Sekaten adalah Syiar Islam, Bukan Awul-Awul

7 min read
0
73

genpijogja.com – Ada yang berbeda dalam perayaan sekaten tahun ini dibanding tahun-tahun sebelumnya. Perbedaan mencolok akan terlihat jelas di lapangan Alun-Alun Utara. Kalau tahun-tahun sebelumnya terdapat pasar malam yang riuh ramai, tahun ini tidak ada.

“Tahun ini tidak ada pasar malam”, ujar GKR Bendara saat jumpa pers Pameran Sekaten kepada rekan media di Bale Raos Restaurant, Kamis (3/10) sore. Ada beberapa pertimbangan yang menjadi dasar diambilnya keputusan ini. Keberadaan pasar malam membuat kondisi lapangan Alun-Alun Utara menjadi buruk: kotor, banyak sampah, dan rerumputannya mati.

Prescon Pameran Sekaten Jogja 2019
Prescon Pameran Sekaten Jogja 2019

Ketiadaan pasar malam pada Hajad Dalem Sekaten tahun 2019 ini bisa menjadi moment kembalinya Sekaten ke bentuk semula. Mengingat keberadaan pasar malam sendiri merupakan warisan Belanda yang kala itu berusaha memecah konsentrasi massa.

Tahun ini, sensasi berbeda barangkali akan terasa. Sebab tidak sedikit masyarakat yang belum paham tentang makna Sekaten. Sebagian besar masyarakat masih menganggap bahwa pasar malam merupakan bagian dari Sekaten, bahkan beberapa menganggap Sekaten identik dengan awul-awul (obral pakaian second). Ini terlihat dari komentar para warganet di linimasa yang riuh berkomentar kehilangan awul-awul seiring dengan hilangnya pasar malam di Sekaten. Padahal keduanya jelas memiliki substansi yang berbeda.

Melihat rekam sejarahnya, Sekaten yang sudah diyakini ada sejak masa Kerajaan Demak ini sebenarnya merupakan upaya syiar Islam. Mengingat asal muasal nama sekaten sendiri merupakan Syahadatain atau dua kalimat syahadat.

Sekaten pun jauh dari hingar bingar. Hanya musik gamelan yang menggema. Memanggil masyarakat untuk berkumpul di alun-alun. Setelahnya diberikan dakwah dan petuah. Konsep tersebut pun digagas untuk Hajad Dalem Sekaten tahun 2019 ini.

Baca juga: Tidak Ada Pasar Malam di Sekaten Jogja
Pameran Sekaten 2019
Pameran Sekaten 2019

Setiap tahun, Kraton Jogja menggelar Hajad Dalem Sekaten. Sekaten merupakan agenda tahunan, sebagai momentum peringatan kelahiran Nabi Muhammad yang jatuh pada bulan Mulud. Sehingga tak heran, ada sebagian orang menyebut perayaan ini dengan nama Muludan.

Hajad Dalem Sekaten Kraton Jogja tahun 2019 akan berlangsung pada 1-10 November mendatang. Sesuai dengan tradisinya, Sekaten dibuka dengan Miyos Gongso. Miyos Gongso merupakan proses pengeluaran Gamelan Sekati Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga dari dalam Kraton Jogja untuk dibawa ke area Masjid Gedhe. Prosesi ini akan berlangsung pada (1/11) mendatang.

Sementara itu, Kondur Gongso yang merupakan proses pengembalian gamelan Sekaten kembali ke dalam Kraton Jogja akan dilaksanakan pada (9/11) mendatang. Perayaan Hajad Dalem Sekaten ini akan ditutup dengan Garebeg Mulud yang jatuh pada tanggal 10 November 2019.

Sebagai pendamping perayaan Hajad Dalem Sekaten, Kraton Jogja akan menggelar pameran budaya yang bertujuan menguatkan akar tradisi Kraton Jogja. Pameran ini akan berlangsung pada tanggal 1-9 November 2019, bertempat di Dalem Bangsal Pagelaran dan Kagungan Dalem Kompleks Siti Hinggil. Berbekal tiket yang dapat dibeli di loket sebelah barat Bangsal Pagelaran, pengunjung sudah dapat menikmati suguhan pameran dari pukul 09.00 hingga pukul 21.00 WIB.

Pameran Sekaten kali ini mengangkat tema yang berbeda, yakni seputar Sri Sultan Hamengku Buwono I. “Setiap tahunnya, tema pameran Kraton Jogja tidak pernah sama. Tahun ini tema yang diangkat seputar Sri Sultan Hamengku Buwono I, pendiri Jogja”, jelas GKR Bendara.

Ada beberapa topik yang diangkat sebagai pameran. Dimulai dari biografi Sri Sultan Hamengku Buwono I, peranannya dalam sejarah bangsa, karya-karya yang dihasilkannya, berbagai objek yang terkait dengan dirinya dan anugerah pahlawan yang disematkan pada beliau.

Untuk menambah keseruan pameran budaya, Kraton Jogja sebagai pihak penyelenggara juga akan mengadakan agenda pendukung lainnya. Tur Kuratorial, Pelatihan Seni, Lomba Karawitan, Pertunjukan dan Perlombaan Seni, dan Diskusi Film Budaya akan turut meramaikan kegiatan pameran ini.

“Sudah disiapkan untuk pendamping kegiatan pameran. Termasuk tari-tarian yang diwariskan oleh Sri Sultan HB I. Besok akan kita pentaskan. Bahkan penampil-penampil dari luar juga sudah kami briefing untuk tampil dengan tarian-tarian Sri Sultan Hamengku Buwono I”, ungkap KPH Notonegoro.

Baca juga: Kraton Jogja Gelar Pameran Sekaten 2019, Catat Tanggal dan Jadwalnya
Kraton Jogja Gelar Pameran Sekaten 2019, Catat Tanggal dan Jadwalnya
Kraton Jogja Gelar Pameran Sekaten 2019, Catat Tanggal dan Jadwalnya

“Ya kita coba merasakan sekaten pada zaman dahulu. Ketika gamelan menjadi objek hiburan. Pengunjung dapat mengunjungi area Masjid Gedhe untuk menikmati suguhan gamelan yang dimainkan selama Sekaten. Para penjual makanan-makanan khas sekaten juga akan tetap ada meskipun pasar malam tidak ada. Pengunjung masih bisa beli telur merah yang sangat identik dengan sekaten”, pungkas KPH Notonegoro kepada rekan media.

Luhurnya tradisi beserta makna Sekaten yang diwariskan para pendahulu akan ditonjolkan dalam Hajad Dalem Sekaten 2019. Perubahan ini diharapkan mampu memperkokoh Jogja yang istimewa sebagai benteng budaya di Tanah Jawa.

Baca juga artikel terkait Sekaten atau tulisan menarik lainnya Hernawan.
Load More Related Articles
Load More By Hernawan
Load More In News