The Hu Mongolia dan Navicula Warnai Panggung JogjaROCKarta #4

5 min read
0
89

genpijogja.com – JogjaROCKarta #4 sukses digelar di Stadion Kridosono pada Minggu malam (01/03). Sekitar 10.000 tiket ludes terjual dengan tata panggung terbesar dalam rekam jejak penyelenggaraan JogjaROCKarta.

Sejumlah penampil seperti Death Vomit, Kelompok Penerbang Roket, Powerslaves, Navicula, Godbless, The Hu, serta dua bintang tamu utama Whitesnake dan Scorpions menghibur penonton sejak sore hingga malam.

Navicula di panggung JogjaROCKarta #4
Navicula di panggung JogjaROCKarta #4

Navicula, grup musik rock asal Ubud, Bali ini pertama kalinya unjuk gigi di JogjaROCKarta #4. Membawakan sejumlah lagu seperti “Mafia Hukum”, “Busur Hujan”, dan “Metropolutan”, Navicula mengajak penonton untuk lebih kritis terhadap masalah sosial di sekitar.

Seperti lagu “Mafia Hukum” yang pada helatan JogjaROCKarta #4, didedikasikan Navicula untuk Novel Baswedan. Kasus Novel terus bergulir, tanpa adanya kejelasan dan hasil akhir.

“Kritik di negara demokrasi sangat dibutuhkan. Justru yang berbahaya adalah ketika kritik dibungkam”, ujar Navicula.

Getaran sound system, headbanging seirama, dan hentakan mantap dari Navicula mampu mengajak penonton menikmati musik sambil mengkritisi permasalahan sosial masyarakat. Menyebut diri sebagai seniman aktivis, Navicula terus bertekad untuk menyuarakan aspirasi lewat musik rock.

“Jangan berhenti berpikir kritis, karena setiap generasi punya revolusinya sendiri. Generasi muda dekat dengan musik rock, jangan menjadi apatis, apalagi reaktif. Pasif, tetapi ketika ada masalah, jadi yang paling ribut. Jadilah proaktif, berkolaborasi dengan semuanya untuk masa depan lebih baik”, tegas Navicula.

Penampilan The Hu dari Mongolia di panggung JogjaROCKarta #4
Penampilan The Hu dari Mongolia di panggung JogjaROCKarta #4

Menjelang malam, The Hu, grup musik rock asal Mongolia, menyihir penonton JogjaROCKarta #4 dengan alunan musik asli Mongol. Tampil sangar dengan kostum bak prajurit Mongol, The Hu seakan mengajak penonton ke padang tandus dan pegunungan terjal Mongol. Meski berbahasa asing, pesan dari The Hu untuk terus menjaga warisan leluhur lewat lagu-lagunya, tersampaikan ke penonton.

The Hu menggunakan alat musik Morin Khuur (biola kepala kuda) dan Tovshuur (gitar Mongolia), bahkan menyertakan bunyi-bunyian otentik budaya Mongol ke dalam karya dan tampilannya.

Membawakan sejumlah lagu yang terdengar seperti drama perang, The Hu berhasil menunjukkan bahwa seni budaya bisa sejalan dengan musik, khususnya musik rock Hunnu, aliran musik The Hu.

“Kami sangat menghormati leluhur kami. Kami memainkan lagu-lagu tentang menjaga alam, menghormati perempuan, dan menghargai sejarah kakek nenek moyang kami. Kami percaya setiap orang memiliki peran untuk berbuat baik dan berani membela ketidakadilan di dunia ini, musik kami ada untuk menguatkan itu”, jelas The Hu.

Meski diguyur hujan saat sore, JogjaROCKarta tetap dipadati penikmat musik rock dan metalhead. Tanah becek dan tampias hujan di panggung tak menyurutkan semangat para penampil dan penonton untuk memeriahkan JogjaROCKarta.

Death Vomit, grup musik rock asal Jogja itu batal tampil akibat cuaca buruk. Meskipun begitu, rangkaian acara JogjaROCKarta #4 berlangsung lancar hingga lagu terakhir. Panggung langsung diambil alih oleh Kelompok Penerbang Roket dan Navicula sebagai pembuka.

Kerumunan penonton JogjaROCKarta #4
Kerumunan penonton JogjaROCKarta #4

Setiap grup musik memberikan energi tersendiri kepada penonton. God Bless dengan lagu-lagu legendarisnya, dan Powerslaves dengan basis penggemarnya yang masif. The Hu tampil beda dengan kostum baju zirah dan Tovshuur andalannya.

Penampilan headliner JogjaROCKarta #4, Whitesnake dan Scorpions, menyedot perhatian pengunjung dan berhasil menggerakkan massa di Stadion Kridosono untuk bernyanyi bersama.

Kedatangan Whitesnake dan Scorpions di Indonesia, adalah kali pertama sejak Scorpions tampil di Jakarta dan Bali pada tahun 2004. Sedangkan Whitesnake mencatat sejarah dalam kancah musik rock Indonesia dengan tampil perdana di JogjaROCKarta.

Sang vokalis Whitesnake, David Coverdale pun sebelumnya pernah datang ke Indonesia pada tahun 1975 saat dirinya masih tergabung dalam Deep Purple.

Load More Related Articles
Load More By hsnfarra
Load More In News