Sate Kere Mbah Mardi, Kuliner Legendaris Yang Ga Bikin Kantong Kere

8 min read
0
48

genpijogja.com – Akhir bulan keadaan kantong semakin menipis tetapi apa daya perut ini menginginkan sepotong daging. Sebagian besar dari mahasiswa di kota pelajar ini pasti pernah merasakan apa yang saya rasakan.

Berbekal keinginan memakan sepotong daging, saya mencoba menanyakan kepada mesin pencarian paling terkenal yang sudah akrab dengan kita yaitu “Mbah Google”. Kurang dari lima detik, saya telah menemukan Sate Kere Mbah Mardi sebagai jawaban pencarian saya.

Sate Kere Mbah Mardi, Kuliner Legendaris Yang Ga Bikin Kantong Kere
Sate Kere Mbah Mardi, Kuliner Legendaris Yang Ga Bikin Kantong Kere

Menemukan lokasi Sate Kere Mbah Mardi terbilang cukup mudah, cukup melajukan kendaraan kalian menuju arah barat Jogja melewati Tugu Pal Putih hingga menemukan perempatan ring road Godean. Tetap pada jalur menuju arah barat Jogja sekitar 2 (dua) kilometer, di kiri jalan atau di sisi selatan, kalian akan menemukan Sate Kere Mbah Mardi. Bisa juga kalian menggunakan Gmap seperti saya dengan kata kunci “Sate Kere Mbah Mardi.”

Sesampai disana, kepulan asap bakaran sate langsung menyambut saya yang parkirkan motor tepat di depannya. Tercium aroma daging bercampur arang khas bakaran sate.

Saya menghampiri seorang wanita paruh baya yang sedang sibuk menyiapkan pesanan sambil sesekali melayani pengunjung yang datang. “Bu, sate kerenya satu porsi ya”, ujar saya memesan seporsi sate.

Mata saya menjelajahi warung sederhana Sate Kere Mbah Mardi untuk mencari tempat duduk. Tersedia dua ruangan untuk lesehan dan beberapa meja di bagian depan warung. Setelah sempat sedikit mengambil foto, saya akhirnya memilih duduk di meja pada bagian depan warung.

Tak butuh waktu lama, seporsi sate kere tersaji di depan saya. Tak lupa, saya memesan es jeruk sebagai teman pelepas dahaga. Ada yang unik dengan tampilan Sate Kere Mbah Mardi ini, yaitu sate yang selama ini dalam bayangan saya disajikan dengan kuah kacang atau gule seperti sate klatak tergantikan dengan sayur tempe. Segera saya melahap hidangan di depan mata karena memang perut sudah menagih dari tadi.

Sate Kere Mbah Mardi, Kuliner Legendaris Yang Ga Bikin Kantong Kere
Sate Kere Mbah Mardi, Kuliner Legendaris Yang Ga Bikin Kantong Kere

Untuk satenya sendiri terasa manis di lidah dan yang mengejutkan, rasa manis tersebut bukan manis kecap, akan tetapi berasal dari manis gula yang mengkaramel. Rasa manis inilah yang menjadi dominan dari rasa sate kere khas Mbah Mardi.

Ditambah gurih gajih atau lemak sapi di tengah-tengah antara daging membuat satu tusuk sate kere terasa pas di lidah. Sayur tempenya terasa gurih dan sedikit pedas di lidah. Perpaduan sayur tempe dan sate kere terasa seimbang jika di makan secara bersamaan. Tak butuh waktu lama bagi saya untuk menandaskan seporsi sate kere yang nikmat ini.

Sebelum membayar, seperti biasa, saya suka bercakap-cakap dengan penjualnya. Saya kembali menghampiri wanita paruh baya yang di awal saya temui, ibu tersebut, kelak saya ketahui bernama Bu Juminah.

Bu Juminah merupakan anak dari Mbah Mardi, pelopor pertama Sate Kere Mbah Mardi. Bu Juminah dibantu oleh saudara-saudaranya dalam berjualan sate. Bu Juminah juga mengenalkan saya dengan cucu Mbah Mardi yang bernama Rifka. Ia menemani saya duduk berbincang di sela-sela tugasnya membuat minuman.

Selayaknya teman lama, obrolan kami terasa santai malam itu. Rifka banyak bercerita bahwa Mbah Mardi mengawali sate kere ini dengan berjualan menggunakan gerobak di sekitaran daerah Gesikan pada tahun 1987, barulah pada tahun 1990-an menetap di warung yang sekarang ini kita kenal.

“Mbak tahu dari mana ga asal nama sate kere?”, tanyanya pada saya.

“Ga, Mbak. Saya kira karena satenya ada gajih”, jawab saya ngasal.

Rifka kembali bercerita bahwa sate kere itu adalah pemberian nama pelanggan-pelanggan Mbah Mardi. “Zaman dulu kan tidak semua orang bisa makan daging, jadi simbah jualan sate kere dengan harga yang murah agar semua orang bisa makan daging”, lanjut Rifka.

Sebagai pelengkap, Mbah Mardi menggunakan sayur tempe khas “orang desa” yang gurih dan sedikit pedas untuk menemani sate kere yang manis.

Sate Kere Mbah Mardi, Kuliner Legendaris Yang Ga Bikin Kantong Kere
Sate Kere Mbah Mardi, Kuliner Legendaris Yang Ga Bikin Kantong Kere

Rifka memberitahu saya rahasia manisnya Sate Kere Mbah Mardi ini yang membuat saya penasaran. “Bukan kecap, Mbak, yang bikin manis. Sate di sini tidak pake kecap sama sekali. Dagingnya di “cem-cem” pake gula merah selama satu jam makanya bisa manis”, jelasnya.

Saya mengangguk-angguk mendengarkan cerita Rifka. Akhirnya terjawab sudah rasa penasaran, gumam saya dalam hati.

Setelah berbincang sedikit lama, saya memutuskan untuk membayar. Benar saja, sesuai tujuan Mbah Mardi berjualan sate kere, saya cukup membayar Rp9.000 saja untuk seporsi sate kere berserta sayur tempenya.

Sungguh murah bagi kantong mahasiswa dan benar-benar tidak bakal membuat “kere”. Selain perut kenyang dan kantong aman, satu yang saya pelajari bahwa “kesederhanaan” sebuah kuliner justru lebih melekat di hati dan lidah sehingga kata “legend” tercetus dari para pelanggan yang loyal. Salah satu contohnya adalah Sate Kere Mbah Mardi ini.

Bagaimana dengan kamu, tertarik mencoba Sate Kere Mbah Mardi?

Load More Related Articles
Load More By Rezarizkii
Load More In Kuliner