Simposium Kraton Jogja, Kassian Cephas Hingga Gaya Berpakaian Soekarno

6 min read
0
38

genpijogja.com – Simposium Internasional Budaya Jawa: Busana dan Peradaban Keraton Yogyakarta hari kedua berlangsung meriah, Selasa (10/03) di Kasultanan Ballroom Royal Ambarrukmo Hotel.

Simposium Internasional yang diselengggarakan oleh Keraton Yogyakarta tahun 2020 kali ini mengangkat tema tentang busana dan peradaban.

Hari kedua gelaran Simposium Internasional, terdapat salah seorang pembicara yang bagi penulis, sangat menarik untuk menuliskannya. Beliau adalah Dr. Jennifer Lindsay yang merupakan honorary associate professor dari The Australian National University. Dalam simposium ini, Mbak Jeni, sapaan akrab beliau, membahas gamelan dan busana pentasnya.

r. Jennifer Lindsay dari The Australian National University salah seorang pembicara di Simposium Internasional Kraton Jogja

Mbak Jeni mengatakan, pada masa penjajahan golongan masyarakat ada empat, yaitu: Eropa, Indo (keturunan Eropa, China (dalam perkembangannya nanti ada ras Arab dan lainnya), serta golongan inlander atau pribumi.

Garis perbedaan imajiner yang dikhayalkan sebagai “ras”, sebetulnya hanyalah dicetak dari pakaian. Peraturan ketika itu masih sangat ketat, bisa dikatakan untuk menjaga jarak antara orang Eropa dengan inlander atau kasta lainnya.

Mbak Jeni membantu audiens Simposium Internasional untuk membayangkan masa itu dengan menampilkan sebuah foto kelas di sekolah kedokteran (STOVIA) pada tahun 1899. Detail yang disampaikan oleh mbak Jeni bahwa orang pribumi wajib menggunakan pakaian ala Jawa dan tidak diperbolehkan menggunakan sepatu. Sedangkan, instrukturnya yang merupakan orang Belanda diperbolehkan menggunakan pakaian Eropa dan bersepatu.

Tentu saja, seiring tahun berganti, peraturan tentang berpakaian juga mengalami perubahan. Orang Jawa (bangsawan) diperbolehkan menggunakan pakaian Eropa. Meski diantara orang-orang Jawa sendiri juga terdapat perbedaan dalam hal berpakaian. Hal ini dapat digunakan sebagai pembeda status atau kasta antara sesama orang Jawa.

Para penabuh gamelan tampak tanpa baju.

Pada tahun 1888 (masa pemerintahan Sri Sultan HB VII awal), Kassian Cephas membuat karya foto yang menampilkan seperangkat alat musik gamelan lengkap dengan para penabuhnya (Konco Wiyoko).

Dalam foto karya Kassian Cephas itu, tampak para penabuh bertelanjang dada. Hal ini menandakan bahwa Konco Wiyoko ketika itu masih dianggap berstatus rendah. Selain cara berbusana Konco Wiyoko, dalam foto tersebut juga bisa diperhatikan bahwa tidak ada satupun bangsawan Keraton Yogyakarta yang menjadi Konco Wiyoko (penabuh gamelan). Meski pernyataan ini digarisbawahi oleh Dr. Jennifer Lindsay agar dilakukan riset dan penelitian lebih lanjut.

Mbak Jane, yang diawal paparannya mengaku sebagai orang Bantul ini, juga menampilkan foto dokumentasi milik Keraton Yogyakarta terkait para Konco Wiyoko di tahun 1930-an yang sudah mengalami perubahan kostum pentas. Di era tersebut, Konco Wiyoko sudah menggunakan baju peranakan.

Sebuah pertanyaan muncul, mengapa pada era 1930-an para nasionalis enggan menggunakan busana lokal (Jawa/Nusantara)?

Hal ini terjadi karena menurut mereka sistem Jawa maupun sistem kolonial dianggap sebagai belenggu, ujar mbak Jane. Mbak Jane mencontohkan Ir. Soekarno yang kelak menjadi presiden pertama Indonesia.

Soekarno mengenakan setelan celana panjang dan kemeja lengkap dengan jas. Gaya berpakaian ala Soekarno ini, disebut mbak Jane sebagai busana yang mencerminkan “Eropa banget”. Meski begitu, Soekarno tetap menunjukkan ciri khas yang diangap Indonesia “banget”, yaitu Soekarno memakai peci sebagai penutup kepalanya.

Konser lulusan pertama Konservatori Karawitan Indonesia pada 1953 di Jakarta

Masa-masa setelah kemerdekaan, terjadi pergeseran besar gaya berpakaian para penabuh gamelan Keraton Yogyakarta. Hal ini diawali dengan dibukanya Konservatori Karawitan Indonesia (KOKAR) di Surakarta, yang dibuka pada tanggal 27 Agustus 1950. Lulusan pertama KOKAR pada tahun 1953 menggelar konser mereka di Jakarta.

Konser gamelan ini menampilkan kostum penabuh gamelan dengan menggunakan pakaian ala Eropa. Mereka mengenakan kemeja, dasi kupu-kupu dan peci.

Penataan para penabuh gamelan ini juga berbeda, mereka menempati panggung bertingkat supaya para penonton dapat menyaksikan seluruh penabuh  gamelan. Para penabuh gamelan tidak lagi duduk di lantai seperti era sebelumnya.

Seiring perkembangan zaman, gamelan tidak hanya dimainkan di dalam lingkungan Keraton Yogyakarta saja. Kini musik gamelan bisa dimainkan di seluruh penjuru nusantara bahkan hingga luar Indonesia.

Selain itu, pakaian pentas pemain gamelan dapat disesuaikan dengan zaman. Cara berkostum saat ini secara awam tidak terikat lagi oleh berbagai macam peraturan seperti zaman penjajahan dahulu. Kini pemain gamelan dari Eropa pun jamak menggunakan pakaian tradisional Jawa.

Load More Related Articles
Load More By Dewangga Liem
Load More In News