Ratusan Payung Percantik Prambanan Di Festival Payung Indonesia 2019

7 min read
0
89

Ratusan payung percantik Candi Prambanan dalam Festival Payung Indonesia (Fespin) 2019 hari pertama. Festival yang berlangsung selama 3 (tiga) hari sejak tanggal 6 hingga 8 September 2019 di Candi Prambanan, Yogyakarta ini mengambil tema “Sepayung Daun”.

Festival Payung Indonesia (Fespin) merupakan festival yang menampilkan beragam payung dari seluruh Nusantara. Sedikitnya terdapat 50 kelompok pengrajin dan penggiat craft yang bergabung dan setiap kelompok terdiri dari 5 hingga 30 orang.

Festival Payung Indonesia (Fespin) 2019 | Fotografer Jalu Tajam
Festival Payung Indonesia (Fespin) 2019 | Fotografer Jalu Tajam

Mereka datang dari beberapa daerah seperti Yogyakarta, Klaten, Banyumas, Kendal, Malang dan Tasikmalaya. Ada juga perwakilan payung tradisi dari Sawahlunto (Sumatera Barat) dan Klungkung (Bali). Tak hanya dari Nusantara, Festival Payung Indonesia (Fespin) 2019 juga diikuti oleh lima negara yaitu Indonesia, Jepang, Thailand, Spanyol dan India.

“Ada banyak versi payung yang ditampilkan daerah di sini. Semuanya itu artistik dengan karakternya masing-masing”, ujar Direktur Program Festival Payung Indonesia 2019 Heru Mataya.

“Wisatawan bisa menikmati karya terbaik itu secara utuh. Mereka bisa berkomunikasi atau bahkan belajar langsung dengan para pengrajinnya di venue festival,” ungkap Heru kepada rekan media, Jumat (6/9).

Dalam budaya Jawa, payung atau songsong (sebutan dalam bahasa Jawa krama inggil) menjadi penanda kasta sosial. Misal saja, payung untuk seorang raja, direpresentasikan dengan hadirnya simbol-simbol gubeng, bawat dan agung. Ini ditandai dengan payung yang bersusun 3 (tiga). Beda lagi untuk para pangeran, payungnya direpresentasikan dengan songsong (payung) gilap.

“Payung memang menjadi sebuah tradisi yang luar biasa. Posisinya sangat tinggi di beberapa kalangan, bahkan menjadi simbol strata sosial. Lebih detailnya, silahkan datang ke Festival Payung Indonesia 2019 ini. Apalagi, Jumat ini baru dibuka,” papar Heru lagi.

General Manager Taman Wisata Candi (TWC) Prambanan Aryono Endro menyampaikan bahwa dengan terselenggaranya festival ini harapannya bisa menambah semarak kunjungan wisata di Candi Prambanan. “Pengunjung bisa melihat corak budaya masing-masing daerah termasuk jenis payung dalam festival ini”, lanjutnya.

Aryono juga menambahkan untuk penataan payung dari pihak Taman Wisata Candi (TWC) Prambanan melibatkan sekitar 50 orang setiap harinya selama 3 hari pelaksanaan Festival Payung Indonesia (Fespin) 2019. “50 orang yang dilibatkan itu kita siapkan untuk menjaga keamanan lingkungan  maupun kebersihan,” tandasnya.

Beragam keunikan ditawarkan payung-payung khas Juwiring, Klaten. Daerah Juwiring identik sebagai penghasil payung kertas sejak 1965. Pada eranya, hasil produksi payung Juwiring sudah diekspor ke mancanegara. Bahan bakunya Bambu Wulung hingga Kayu Mahoni atau Kenanga. Warnanya beragam. Coraknya khas dengan galur bunga hingga dekoratif.

Keunikan juga ditawarkan payung tradisional khas Kendal. Kendal memiliki beberapa sentra penghasil payung tradisional seperti Kampung Ngaglik di Kaliwungu. Jenis yang dikembangkannya itu berupa payung kertas dengan rangka utama bambu.

Membutuhkan waktu lama membuatnya, prosesnya pun diawali dengan membuat jari-jari dari bambu. Setelah dirangkai dan diikat dengan tali, baru ditempel kertas. Setelah payung jadi, proses berikutnya finishing. Sentuhan hiasan berupa lukisan diberikan. Motifnya pun beragam dengan acuan bunga, daun, hingga hewan.

Sedangkan sejarah panjang dimiliki industri payung tradisional Banyumas. Payung diperkirakan sudah berkembang sejak 1838 di Banyumas. Tumbuh bersamaan dengan pembangunan Pabrik Gula Kalibagor. Kalibagor kala itu, menjadi salah satu sentra industri dasar payung kertas.

Keunikan lain pun ditawarkan payung tradisi khas Klungkung, Bali. Payung tidak lagi sekedar payung. Di Klungkung, payung memiliki fungsi sebagai pendukung upacara adat, pernikahan, dekorasi, juga souvenir. Coraknya pun beragam lengkap dengan ornamen detail yang artistik.

Demikian pula dengan payung tradisi khas Sawahlunto. Mengedepankan konsep kertas, payung khas Sawahlunto tampil lebih eksploratif dan artistik. Payung Sawahlunto memiliki bagian dengan lubang-lubang khusus. Lalu, ujungnya dibuat meruncing. Meski lekat dengan warna tradisional, Festival Payung Indonesia (Fespin) 2019 tetap memberi slot bagi warna lain seperti payung pararupa, rajut & kain perca, kreasi kampar, lontar juga batik Tegal.

Festival Payung Indonesia (Fespin) 2019 | Fotografer Jalu Tajam
Festival Payung Indonesia (Fespin) 2019 | Fotografer Jalu Tajam

Panitia Festival Payung Indonesia (Fespin) 2019 Iman Istiyanto Utama mengungkapkan bahwa festival payung Indonesia yang digelar Mataya Arts, Heritage Surakarta bekerjasama dengan TWC Candi Prambanan bertujuan sebagai upaya melestarikan payung tradisi Indonesia terutama para pengrajin payung. Selain itu, juga untuk mengangkat industri pengrajin payung tradisional Indonesia.

“Sekarang ini payung tradisional di Indonesia masih ada dan masih eksis. Karenanya festival ini juga sekaligus menumbuhkan potensi kreatifitas masyarakat dari berbagai ragam seni dan juga untuk membangkitkan spirit kaum muda untuk mencintai warisan budaya”, papar Iman secara detail.

“Selain itu, candi juga merupakan bagian dari identitas lokal ke-Indonesiaan sehingga mendorong kunjungan wisatawan nusantara dan terutama wisatawan manca negara”, pungkasnya menutup wawancara.

Baca juga artikel menarik lainnya pacarkecilku.

Load More Related Articles
Load More By pacarkecilku
Load More In News