Rupa-Rupa Cerita Kuliner di Pameran Upaboga Museum Sonobudoyo Jogja

5 min read
1
48
Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi (tengah) saat membuka Pameran Upaboga (6/11) secara simbolis.

Memasuki tahun ke-86, Museum Sonobudoyo menggelar AMEX (Annual Museum Exhibition) bertajuk “Upaboga: Ketika Makanan Bercerita”. Pameran temporer ini dibuka pada Sabtu pagi (06/11) di Gedung Pameran Temporer Museum Sonobodoyo Jalan Pangurakan No. 4 Yogyakarta.

Untuk Pameran Upaboga Museum Sonobudoyo Jogja, pengunjung tidak dipungut biaya masuk. Pastikan Anda sudah mengunduh aplikasi PeduliLindungi untuk memudahkan registrasi. Pameran berlangsung setiap hari mulai pukul 09.00 WIB – 21.00 WIB. Jika Anda berada di luar kota, agendakan datang ke Jogja karena Pameran Upaboga dihelat sampai 30 Desember 2021.

“Semoga Pameran Upaboga bisa menjadi awal ditetapkannya makanan-makanan tradisional Jogja sebagai warisan budaya,” tutur Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi saat membuka Pameran Upaboga.

Upaboga: Ketika Makanan Bercerita menyuguhkan pengalaman menyusuri lorong waktu peradaban manusia khususnya tentang makanan. Anda akan diajak melihat dokumentasi budaya makanan di Jawa masa Praaksara, Klasik, Islam-Kolonial, rempah dan bumbu, serta makna simbolik dari upacara adat masyarakat Jawa.

BACA JUGA: Smiling West Java Direct Promotion: Bangkit Bersama Sambut Kebangkitan Ekonomi Pariwisata

Pameran Upaboga pun menjabarkan peradaban makanan secara komprehensif dari berbagai aspek, antara lain nilai historis, filosofi, proses dan teknologi, mitos, tradisi, dan kepercayaan, kemudian nilai sosial, nilai ekonomi, etika, estetika, serta identitas.

Mulai dari alat makan dari sejumlah negara dengan teknik pembuatan dan estetika tertentu, misalnya piring cina dan piring damaskus yang diukir dengan desain khas daerah asalnya. Lalu ada aneka rempah dan bumbu nusantara yang memiliki nilai historis sebagai salah satu komoditi besar pada masanya.

Ditandai dengan adanya perdagangan rempah yang kemudian membentuk jalur rempah, hingga kedatangan bangsa kolonial. Rempah dan bumbu nusantara tak hanya menjadi penentu citarasa makanan, tapi juga menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penghasil rempah terbesar di dunia.

Aneka rempah dan bumbu dalam Upaboga: Ketika Makanan Bercerita

“Kami ingin menggugah kesadaran masyarakat untuk mewujudkan ketahanan pangan keluarga dalam skala mikro lewat kegiatan perkebunan subsiten. Melalui pameran ini, museum juga mengajak masyarakat untuk menggali kembali wawasan dan pengetahuan seputar makanan dari perspektif sosial dan budaya,” tegas Kepala Museum Sonobudoyo Setyawan Sahli.

Setelah menelusuri sebagian dari 300 lebih rempah dan bumbu nusantara, Anda akan diajak melihat kehidupan pertanian masyarakat Jawa. Terdapat display alat-alat tani, alat masak, pengetahuan bertani, serta kebiasaan para petani yang hidup dari sawah dan palawija.

Beberapa di antaranya lesung, alu, dan lumpang yang tak hanya berguna untuk memisahkan beras dan kulit beras, tapi juga jadi sarana untuk menguatkan hubungan sosial masyarakat Jawa lewat Gejog Lesung. Alunan Gejog Lesung pun diyakini menyiratkan kosmogoni, persenggamaan semesta (Pradana dan Prakerti) juga daur hidup manusia, yakni alu sebagai simbol lingga dan lesung sebagai simbol yoni. 

AMEX (Annual Museum Exhibition) “Upaboga: Ketika Makanan Bercerita” merupakan wujud apresiasi Museum Sonobudoyo terhadap keberagaman kuliner nusantara. Melalui salah satu narasi dalam pameran, Museum Sonobudoyo mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan jalur rempah ditetapkan sebagai warisan dunia yang menjadi pijakan strategi budaya untuk meneguhkan posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia.

“Dari makanan kita bisa mengupas dan mengeksloprasi segala hal tentang kehidupan manusia. Pameran ini bercerita tentang ekosistem budaya makanan. Mulai dari bahan baku, teknologi, ide dan gagasan, bahan baku, dan penyajiannya. Makna dan nilai makanan membuat kita lebih menghargai makanan. Semoga akan lebih banyak pengetahuan tentang makanan dan warisan budaya melalui koleksi Museum Sonobudoyo,” pungkas Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi.

Load More Related Articles
Load More By Farras Hasna Taqiyya
Load More In Event