Soto Sewu Mbah Marto, Murah Tapi Tidak Murahan

6 min read
0
131

Tahukah kamu? Pada bulan April 2018 lalu, Kementrian Pariwisata (Kemenpar) menetapkan Soto sebagai makanan nasional Indonesia. Alasan dibalik penetapan ini karena kuliner soto mudah dijumpai di berbagai daerah di Indonesia.

Tidak seperti kuliner khas negara lain yang biasanya hanya terdiri dari 1 (satu) jenis, kuliner Indonesia khususnya Soto memiliki aneka jenis sesuai komposisi bahan dan bumbu masing-masing.

Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa Indonesia memiliki 72 jenis soto. Namun, sumber lain menemukan ada 75 ragam soto di Indonesia. Sabhrina Gita Aninta dalam artikelnya di Beritatagar.id, mengemukakan bahwa mengelompokkan jenis soto di Indonesia memang bukan hal yang mudah

Bernostalgia di Soto Sewu Mbah Marto yang Murah Tapi Tidak Murahan
Bernostalgia di Soto Sewu Mbah Marto yang Murah Tapi Tidak Murahan.

Hal ini disebabkan karena resep tradisional yang terus berkembang menjadi resep baru, ditambah lagi dengan selera masyarakat yang berbeda dan terus berubah, serta kesesuaian dengan kondisi ekonomi masyarakat sekitar.

Hampir setiap daerah memiliki soto khasnya masing-masing. Soto suatu daerah biasanya tidak akan sama dengan daerah lain, entah itu berbeda dari segi penyajiannya, bumbu-bumbu yang digunakan, sampai komposisi dari soto itu sendiri.

Meski begitu, ragam soto yang muncul tidak hanya dibedakan dari masing-masing daerah asalnya. Bisa jadi, 1 (satu) daerah masih memiliki banyak jenis resep soto versi masing-masing. Termasuk salah satu Kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, Bantul.

Sebuah warung soto sederhana yang terletak di dekat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini adalah salah satu soto favoritku di Bantul. Soto Sewu Kasihan, demikian nama yang disematkan pada warung yang berdiri sejak tahun 1993 ini.

Sesuai namanya, dahulu warung ini menjajakan kuliner soto dengan harga Rp. 1000 dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga orang-orang sekitar terbiasa menyebutnya “Soto Sewu” . Sewu dalam bahasa Jawa berarti Seribu. Meskipun harga soto sewu saat ini sudah naik menjadi Rp. 5000,  orang-orang masih setia berlangganan di warung Soto milik Mbah Maroto Ngatinah ini karena murah dan pas di lidah.

Tidak seperti soto Bantul lainnya, Soto Sewu memiliki rasa unik yang dihasilkan dari kombinasi antara Soto Bantul dan Soto khas Jawa Timur. Hal yang membedakannya, Soto Sewu menggunakan taburan koya yang dibuat dari parutan kelapa seperti jenis soto asal Jawa Timur pada umumnya. Selain itu, bumbu yang dipakai dalam kuah soto ini rasanya mirip dengan Soto Trenggalek.

Namun, secara penyajiannya, soto sewu sama seperti jenis soto Bantul lainnya. Nasinya diletakkan paling bawah, kemudian di atasnya ditambahkan dengan sayur-sayuran seperti kubis, tauge, daun seledri, dan suwiran daging ayam, serta tidak lupa ditaburi bawang goreng untuk menambahkan rasa gurih. Kuah sotonya dimasak bersama daun loncang dan tomat, sehingga ada rasa segar ketika mencicipi kuahnya.

Aku jadi ingat, dulu, keluargaku sering ke warung ini untuk sarapan bersama. Kami selalu menggelar tikar di bagian halaman belakang warung. Selain sejuk, di sana kami juga dapat leluasa bercengkrama.

Namun sayang, terakhir kali aku berkunjung ke warung soto ini, halaman yang biasa digunakan para pelanggan untuk menggelar tikar itu sudah tidak ada karena dibangun warung baru. Sedikit kecewa, namun tentu saja harus menerima karena segalanya pasti akan mengalami perubahan, entah itu dalam waktu yang lama ataupun cepat.

Saat ini,tempat makan para pelanggan hanya ada di dalam warung. Sehingga, disarankan untuk datang di jam-jam yang tidak sibuk kalau ingin makan di tempat.

Di warung ini, para pelanggan dapat memilih lauk dalam menyantap Soto Sewu ini, diantaranya ada gorengan yang dihargai Rp 500 tiap bijinya, adapula mendoan, tempe goreng, dan kepala ayam. Soto Sewu buka setiap hari mulai pukul 06.00 sampai pukul 14.00, atau ketika soto sudah habis. Jadi, tidak perlu khawatir kalau tiba-tiba ingin soto sebagai sarapan maupun makan siang.

Kalau aku lebih suka makan soto saat sarapan, kalau kamu?

Load More Related Articles
Load More By Dzatarisa Almas
Load More In Kuliner