Retni SB, Perempuan Yang Berkisah Melalui Megamendung Kembar

6 min read
2
58
“Dengan kondisi hati dan pikiran semacam itu, laku membatiknya kali ini bagaikan peperangan antara dua sosok yang sama-sama ingin dimenangkannya. Sabetan khayalan, dentuman kesadaran, pukulan kenyataan… berlarian di dadanya… membuatnya lintang pukang antara bertahan, berkelit dan menyerang.”

Megamendung Kembar merupakan novel yang berkisah tentang cinta, rahasia dan kenangan. Bahwa yang terjadi saat ini, sebetulnya masih dipengaruhi kisah masa lalu.

Novel setebal 360 halaman ini, memuat 3 bagian yang terdiri dari beberapa bab. Di setiap bagiannya, cerita dibedakan melalui latar waktu yang berbeda, yang memudahkan pembaca dalam memahami setiap kisahnya.

Berkisah Melalui Megamendung Kembar
Berkisah Melalui Megamendung Kembar

Kisah bermula dari sebuah bingkisan yang diterima Awie malam itu. Awie seakan bisa merasakan denyut nadi yang berirama lemah, gelenyar kisut nan hangat yang telah lama ia tinggalkan semenjak bekerja di Jakarta. Dirasakannya tangan berurat biru itu, tangan tua seorang mantan pembatik, melalui kain pasmina tipis yang sekaligus mengirimkan pesan rindu embah (nenek) untuknya.

Awie memutuskan menengok embah ke kota Cirebon. Kota yang menjadi inti cerita dari novel ini. Di sana, Awie mulai bercerita bagaimana dirinya menyusuri kembali kota kelahirannya. Mencicipi aneka jaburan khas Cirebon, berjumpa dengan kawan lama, hingga melihat koleksi batik lawasan embah yang bertumpuk rapi di lemari jati.

Tangan embah menggapai tumpukan kain batik, kemudian ia menariknya keluar dari lemari yang berwarna kehitaman. Diperlihatkannya batik-batik berumur seabad lebih itu. Batik dengan beragam motif yang dibuat sendiri oleh embah dan buyutnya adalah sebuah harta karun yang tak ternilai.

Hingga pada saat itu, mata Awie menangkap kain bermotif Megamendung warna merah yang tak lazim. Motif yang memiliki gradasi sembilan warna. Yang mana, menurut pakem membatik seharusnya adalah tujuh gradasi warna.

Dengan antusias, Awie bertanya perihal batik Megamendung itu. Namun tak disangka, dirinya dikejutkan respon embah yang langsung melipat kain Megamendung-nya, dengan gerakan sedikit kasar. Lalu, diikuti dengan mata yang berkaca-kaca.

Kejadian itu menjadi sebuah tanda tanya besar. Satu lagi rahasia telah disentuhnya. Kini, Awie semakin penasaran. Terlebih embah bukanlah seorang yang senang bercerita tentang banyak hal. Hanya kisah-kisah menyenangkan yang ia ceritakan.

“Pasti ada sesuatu yang begitu luar biasa… begitu dalam… begitu di jaga… untuk dihayati bagi diri Embah sendiri. Apakah kisah itu akan dibawa hingga mati?”, gumam Awie.

Cerita berlanjut, pembaca diajak menyusuri lorong waktu, kilas balik ke rentang waktu yang cukup jauh. Menurut saya, hal itu membuat novel Megamendung Kembar menjadi novel yang kaya dari segi cerita. Salah satunya, penggambaran keadaan kampung batik Trusmi di tahun 1948.

Selaku penulis novel Megamendung Kembar, Retni SB tidak membiarkan ceritanya ‘kosong’. Peristiwa pembakaran pabrik batik oleh gerombolan Karimuda, serta aktivitas membatik mulai dari nyolet, nganji, ngemplong, nyelup dan nglorod di tahun itu, berhasil ia kemas dalam balutan dialog dan narasi yang begitu mengalir.

Sedikit bahasa Cirebon-an diselipkan Retni di sana sini untuk mengajak jiwa pembaca berkelana ke kota itu. Meski asing, dialog-dialog ini dibangun sedemikian rupa oleh Retni agar pembaca makin memahami jiwa yang ingin dia ceritakan.

Sepanjang membaca novel ini, saya mulai menyadari bahwa batik-batik lawasan itu bukan hanya sekedar koleksi embah saja. Batik-batik itu adalah kesaksian yang luar biasa, dari masa mudanya yang mampu membawa kembali kenangan di masa lalu.

Seperti layaknya buku harian, batik Megamendung dari kain primisima itu menjadi media dalam menyampaikan perasaan embah. Di situ, tidak hanya tertuang teknik membatik saja. Namun kenangan, keikhlasan, hingga tetes air mata, menjadi saksi cerita atas hadirnya batik Megamendung yang tak lazim dengan sembilan gradasi warna.

Kisah percintaan dalam sebuah novel, memang sudah banyak kita kenal. Namun, menurut saya “Megamendung Kembar” sangat patut untuk diapresiasi. Novel ini memiliki porsinya sendiri. Kisahnya pun tidak terlepas dari realita yang ada. Cinta, kasih sayang serta pengorbanan menjadi sebuah bukti, bahwa semua itu adalah hasil dari sebuah keihkalasan.

Judul : Megamendung Kembar
Penulis : Retni SB
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Bulan Terbit : Juli 2016
Ukuran buku : 13 x 20 cm
Jumlah halaman : 360

Load More Related Articles
Load More By Mochamad Ripki
Load More In Buku