Home Destinasi Digital Semarak Festival dan Peresmian Pasar Ngingrong

Semarak Festival dan Peresmian Pasar Ngingrong

8 menit waktu baca
35
Launching Pasar Ngingrong
Launching Pasar Ngingrong. Foto milik Hardy Wiratama. 

Jika mendengar Yogyakarta, daerah istimewa ini memang sudah tidak asing di telinga masyarakat. Tapi bagaimana dengan Gunungkidul? Mungkin hanya sedikit dari masyarakat luar kota Yogyakarta yang mengetahui daerah unik ini.

Padahal belum lengkap jika berwisata di Yogyakarta tak menyambangi lokasi wisata Gunungkidul. Siang itu, saya berkesempatan mengunjungi salah satu kawasan wisata di daerah Gunungkidul. Bersamaan dengan even “Festival Kuliner Gunungkidul” Sabtu (8/9), Pasar Ngingrong resmi dibuka sebagai Destinasi Digital.

Pasar Ngingrong merupakan salah satu destinasi wisata digital yang digagas oleh Kementrian Pariwisata bersama dengan Generasi Pesona Indonesia (GenPi) Jogja. Destinasi digital ini terletak di Desa Mulo, Wonosari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Apa sih keunikan situs kebumian Goa Ngingrong ini? Dari bentang area terlihat kawasan Lembah Karst Mulo dengan keunikan tebing terjal, juga tebing Lafadz Allah. Luweng Jemblong serta Goa Lengkep di seberang jalan. Tak jauh pula terdapat Etalase Taman Batu Gunung Sewu.

Acara siang itu dibuka dengan tradisi Gejog Lesung yang dilakukan seluruh stakeholder pariwisata Gunungkidul. Semarak warna-warni lapak dengan aneka jenis kudapan dan makanan serta minuman yang menggugah selera berkumpul di area Festival Kuliner Gunungkidul di kawasan Geosite Ngingrong.

Launching Pasar Ngingrong
Launching Pasar Ngingrong. Foto milik Hardy Wiratama. 

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 60 menit dari kota Yogyakarta, saya akhirnya tiba di lokasi yang menjadi salah satu wilayah geosite UNESCO global geopark Gunung Sewu ini. Selain terkenal dengan Goa Ngingrong, kawasan lokasi ini disulap menjadi lokasi Destinasi Digital kedua. Pasar Ngingrong kini menjadi spot center wisata di Ngingrong.

Begitu tiba saya memasuki gerbang bambu bertulisan dan dua janur di kanan dan kiri pintu masuk. Rasa lelah yang mengikat setelah menempuh perjalanan dari kota Yogyakarta pun hilang seketika saat melihat kerumunan orang-orang yang saling bercengkrama menikmati suasana, hiburan pertunjukan, serta sajian khas kuliner di Pasar Ngingrong pada siang itu.

Di zaman yang serba modern ini tentunya agak sulit untuk menemukan jajanan tradisional yang dahulu dapat kita nikmati dengan mudah. Jajanan tersebut kini sudah mulai tergantikan menjadi kuliner kekinian.

Jajanan pasar pada zaman dulu merupakan kudapan yang biasanya dihubungkan dengan suatu acara atau ritual. Jajanan pasar dihantarkan kepada tetangga sekitar, bebarengan dengan nasi tumpeng atau nasi bancaan dalam satu wadah. Namun, di pasar tradisional ini, saya masih bisa menemukan kuliner tradisional khas Gunungkidul, ditambah pasar ini akan dibuka setiap akhir pekan.

Tak hanya itu, beragam hiburan yang mengangkat nilai-nilai budaya dari warga setempat pun bisa dinikmati sambil wisata kulineran. Selain pagi hingga siang, kedepan Destinasi Digital kedua setelah Pasar Kakilangit ini, akan dibuka juga pada sore hari di mana wisatawan juga bisa menikmati suasana alam saat matahari tenggelam.

Gak kebayangkan bagaimana eksotisnya tempat ini ketika senja tiba. Lokasinya yang berada di jalan raya antara Mulo-Tepus ini membuat Ngingrong dilewati oleh banyak wisatawan yang hendak berlibur ke pantai-pantai di Gunungkidul.

Selain pemakaian koin kayu untuk bertransaksi, Gejong Lesung menjadi ciri khas yang selalu ditampilkan dari Destinasi Digital di Yogyakarta. Gejog Lesung adalah tradisi khas masyarakat Yogyakarta. Yaitu aktivitas memukul atau menumbuk lesung yang berisi padi.

Aktivitas dilakukan menggunakan dengan alu atau kayu penumbuk. Gejog lesung dikenal sebagai ungkapan syukur warga atas melimpahnya panen padi. Nilai-nilai tradisional inilah yang diperkenalkan GenPI Jogja saat meluncurkan Pasar Ngingrong.

Tarian tradisional, penampilan reog oleh warga setempat, serta musik akustik, menjadi hiburan para pengunjung yang tidak hanya antusias terhadap Festival Kuliner Gunungkidul, tapi juga dengan acara diskusi “Jagongan Destinasi Wisata” yang menghadirkan narasumber dari PHRI, Dinas Pariwisata Gunungkidul, dan influencer sosial media dari akun @kulineryogya Pipit Damayanti.

Berbagai sajian tradisional yang ada di Pasar Ngingrong diantaranya olahan ketan, botok, sambel tawon, sambel cabuk, makanan dari umbi-umbian, pecel, nasi gudeg, gudangan, nasi thiwul gathot, nasi ingkung dan masih banyak lagi. Sajian berkuah seperti lontong opor, soto dan bakso pun tersedia di sini.

Semarak festival kuliner semakin terasa saat acara lomba dimulai. Mulai dari lomba memasak, lomba menghias makanan dan lapak oleh para pedagang serta lomba foto Instagram yang diikuti oleh masyarakat umum sekaligus menjadi salah satu sarana untuk pemasaran secara online.

Satu lagi yang unik di sini, pengunjung Pasar Ngingrong juga dapat mencoba Jemparingan. Jemparingan adalah panahan tradisional gaya Mataram yang ke depannya akan menjadi salah satu kegiatan rutin di Pasar Ngingrong.

Launching Pasar Ngingrong
Launching Pasar Ngingrong. Foto milik Hardy Wiratama.

Jika panahan modern biasanya dilakukan dengan berdiri menggunakan pakaian olahraga atau pakaian biasa, panahan tradisional ini dilakukan sembari duduk bersimpuh atau bersila di tanah.

Pemanah juga diwajibkan menggunakan aksesoris atau baju khas jawa seperti surjan, jarik, udeng, atau blangkon. Panah yang digunakan pun terbuat dari kayu. Jemparingan dapat dilakukan oleh dewasa maupun anak-anak.

Ingin merasakan melayang? Coba saja flyingfox di atas lembah Ngingrong sepanjang 135 meter dengan ketinggian 78 sampai 80 meter yang akan menguji adrenalin.

Kegiatan yang tak kalah asyik dan harus dicoba juga, yaitu susur goa. Goa Ngingrong ini memiliki keunikan, selain terdapat tiga step di dalam goa terdapat sungai bawah tanah yang airnya cukup jernih.

Jadi bagaimana, penasaran merasakan kuliner tradisional dengan konsep wisata yang menyatu bersama alam di kawasan Ngingrong ini?

Muat Lagi Dari Tikha Novita Sari
Muat Lebih Banyak Di Destinasi Digital