Rela Antri Demi Seporsi Mie Sapi Banteng

8 min read
0
94

genpijogja.com –  Sebagai mantan anak kos-kosan Jogja, pasti akrab dengan yang namanya mie instan. Sedikit cerita, dulu saya “nyetok” mie instan dari berbagai rasa dan jenis agar bisa merasakan kuliner berbagai daerah lewat mie instan. Bila ada sedikit lembaran rupiah di dompet saat awal bulan barulah saya berburu mie lainnya dari yang level resto hingga level gerobak biru. Begitu akrabnya saya dengan berbagai jenis mie, hubungan kami berlanjut hingga saya sudah bekerja.

Sebenarnya mie merupakan salah satu kuliner dengan sejarah yang panjang. Mie berasal dari negeri tirai bambu sekitar 2000 tahun yang lalu pada pemerintahan dinasti Han. Tak disangka mie berkembang begitu cepat dan sampai ke negara lain seperti Jepang dan Korea. Mie menyebar hingga kawasan Asia Tenggara dan turut menambah keanekaragaman kuliner di Nusantara.

Baca juga: Cita Rasa Gudeg Kakilima yang tak kalah dengan Restauran
Parkir yang selalu ramai di Mie Sapi Banteng
Parkir yang selalu ramai di Mie Sapi Banteng

Salah satu yang menambah kekayaan kuliner mie di Indonesia yaitu Mie Sapi Banteng. Mie satu ini beralamatkan di jalan Banteng Utama No.25 Sinduharjo Ngaglik Sleman atau kalian bisa mengikuti google maps dengan keyword “Mie Sapi Banteng”.

Iseng melihat media sosial yang membahas Mie Sapi Banteng di awal tahun 2019, saya pun tergoda untuk mencobanya. Sabtu sore di pertengahan bulan September, saya pun mengujungi Mie Sapi Banteng.

Mas Satria, pemilik Mie Sapi Banteng, menyapa ramah saat saya datang sore itu. Tampak mas Satria sedang menyiapkan peralatan dan bumbu-bumbu di meja. Saya sengaja memilih datang pukul 16.00 WIB saat Mie Sapi Banteng baru saja buka. Hal ini saya lakukan karena antrian belum terlalu panjang dan pilihan menu masih komplit. Jangan coba-coba datang mendekati jam tutup yaitu pukul 22.00 WIB karena Mie Sapi Banteng pasti sudah sold out.

Baca juga: Mblusukan ke Mie Ayam Sendowo Pak Wiyono
Mie pesanan di Mie Sapi Banteng sedang diracik
Mie pesanan di Mie Sapi Banteng sedang diracik

Saya mengambil kertas order dan segera mengisinya, yaitu satu porsi mie banteng dengan ekstra topping sapi panggang dan pangsit rebus. Tentunya dengan pilihan cita rasa pedas asin. Bagi kalian yang tidak tahan pedas, baiknya tetap memilih cita rasa manis. Untuk minum, cukup sebotol air mineral saja.

Sambil menunggu pesanan dibuat, saya memilih bangku untuk duduk. Sejak pertama datang, bangku favorit saya di Mie Sapi Banteng adalah duduk di meja depan atau di meja yang sama dengan Mas Satria meracik pesanannya.

Alasannya sederhana, saya suka melihat Mas Satria meracik mie pesanan pelanggannya atau hanya sekedar mengobrol dengannya. Mas Satria ini penjual yang ramah dan senang mengobrol dengan pelanggannya. Jadi, bagi kalian yang datang ke Mie Sapi Banteng, jangan sungkan untuk mengobrol dengan Mas Satria.

Sore itu juga akhirnya salah satu pertanyaan saya terjawab di sela-sela obrolan santai kami. Sembari mencelupkan mie, Mas Satria bercerita bagaimana awalnya dia bisa berjualan Mie Sapi Banteng.

“Awalnya saya kuliah kuliner di Singapura, mbak. Terus belajar membuat mie ini, kemudian saya sesuaikan dengan lidah orang sini”, kisahnya sore itu. Obrolan kami berlanjut dengan seru hingga tak terasa pesanan saya pun sudah siap tersaji di depan mata.

Baca juga: Pedas Kandas di Ayam Geprek Bu Rum Jogja 
Mie Sapi Banteng siap di santap
Mie Sapi Banteng siap di santap
pangsit rebus yang yummy di Mie Sapi Banteng
pangsit rebus yang yummy di Mie Sapi Banteng

Mungkin bagi sebagian orang, mie sapi banteng ini sedikit terlihat berminyak. Tapi bagi saya sendiri, ciri dan kenikmatannya justru terletak pada chili oilnya yang memang khas. Apalagi dipadukan dengan mie yang kenyal, daging sapi cincang yang dimasak dengan bumbu pilihan dan terakhir ekstra topping daging sapi panggang. Sungguh menggoyang lidah.

Mienya sendiri memiliki cita rasa gurih dan berdasarkan bocoran dari Mas Satria, mienya menggunakan resep rahasia serta selalu dibuat fresh setiap harinya.

Pangsit rebusnya pun tak kalah menggoda. Kulit pangsitnya lembut dengan isian udang yang digiling. Sesekali saya bahkan mendapatkan pangsit dengan potongan udang di dalamnya.

Pangsit rebus ini juga menggunakan kuah chili oil yang menjadi ciri khas Mie Sapi Banteng. Belum puas, saya pun menambah lagi satu porsi pangsit goreng dengan saus rahasia. Kulit pangsit yang garing terasa renyah ketika digigit dengan tekstur isian udang giling yang kenyal. Camilan sempurna penutup sore hari itu.

Baca juga: Soto Daging Sapi Pak Ngadiran: Racikan Sederhana Yang Ngangenin
pangsit goreng yang kriuk di Mie Sapi Banteng
pangsit goreng yang kriuk di Mie Sapi Banteng

Perut kenyang, hati pun senang. Waktunya membayar semua makanan yang telah saya pesan. Saya hanya perlu mengeluarkan selembar uang bergambar Ir. H. Djuanda Kartawidjaja alias Rp50.000 saja dan masih mendapatkan kembalian untuk parkir kendaraan bermotor saya. Harga yang terjangkau bahkan untuk kantong mahasiswa.

Mie memang kuliner yang akrab bagi lidah siapa saja. Mulai dari mie dengan level gerobak hingga level restoran mahal, mulai dari mie kering hingga mie basah. Sangat banyak macamnya untuk dicicipi. Salah satunya, Mie Sapi Banteng. Yang demi seporsi kenikmatan Mie Sapi Banteng, para pecintanya rela antri menanti.

Kalian bagaimana, sudah siap antri demi seporsi Mie Sapi Banteng?

Baca juga artikel tentang Kuliner atau tulisan menarik lainnya Reza Rizki.
Load More Related Articles
Load More By Rezarizkii
Load More In Kuliner