Ramaikan Malioboro, Jogja Cross Culture 2023 Diserbu Penonton

6 min read
0
25

Jogja Cross Culture (JCC) 2023 kembali digelar di jantung seni budaya Kota Yogyakarta, Malioboro, Sabtu (20/5/2023).

Ribuan pengunjung, dari masyarakat sekitar hingga para wisatawan, antusias menikmati sajian seni dan budaya dalam gelaran JCC 2023 yang bertajuk Tatag, Teteg, Tutug. Kemeriahan malam minggu di Maliboro ini pun dibuka dengan pertunjukkan perkusi dari Malioboro Percussion, serta menyajikan kolaborasi lightning performance yang menarik.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Yetti Martanti,S.Sos, M.M mengatakan Jogja Cross Culture merupakan perhelatan seni lintas budaya yang dikemas dengan memanfaatkan teknologi seni pertunjukan yang didanai dengan dana keistimewaan. Lebih lanjut Yetti mengatakan bahwa JCC sebagai salah satu ikon seni budaya di Yogyakarta perlu terus menyuguhkan pembaruan-pembaruan yang menjangkau kolaborasi lintas budaya secara lebih luas.

“JCC sudah kelima kalinya kami laksanakan, dan pada tahun ini kami mengambil tema Tatag, Teteg, Tutug. Tema tersebut diangkat sebagai upaya reproduksi dalam merayakan keragaman,” kata Yetti.

Yetti menjelaskan tema JCC 2023 ini mengacu pada upaya untuk menciptakan ruang kontempelasi untuk membentuk mentalitas diri yang kuat atau tatag. Serta, teteg yang diartikan sebagai upaya membentuk ketahanan dan konsistensi, dan tuntas atau tutug dalam melaksanakan tanggungjawab.

Gelaran JCC 2023 ini, tak hanya menghadirkan pertunjukan kreatif para seniman dari Kota Yogyakarta maupun berbagai daerah lain. Yetti mengungkapkan JCC juga melibatkan masyarakat penggiat seni budaya di 14 kemantren.

“Jadi, terdapat kolaborasi antara seniman lokal atau wilayah di 14 kemantren dengan seniman profesional musik perkusi, serta kolaborasi dengan seniman profesional lainnya,” jelas Yetti.

Tak hanya sebagai pusat belanja para pelancong, Malioboro telah dikenal memiliki sejarah panjang dalam melahirkan banyak seniman besar yang berkontribusi dalam memperluas kota dengan imajinasi dan pikiran penikmatnya.
 
Oleh sebab itu, sangatlah penting untuk terus menghidupkan ikon seni budaya ini dalam menjaga geliat para seniman dalam menciptakan produk-produk seni.

“Dan Malioboro sebagai laboratorium seni budaya yang berkembang mengikuti dinamika perkembangan zaman, sehingga (JCC) tahun ini terkait dengan musik perkusi, yakni mengusung konsep tema Budaya Mendengar,” jelas Yetti.

Sementara itu, Pj Walikota Sumadi menambahkan bahwa perhelatan JCC 2023 dengan tema Tatag, Teteg, Tutug, merupakan tema yang mengadaptasi dari bunyi-bunyi benda keras yang saling berbenturan dan sering diucapkan dalam bahasa Jawa.

“Kata-kata tersebut disusun memiliki filosofi suatu proses yang menjadikan doa bagi semua pihak, di mana mengalami pengalaman artistik melalui kegiatan JCC 2023 kali ini,” ungkap Sumadi.

Sumadi menambahkan bahwa seni dan budaya telah menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi, yang kemudian berperan besar dalam mendorong perkembangan industri ekonomi kreatif sebagai salah satu lokomotif penggerak Kota Yogyakarta.

“JCC merupakan event seni dan budaya yang besar, tersaji di sepanjang lebih kurang 1 kilometer di jalan Malioboro yang sekaligus buah karya kolaboratif oleh seniman nasional hingga internasional,” kata Sumadi.

Gelaran JCC tak hanya menampilkan seni-seni perkusi dari berbagai kelompok seniman di 14 kemantren. Para penampil di antaranya juga berasal dari Sanggar Sapa Aruh dari Gunungkidul, hingga Rampak Anak Negeri dari kelompok seni asal Semarang, serta Kelompok Song Meri dari Pacitan.

Penampilan perkusi dari para pelajar SMA Budi Utama juga menjadi daya tarik dalam semarak gelaran JCC 2023. Kolaborasi menarik juga disajikan para delegasi 14 kemantren Kota Yogyakarta bersama 3 Sound Artist & Pemukul Bedug.

Kemeriahan Jogja Cross Culture (JCC) 2023 juga ditutup dengan tabuhan bedug yang sekaligus menandai Purna Tugas Pj Walikota Sumadi. Sumadi berharap melalui gelaran JCC ini, kita dapat berpartisipasi sebagai pendukung Kota Yogyakarta dalam menguatkan tren yang positif bagi kota ini, di mana industri ekonomi kreatif berkembang pesat.

“Selanjutnya, melalui kegiatan JCC ini, semoga dapat menjadi salah satu ikon promosi dan peluang menarik bagi segenap pelaku usaha maupun masyarakat pemerhati seni budaya di Kota Yogyakarta maupun Daerah Istimewa Yogyakarta secara umum,” ungkap Sumadi.

Lihat juga : https://genpijogja.com/festival-jamu-hingga-wayang-kota-semarakkan-jogja-cross-culture-hari-pertama.html

Load More Related Articles
Load More By Pras Chandrawardhana
Load More In Event