Tingkatkan Kesadaran Berlalulintas, Daop 6 Laksanakan Sosialisasi Keselamatan di Perlintasan Sebidang

4 min read
0
59

Sosialisasi

Angka kecelakan kendaraan bermotor dengan kereta api terbilang masih tinggi, tak terkecuali di wilayah PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Opersi 6 Yogyakarta. Untuk mengurangi angka tersebut, pihak perseroan mengupayakan berbagai pencegahan salah satunya dengan melakukan sosialisasi agar tidak menerobos palang kereta api ketika sudah ditutup.

Kegiatan yang terselenggara atas kerjasama PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan komunitas pecinta kereta api bersama kepolisian dan Dishub kota Surakarta ini dilakukan pada hari Kamis (24/2) di pintu perlintasan Pasar Nongko, Surakarta. Selain melakukan pembentangan spanduk himbauan juga diadakan pembagian healty kit kepada para pengguna jalan yang di dalamnya termasuk juga stiker himbauan.

“Untuk meningkatkan keselamatan di perlintasan sebidang diperlukan partisipasi semua pihak sesuai kewenangan yang sudah diatur dalam PM 94 Tahun 2018 mengenai Peningkatan Keselamatan di Perlintasan Sebidang” demikian disampaikan Manajer Humas KAI Daop 6, Supriyanto pada kegiatan Sosialisasi Keselamatan di perlintasan sebidang Pasar Nongko, Kota Solo.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 6 Yogyakarta mencatat pada tahun 2021 telah terjadi 9 kecelakaan di perlintasan sebidang kereta api yaitu tertabraknya kereta oleh kendaraan yang menerobos perlintasan sebidang. Selain itu, menurut Supriyanto, ada pula 7 kasus kendaraan menabrak palang pintu kereta yang sudah ditutup. Hal tersebut menunjukkan masih rendahnya kedisiplinan masyarakat dalam berlalu lintas di perlintasan sebidang kereta api.

“Kita semua berharap tidak ada lagi kejadian kecelakaan di perlintasan sebidang. Untuk itu, kami selalu mengimbau kepada seluruh pengguna jalan untuk bersama-sama menaati rambu-rambu yang ada serta lebih waspada saat akan melintasi perlintasan sebidang kereta api,” tambah Supriyanto.

Sesuai UU Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian Pasal 124 menyatakan pada perpotongan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pemakai jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api.

Isi dari UU 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pasal 114 menyebutkan bahwa pada perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pengemudi kendaraan wajib:
a. Berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu kereta api sudah mulai ditutup, dan/atau ada isyarat lain;
b. Mendahulukan kereta api; dan
c. Memberikan hak utama kepada kendaraan yang lebih dahulu melintas rel.

Sedangkan pada PM 36 Tahun 2011 tentang Perpotongan Dan/Atau Persinggungan Antara Jalur Kereta Api dengan Bangunan Lain pada Pasal 6 ayat 1 menyebutkan bahwa pada perlintasan sebidang, kereta api mendapat prioritas berlalu lintas.

Supriyanto mengatakan kecelakaan di perlintasan sebidang tidak hanya merugikan pengguna jalan tapi juga merugikan KAI dari segi biaya perawatan kerusakan sarana dan menjadi penyebab keterlambatan penumpang sampai di tujuan.

“Sekali lagi kami mengimbau masyarakat agar mematuhi seluruh rambu-rambu lalu lintas yang ada, berhenti sebelum melintas, serta tengok kanan dan kiri terlebih dahulu. Hal ini harus menjadi budaya pada diri masing-masing pengguna jalan demi keselamatan perjalanan kereta api dan keselamatan para pengguna jalan itu sendiri,” pungkas Supriyanto.

Load More Related Articles
Load More By Dewangga Liem
Load More In Event