Serba-Serbi Cokelat di Museum Cokelat Monggo

10 min read
0
337

genpijogja.com – Kalau kalian teringat kata cokelat apa sih yang terlintas dibenak kalian? Pasti banyak yang berpikir manis, pahit, buah kakao, milk chocolate, dark chocolate, white chocolate, coklat batangan, minuman coklat dan masih banyak lagi.

Tahukah kalian bahwa coklat yang biasa kita nikmati itu sebenarnya melalui proses panjang hingga bisa dapat dinikmati. Tak hanya itu, ternyata si coklat yang berasal dari tanaman kakao ini memiliki sejarah panjang dan beragam jenisnya.

museum coklat monggo

Museum Cokelat Monggo hadir di Jogja buat kalian para pecinta cokelat. Museum ini didirikan oleh Thierry Detournay yang merupakan pemilik Cokelat Monggo, salah satu coklat asli Jogja yang sudah terkenal.

Museum ini didirikan pada Januari 2017 dan beralamatkan di Jl. Tugu Gentong RT 03 Sribitan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Museum Cokelat Monggo bisa kalian kunjungi mulai pukul 09.00 hingga 17.00 untuk hari Senin sampai dengan Kamis dan khusus di hari Sabtu dan Minggu, Museum Coklat Monggo akan tutup pada pukul 19.00.

Awal aku tahu Museum Cokelat Monggo ini karena keisenganku yang ingin jalan-jalan di Kotagede. Teringat bahwa disana ada  Official Store Cokelat Monggo dan bermaksud sekalian mampir untuk membeli sebatang cokelat.

Iseng-iseng buka alamatnya, aku menemukan bahwa di daerah Bantul terdapat Museum Cokelat Monggo. Aku berpikir kenapa tidak sekalian berkunjung ke museumnya saja siapa tahu lebih menarik. Akhirnya kulajukan motorku ke Museum Cokelat Monggo.

museum coklat monggo

Tiba di parkiran Museum Cokelat Monggo, aku langsung melangkahkan kakiku ke dalam museum. Walapun mata ini sempat menangkap ada dua bangunan yang menarik tapi hati ini sepertinya belum mau menuju ke sana karena sudah tak sabar ingin menjelajah di dalam museum.

Sebelum menjelajah ruangan demi ruangan, aku menyempatkan mengambil brosur sebagai panduan untuk menjelajah. Sedikit membaca sekilas, mataku terpaku pada tulisan “Eksplorasi Rasa Kakao” yang tampaknya menarik.

Hanya dengan biaya Rp 50.000 aku bisa mencicipi kelezetan cokelat yang otentik, hem sepertinya menarik pikirku untuk dicoba setelah berkeliling museum. Aku menghubungi salah seorang karyawan untuk memesan paket “Eksplorasi Rasa Kakao”.

Ruangan pertama yang kumasuki berisikan sejarah singkat perkembangan cokelat yang diawali dengan penjelasan sejarah mengenai cokelat hingga cokelat tiba di Indonesia dan dikenal di Indonesia. Tak lupa juga setiap penjelasan disertai catatan tahun dan disusun berurutan seperti kita menjelajah lorong waktu.

Ruangan kedua dan ketiga berisikan penjelasan mengenai proses pembuatan cokelat. Penjelasan ini diawali dengan bagaimana proses budidaya pohon kakao yang menjadi asal muasal coklat. Ternyata selama ini buah kakao yang dibudidayakan di Indonesia adalah jenis forastero dan yang membuat saya kaget ternyata biji kakao ini harus difermentasikan dahulu kemudian dicuci barulah setelah itu dapat dikeringkan.

Hal ini bertujuan untuk menaikkan harga dari biji kakao dan tahukah kalian biji kakao yang telah difermentasi ini oleh Cokelat Monggo dibeli dari petani-petani yang ada di Jogja untuk produksi coklatnya.

Hal menarik lainnya adalah penjelasan tentang kompisisi tiga jenis cokelat yaitu white chocolate, milk chocolate, dan dark chocolate yang disajikan dengan perbandingan komposisi bahannya. Ada juga penjelasan mengenai cokelat compound yang sering kita temui banyak dijual.

Reza

Nah, di dalam cokelat compound ini mentega kakao diganti dengan minyak sawit yang tidak baik karena mengandung lemak jenuh. Berbeda dengan cokelat coverture yang terdiri dari 100% mentega kakao yang lebih mahal harganya, namun lebih sehat. Wah, pengetahuan baru nih buat kalian yang suka membeli cokelat agar selektif dalam melihat komposisinya sehingga tidak memberikan efek buruk ke tubuh kita.

Tak terasa aku telah sampai di ruangan terakhir museum saat sedang melihat-lihat asal muasal Cokelat Monggo dalam bentuk komik, pundakku ditepuk seseorang. Kaget, aku berbalik badan dan menemukan seorang perempuan.

“Mbak untuk paketnya sudah siap di kedai cokelat.” Segera aku mengikuti si Mbak menuju kedai cokelat. Barulah aku tahu namanya El saat kegiatan “Eksplorasi Rasa Kakao” berlangsung sekaligus memanduku yang duduk terbengong-bengong di hadapan nampan.

Nampan ini berisikan buah kakao matang, dua gelas yang berisikan minuman coklat yang berasal dari milk chocolate dan dark chocolate yang dilelehkan, cocoa nibs, sekeping milk chocolate, sekeping dark chocolate dan kakao massa.

Kegiatan “Eksplorasi Rasa Kakao” ini memberikan pengalaman unik bagiku. Aku akhirnya bisa mengetahui ternyata daging buah kakao ini terasa seperti manggis karena seumur hidup aku belum pernah mencoba daging buah dari buah kakao. Rasa dari kakao massa yang pahit mengigit dan perbedaan kontras dari dua jenis coklat

coklat

 

Hal lainnya yang unik saat aku mencoba cocoa nibs. Aku disuruh menebak rasa apa yang akan muncul dilidahku. “Pahit sekali ya Mbak El” kataku. Ternyata cocoa nibs yang merupakan isi dari biji kokoa ini terasa seperti kacang dan yang mengejutkan di akhir aku mencecap rasa asam sepat.

“Tiap orang berbeda-beda loh mbak. Ada yang asam sepat dan ada yang pahit. Tergantung orangnya. Apabila suka mengonsumsi minuman atau makanan pahit, pasti akan terasa asam sepat ketimbang rasa pahitnya” jelas Mbak El.

Mungkin karena keberuntunganku hari itu, aku dapat bertemu langsung dengan Thierry Detournay pemilik dari Cokelat Monggo dan sempat berbincang sebentar. Di dorong rasa penasaran aku sempat bertanya kepada beliau tentang alasannya membangun museum coklat ini.

“Kami di company valuenya ada lima yang biasa kami sebut Cueg. C nya care, U nya unique, dan E nya educate. Nah awalnya kami ingin membagi ilmu tentang coklat terutama dan lebih luasnya tentang melindungi lingkungan” jawabnya ramah.

Thierry juga menjelaskan alasan lainnya menbangun Museum Cokelat Monggo ini karena banyaknya orang yang ingin mengetahui lebih banyak tentang cokelat. Keterbatasan tempat di Kotagede pula lah yang mendorong Thierry untuk membuat Museum Cokelat Monggo ini lebih luas sehingga dapat menampung wisatawan lebih banyak dan merasakan kegiatan yang tak bisa dilakukan di official store Kotagede.

Puas menjelajah Museum Cokelat Monggo, aku tak lupa membeli buah tangan. Aku memilih sebatang peppermint chocolate untuk kubawa pulang dengan kadar kokoa massa 69%. Menyenangkan rasanya tidak hanya bisa membeli sebatang coklat sebagai oleh-oleh, hari itu aku juga membawa ilmu baru dan pengalaman baru sebagai buah tangan dari Museum Cokelat Monggo.

Baca juga artikel tentang Museum atau tulisan menarik lainnya Reza Rizki.
Load More Related Articles
Load More By Rezarizkii
Load More In Destinasi Wisata