Home Event Tiga Negara Tiga Teknik Mewarnai Kain Batik

Tiga Negara Tiga Teknik Mewarnai Kain Batik

6 menit waktu baca
20

Pewarnaan batik dengan bahan alami merupakan hal yang umum sebelum menjamurnya pewarna sintetis. Tiap-tiap daerah maupun negara memiliki cara-cara sendiri atau bahan tersendiri. Beberapa negara tersebut adalah Indonesia, Thailand, dan Taiwan. Pada seminar pewarna alami batik yang diadakan di Desa Giriloyo, Kecamatan Imogiri, diundang 3 narasumber dari tiga negara tersebut.

Diskusi di pendopo Kampung Batik Giriloyo. Terlihat di depan dari kiri terdapat Prach Niyomkar, Chu Tzu Lo, Edric Ong, Wahyudi Aji, dan Michael. (Foto milik Hardy Wiratama)

Selain berdiskusi, peserta mengutarakan suka dan duka dari acara tersebut. Moderator diskusi menarik ini adalah Edric Ong yang merupakan Presiden dari Handicraft Promotion and Development Association (AHPADA). Hadir juga Michael, pelukis yang menggunakan teknik batik dengan kuas dari Malaysia. Diskusi ini di laksanakan di Pendopo Kampung Batik Giriloyo. Peserta terlihat antusias mengikuti diskusi ini.

Pewarnaan kain dengan warna indigo (Foto milik Hardy Wiratama).

Narasumber pertama bernama Prach Niyomkar atau biasa diapanggil Mann berasal dari Thailand. Tempat mereka praktik mewarnai batik di seberang jalan dari Pendopo Batik Giriloyo, yaitu di Batik Tulis Sekar Arum.

Selain mengajarkan teknik mewarnai kain secara natural, ia juga mengajarkan beberapa teknik yang dianggap unik. Peserta diajarkan menggunakan pembersih piring untuk menghilangkan malam dari kain. Menurut peserta, teknik ini lebih cepat daripada teknik menghilangkan malam atau nglorod secara tradisional. Mann juga mengajarkan mencetak motif di tekstil dengan tumbuhan-tumbuhan.

Mann mengajarkan mewarnai kain berwarna indigofera dan mereduksinya dengan pisang. Hal ini cukup unik karena biasanya secara tradisional di Jawa mereduksi indigofera menggunakan gula jawa.

Melihat hasil mewarnai kain (Foto milik Hardy Wiratama).

Jalan sedikit ke arah barat Pendopo Imogiri, kita sampai di Batik Tulis Sri Kuncoro. Chu Tzu Lo, narasumber yang berasal dari Taiwan mempraktikan ilmunya kepada para peserta di tempat tersebut.

Chu Tzu Lo mengajarkan mewarnai kain dengan indigo dan membatik khas Taiwan. Dia menggunakan kuas untuk membatik kain. Kuas yang digunakan pun, kuas yang terbuat dari bulu hewan. Ini dikarenakan bulu hewan lebih tahan panas dari malam.

Teknik lain yang diajarkan adalah membuat motif dengan nanas maupun umbi-umbian. Nanas dipotong setengah, bagian bawahnya yang bertekstur di masukkan ke pewarna lalu ditaruh di atas kain.

Menjemur kain yang sudah diwarnai (Foto milik Hardy Wiratama).

Kelompok terakhir merupakan kelompok yang tempat prakteknya paling jauh. Sekitar 1 kilometer dari Pendopo Kampung Batik Giriloyo. Mr. Edric Ong, moderator diskusi ini, menyebut mereka sebagai yang ada di atas bukit.

Narasumber di kelompok ini adalah Wahyudi Aji yang berasal dari Jombang, Jawa Timur, Indonesia. Oleh Wahyudi, peserta-peserta diajarkan mewarnai kain dengan kearifan lokal Indonesia. Ia mengajarkan mewarnai kain dengan daun gambir untuk warna kuning, secang untuk warna merah dan indigo dengan indigofera.

Mengapa mewarnai dengan bahan-bahan alami?

Selain karena penggunaan pewarna alami merupakan warna yang digunakan oleh orang-orang sebelum menggunakan pewarna sintetis, pewarna alami memiliki beberapa keuntungan. Salah satunya adalah limbah pewarna alami tidak mencemari alam maupun menjadi polusi yang mengganggu tetangga. Selain itu, limbah-limbah tersebut dapat didaur ulang sebagai pupuk.

Menghilangkan malam dari kain (Foto milik Hardy Wiratama).

Edric Ong mengutarakan bahwa yang terpenting dari batik di Yogyakarta adalah teknik yang meliputi cara pewarnaan. Cara pewarnaan tersebut menggunakan warna-warna dari pewarna alami yaitu yang dilakukan pada seminar ini.

Seminar “Natural Coloring For The Environment Sustainability” hari ke-2 ini merupakan bagian dari rangkaian acara Jogja International Batik Biennale 2018 yang berlangsung 2 – 6 Oktober 2018 di Daerah Istimewa Yogyakarta. Jogja sendiri terpilih menjadi pusat dari event 2 tahunan ini sejak dinobatkan menjadi “Kota Batik Dunia” oleh World Craft Council (WCC) tanggal 18 Oktober 2014.

WWC adalah lembaga internasional yang berafiliasi dengan UNESCO dan berfokus pada apresiasi, kegiatan, serta permasalahan komunitas kriya di dunia. Harapannya dengan hadirnya event JIBB 2018, transfer ilmu antargenerasi lintas budaya dan lintas negara semakin memperkaya khazanah batik sebagai “Warisan Budaya Tak Benda”.

Muat Lagi Dari Muhammad Faiz
Muat Lebih Banyak Di Event