Tidak Ada Pasar Malam di Sekaten Jogja

6 min read
0
173

genpijogja.com – Perhelatan Hajad Dalem Sekaten akan digelar Kraton Jogja pada tanggal 6 hingga 12 Mulud berdasarkan Kalender Jawa Sultan Agungan.

Upacara yang terbuka untuk umum ini terdiri dari Miyos Gangsa yang akan dilaksanakan pada Minggu (3/11) pukul 23.00 WIB. Sedangkan Kondur Gangsa akan dilaksanakan pada Sabtu (9/11) pukul 23.00 WIB. Pagi hari berikutnya, tepat pada tanggal lahir Nabi Muhammad SAW dalam Tahun Jawa, Kraton Jogja menghelat Hajad Dalem Garebeg Mulud pada Minggu (10/11) mulai pukul 07.00 WIB.

Tidak Ada Pasar Malam di Sekaten Jogja | Fotografer Jalu Tajam
Tidak Ada Pasar Malam di Sekaten Jogja | Fotografer Jalu Tajam

“Tahun ini tidak ada pasar malam”, ujar GKR Bendara kepada rekan media dalam acara jumpa pers Pameran Sekaten di Bale Raos Restaurant, Kamis (03/10) sore.

KPH Notonegoro yang hadir dalam acara jumpa media juga menyampaikan bahwa pasar malam bukan bagian dari Sekaten.

“Kita coba mengembalikan ke semangat Sekaten awal. Setiap kali habis di pakai, kondisi Alun-Alun tidak karu-karuan. Kotor dan sebagainya”, jelas KPH Notonegoro. “Ini Dawuh Dalem. Supaya kondisi alun-alun bisa bagus, jangan tiap tahun pasar malam. Jika tahun depan kondisi belum pulih, bisa saja tidak ada lagi”.

Seperti diketahui perayaan Sekaten setiap tahunnya dimeriahkan oleh pasar malam di Alun-Alun. Mulai dari wahana permainan, awul-awul hingga kuliner membuat pasar malam Sekaten  memiliki daya tarik tersendiri. Di sisi lain, pasar malam Sekaten memberi dampak sosial seperti Alun-Alun yang rusak, jalanan macet, harga parkir yang terlalu mahal dan bisingnya suara.

“Orang-orang sudah melupakan keaslian dari Garebeg Sekaten. Mereka datang untuk pasar malam”, ungkap GKR Bendara. “Intinya kita ingin mengembalikan spirit dan makna Sekaten itu sendiri”.

KPH Notonegoro menjelaskan awalnya Sekaten digunakan untuk Syiar Islam. “Terkadang disisipkan pesan-pesan semangat untuk melawan penjajah. Dulu itu ada ceritanya, Belanda mengadakan pasar malam untuk memecah perhatian rakyat untuk tidak ke sana (Sekaten)”.

Prescon Pameran Sekaten Jogja 2019
Prescon Pameran Sekaten Jogja 2019

Sekaten sendiri dipercayai sudah ada sejak awal abad XVI pada masa pemerintahan Kerajaan Demak. Sekaten terus menerus dilestarikan oleh Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa Tengah seperti Pajang dan Mataram, baik saat pusat kerajaan berada di Kerta, Pleret, Kartasura, hingga Surakarta dan Yogyakarta.

Konon, pada masa Kerajaan Demak, para Wali menggunakan momentum kelahiran Nabi Muhammad yang jatuh pada Bulan Mulud (Tahun Jawa) untuk berdakwah dengan pertama-tama membunyikan Gamelan Sekati. Masyarakat yang tertarik dengan suara gamelan akan berkumpul dan kemudian mendengarkan dakwah para Wali dalam menyebarkan agama Islam.

Ada yang memaknai Sekaten berasal dari kata ‘syahadatain’ yang berarti dua kalimat syahadat. Sekaten juga terkait erat dengan gamelan yang diberi nama Kyai Sekati. “Aslinya hiburan Sekaten adalah Gamelan Sekati”, terang KPH Notonegoro saat ditanya apa pengganti dari pasar malam Sekaten.

Baca juga: Kraton Jogja Gelar Pameran Sekaten 2019, Catat Tanggal dan Jadwalnya
Pameran Sekaten 2019
Pameran Sekaten 2019

Tahun ini, bersamaan dengan pelaksanaan Hajad Dalem Sekaten, Kraton Jogja akan menggelar pameran budaya yang bertujuan untuk semakin menguatkan akar tradisi.

Pameran Sekaten akan berlangsung pada tanggal 1 – 9 November 2019 di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran dan Kagungan Dalem Kompleks Sitihinggil Kraton Jogja.

Pameran akan dibuka untuk umum dengan jam kunjung mulai pukul 09.00 hingga pukul 21.00 WIB. Tiket masuk ke Pameran Sekaten dapat diperoleh di loket pembelian yang berada di sebelah barat Bangsal Pagelaran Kraton Jogja.

Tema besar yang diangkat dalam Pameran Sekaten berkaitan dengan “Sri Sultan Hamengku Buwono I”. Oleh karena itu, koleksi yang akan dipamerkan dan muatan acara pameran akan memiliki sangkut paut dengan pendiri Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat tersebut.

“Kami berusaha mengembalikan semangat agar tidak tertutupi. Mensyiarkan perjuangan, dakwah, petuah yang sudah dilakukan ratusan tahun di Masjid Agung”, pungkas KPH Notonegoro.

Baca juga artikel terkait Sekaten atau tulisan menarik lainnya pacarkecilku.
Load More Related Articles
Load More By pacarkecilku
Load More In News