Simphony Kerontjong Moeda Kenalkan Destinasi Wisata dengan Keroncong Plesiran

7 min read
0
611

Bagiku, orkestra itu identik dengan Adi MS. Hanya untuk orang tua, panggung megah, tiket mahal, alat musik yang beragam. Namun, sejak aku kenal dengan Simphony Kerontjong Moeda (SKM) orkestra bagiku pertunjukan musik yang kekinian.

Sekiranya Maret 2018, aku bertemu dengan sekelompok pemuda bernama Ari Kantjil, Nino Eka Saputra, dan Radyan Gandi. Saat itu aku bertemu sebagai wakil dari Genpi Jogja. Kami bertemu karena sebuah hajat yang sedang mereka garap. Sebuah konsep pertunjukan orkestra musik keroncong yang berada di kawasan destinasi wisata. Uniknya, orkestra musik keroncong ini disuguhkan oleh kawula muda.

Mereka mengkonsepnya menjadi keroncong plesiran. Sebuah konsep menggemakan musik keroncong di destinasi wisata agar diterima oleh kawula muda. Pasar Kakilangit, Pinussari, dan Lintang Sewu terpilih untuk menyelenggarakan Keroncong Plesiran, 21 April 2018. Sejak itu, Ari Kantjil mengaku kebanjiran order untuk orkestranya. Sayangnya, orang lebih mengenal Keroncong Plesiran dari pada Simphony Kerontjong Moeda.

“Sejak terselenggaranya Keroncong Plesiran. Kami sering di kontak untuk manggung di daerah lain. Tapi, mereka menyebut kami keroncong plesiran. Tapi tidak mengapa, yang penting keroncong sudah tertanam di benak mereka,” tutur Ari kantjil, salah satu penggagas SKM.

Kalian harus tahu, Simphony Kerontjong Moeda (SKM) diciptakan untuk memberi tanda akan hadirnya musik keroncong progresif yang dibawakan oleh musisi muda. Pakem instrumen keroncong dipadukan dengan musik orkestra, terbentuklah Orkestra Keroncong.

Gerakan ini lahir dari inisiatif beberapa anak muda yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan musik keroncong. Yogyakarta Simphony Orkestra merupakan nama grup orkestranya. Jadi tahu kan, sekarang. Lalu siapa Ari Kantjil, Nino Eka Saputra, dan Radyan Gandi? Mereka adalah bagian dari beberapa anak muda yang memiliki inisiatif itu.

Keroncong Plesiran
Keroncong Plesiran

Simphony Kerontjong Moeda diselenggarakan pertama kali pada 29 Mei 2010 di Auditorium SMM, kemudian secara konsisten dalam tujuan nguri-nguri keroncong. SKM diadakan setiap tahun hingga kini berumur sewindu atau 8 tahun. “Kami itu satu angkatan sekolah. Pokoknya, setahun setelah lulus, kami melakukan partunjukan pertama di SMM,” Nino berusaha mengingat-ingat.

Saat ditanya susah dan senang membesarkan Simphony Kerontjong Moeda, ada kala mereka tidak melakukan pertunjukan pada tahun 2014. Tidak ada informasi lebih lanjut. Yang pasti, tahun 2015 hingga kini SKM berusaha terus menjaga konsep pertunjukannya dengan tetap membawakan lagu-lagu keroncong asli seperti langgam keroncong, stambul dan juga lagu-lagu pop yang sedang trend kemudian diaransemen kembali bernuansa keroncong.

“Kami berharap bahwa dengan adanya usaha dalam melestarikan keroncong yang dimulai oleh musisi muda, musik keroncong pantang mengalami kekeringan,” harap Ari Kantjil.

Sukses menyelenggarakan Keroncong Plesiran, apakah SKM akan istikomah menggemakan Musik Keroncong di kawasan destinasi wisata?

“Keroncong bisa dinikmati kapan saja dan di mana saja. Jika tren anak muda masa kini adalah mengunjungi tempat wisata, jadi, kenapa tidak?” jawab Gandi. Sebagai langkah awal, keroncong plesiran dirasa cukup sukses menggaet kawula muda.

Bahkan, Simphony Kerontjong Moeda mengaku bahwa demi regenerasi, mereka kini telah menelurkan 8 grup musik keroncong dan melakukan pendampingan kepada anak-anak di Kulon Progo melalui Pusdiklat Keroncong Anak Kulon Progo.

Tak ingin besar sendiri, SKM selalu bersinergi dengan berbagai pihak dalam menyebarkan virus keroncong. Pada 31 Juli 2018, salah satu grup SKM, yaitu Keroncong Sorlem kembali manggung di Pasar Kakilangit, Mangunan.

Paling mencengangkan bagiku, Plaza Ngasem berhasil dipadati kawula muda pada 14 Agustus 2018 lalu. Tepat Simphony Kerontjong Moeda berusia sewindu.

Turut memeriahkan, Heru Shaggydog dengan lagu Ditato dan Sayidan, Om Wawes dengan lagu Keno Godho, Bagus Guyonwaton dengan lagu Korban Janji, Paksi Raras Alit dengan lagu Himalaya dan Monocrom, Oky Kumalasari dengan lagu Sinaran dan Can’t Take My Eyes, Alit Jabang Bayi dengan lagu Film Favorit, Pandhu Restu Aji dan Indah Yulita Fatmasari membawakan lagu keroncong asli dan juga menghadirkan dua grup keroncong yaitu Pusdiklat Keroncong Anak Kulon Progo dan Keroncong GGS. Dipandu oleh dua MC yaitu Alit Jabangbayi dan Ofixokfix. Kamu harus tahu, perayaan itu dibuka untuk umum dan gratis.

Setelah mengikuti perjalanan Simphony Kerontjong Moeda beberapa bulan ini. Saya percaya, sebuah orkestra tak selalu mahal dan musik kerontjong wajib dikenal anak muda.

Tulisan ini tak pernah bisa menyajikan lebih banyak lagi tentang karya-karya mereka. Kalian harus menyaksikan sendiri kehebatan mereka di atas panggung dan jangan lupa follow akun instagramnya di  Keroncongplesiran  

Load More Related Articles
Load More By Elizhabet Elzha
Load More In Community