenda yang telah menjadi cerita turun temurun di masyarakat setempat. Dahulu area ini merupakan area pertempuran antara Raja Boko dari kerajaan Prambanan dan Bandung Bondowoso dari kerajaan Pengging.

Pertarungan sengit terjadi karena Bandung Bondowoso ingin merebut wilayah kerajaan Prambanan. Kedua manusia sakti yang bertarung itu kemudian meninggalkan jejak-jejak kaki yang menyebabkan terbentuknya area datar yang luas.

Tapak dalam bahasa jawa artinya tepak, bekas tapak kaki. Setelah pertarungan keduanya terbentuklah area yang berbentuk menyerupai tepak kaki, lalu masyarakat menamakan kawasan ini menjadi Watu Tapak.

Secara ilmiah kawasan batuan di area Tebing Breksi dan Watu Tapak ini merupakan batuan yang berasal dari aktivitas vulkanis Gunung Api Purba Nglanggeran. Hasil penelitian mendorong penetapan kawasan ini sebagai warisan geologis (geoheritage) melalui Keputusan Kepala Badan Geologi RI Nomor 1157.K/40/BGL/2014. 

Sejak tahun 2014 di kawasan ini tidak diperbolehkan lagi digunakan untuk aktivitas pertambangan dan tadah hujan. Masyarakat sekitar kemudian memanfaatkannya menjadi tempat wisata yang eksotis. Perbaikan dan penataan secara bertahap dilakukan hingga dibentuk kelompok pengelola wisata Tebing Breksi.

Memanfaatkan seniman lokal Yogyakarta, tebing pun dipahat membentuk karya seni berupa tokoh-tokoh pewayangan. Anak tangga dan lokasi pertunjukan seni dibangun secara bertahap. Watu Tapak sendiri merupakan kawasan paling baru yang akan dibuka untuk umum pada tanggal 19 Oktober 2018 nanti.

Komunitas Wedha Pop Art Potrait (WPAP) Jogja pun diajak untuk mempercantik Watu Tapak Camp Hill. Mereka akan membuat gambar destinasi dampingan GenPI, landmark Yogyakarta, dan ragam seni budaya. Fasilitas pendukung juga sudah dibagung berupa kamar mandi, mushola, dan homestay bersebelahan dengan Balkondes.

Muat Lagi Dari Kazebara
Muat Lebih Banyak Di Destinasi Digital