Tutup Mocosik 2019, Tulus Jadi Pamungkas

7 min read
0
80

Jogja Expo Center dipenuhi manusia. Antrean penonton perhelatan Festival Musik dan Buku MocoSik 2019 mengular hingga gerbang masuk JEC sejak pukul 17.00 WIB, minggu (25/8).

Gutonners, sebutan bagi penggemar Guyon Waton garis keras telah memenuhi hall musik Festival Musik dan Buku MocoSik 2019 sejak sore. Teriakan-teriakan histeris mulai terdengar saat Guyon Waton tampil di panggung. Sementara antrean di kasir buku dan tiket juga masih meliuk-liuk. Di dalam hall musik, penonton Guyon Waton sudah berjoget dangdut.

Baca juga: Mocosik #3, Dari Puisi Cinta Hingga Berita Kepada Kawan

Tutup Mocosik 2019, Tulus Jadi Pamungkas
Tutup Mocosik 2019, Tulus Jadi Pamungkas

Ecoutez, band kedua yang mengisi panggung MocoSik 2019. Hadir dengan beberapa tembang nostalgia milik Reza. Lagu-lagu seperti “Aku Wanita” dan “Berharap Tak Berpisah” yang identik dengan musik menghentak membuat penonton Festival Musik dan Buku MocoSik 2019 bernyanyi dan bergoyang. Di luar hall musik, antrian penonton masih mengular di kasir buku dan tiket. Maklum saja, tiket masuk ke dalam hall musik MocoSik 2019 memang membeli buku seharga Rp75.000.

Pusakata sudah berdendang. Pukul 21.00 WIB antrian mulai berkurang dan perlahan habis dalam beberapa menit. Hall musik MocoSik 2019 dipenuhi penonton hingga batas paling belakang. Mohammad Istiqomah Djamad membuat penonton yang kebanyakan perempuan menjadi baper saat menyanyikan Akad. Hall Musik MocoSik 2019 lagi-lagi bergemuruh, seluruh penonton ikut bernyanyi mengiringi lagu-lagu yang dimainkan Pusakata.

Saat Tulus naik ke atas panggung MocoSik 2019, sorak sorai penonton menyambutnya. Membawakan tembang populer seperti Gajah, Monokrom, Adu Rayu, Pamit, Teman Hidup, Jangan Cintaiku Aku Apa Adanya, Tukar Jiwa, Ruang Sendiri, dan 1000 Tahun Lamanya, Tulus berhasil menghipnotis penonton.

Di sela-sela penampilan, Tulus juga mengumumkan dalam waktu dekat dia akan tur dalam konser peringatan sewindu Tulus berkarier. Tak pelak, penikmat musik MocoSik 2019 kembali riuh. Panggung MocoSik membludak, tidak mampu menampung animo penonton, semalam. Festival Musik dan Buku MocoSik 2019 sukses digelar.

Baca juga: MocoSik 2019 Hari Pertama: Diskusi, Pameran Buku, Monolog Hingga Efek Rumah Kaca

Siang harinya, Perhelatan Festival Musik dan Buku MocoSik 2019 hari ketiga menggelar jumpa pers, mengecam tindakan pembajakkan buku. Konsorsium Penerbit Jogja (KPJ) yang berisi berbagai penerbit di Yogyakarta melaporkan praktik pembajakan buku yang selama ini berlangsung, khususnya di Yogyakarta kepada Polda DIY.

Direktur Program MocoSik, Irwan Bajang, mengatakan bahwa dalam pameran buku MocoSik, sebagai bentuk komitmen, tidak boleh ada buku bajakkan. Selain itu, MocoSik juga akan bekerjasama dengan para artis untuk mengkampanyekan anti pembajakkan buku, jelas Irwan.

Hadir pula dalam jumpa pers ini Nursam (Penerbit Ombak), Ariyanto SH (Ketua IKADIN), Agus Noor (Penulis), Angga (Lentera Dipantara), Hairuz Salim (Penerbit Gading), Hinu OS (Penggerak Konsorsium Penerbit Jogja), Fawaz Al Batawy (Penerbit Gardamaya), Irwan Bajang (Direktur Mocosik Foundation), Sadam (Penerbit Mojok), Wawan Arif (IKAPI Jogja), Gusmuh (Penulis) dan Artie Ahmad (Komunitas Penulis) turut mengecam tindakan pembajakkan buku.

Baca juga: Buku Bajakan Makin Marak, Penerbit Jogja Tempuh Jalur Hukum

Tutup Mocosik 2019, Tulus Jadi Pamungkas
Tutup Mocosik 2019, Tulus Jadi Pamungkas

Selain jumpa pers yang diadakan di Panggung MocoSik 2019 sore lalu, obrolan mengenai Pramoedya Ananta Toer di mata keluarga juga menyedot perhatian. Selain mengundang anak dan cucu-cucu Pram, turut juga diundang Sha Ine Febriyanti dan Whani Darmawan (pemeran Darsam dan Nyai Ontosoroh dalam film Bumi Manusia). Sebelum dilangsungkan obrolan Pram di mata keluarga, Ine dan Whani terlebih dulu membacakan nukilan roman Pram, Bumi Manusia.

Astuti Ananta Toer, putri Pram, mengenang sang ayah sebagai pribadi yang tegar. Ia tak mau terlihat lembek. Lain lagi cucu-cucu Pram. Ingatan kolektif mereka kepada Pram- tertumpu pada tugas-tugas yang diberikan oleh Pram. Pram selalu meminta membaca, kenang Angga salah satu cucu Pram.

Bakkar Wibowo, co-founder MocoSik, yang pernah terlibat di masa-masa awal Lentera Dipantara juga urun bicara. Kata dia, sekarang, beberapa novel-novel Pram yang lenyap dipasaran juga tengah disiapkan oleh Lentera Dipantara. Novel-novel itu, seperti Arus Balik, Perburuan, dan Sang Pemula. Tentu hal itu menggembirakan bagi dunia penerbitan di Indonesia, novel Pram bakal terbit lagi.

Selain keluarga Pram, MocoSik hari terakhir ini juga turut mengundang Okky Madasari dan juga John McGlynn yang membincang ihwal karya sastra Indonesia dipandang dari luar dan dalam. Di sesi pamungkas, David Tarigan (Irama Nusantara), Henky Herwanto (Museum Musik Indonesia), Adib Hidayat (Billboard Indonesia) dan Erie Seitawan (Art Music Today) juga urun bicara seputar pendokumentasian musik di Indonesia.

Baca juga artikel menarik lainnya pacarkecilku.

Load More Related Articles
Load More By pacarkecilku
Load More In News