Home News Putri Keempat Sri Sultan HB X Mitoni, Ternyata Tak Ada Dodolan Dawet Di Kraton Jogja

Putri Keempat Sri Sultan HB X Mitoni, Ternyata Tak Ada Dodolan Dawet Di Kraton Jogja

7 min read
0
0
83

Saat yang membahagiakan itu, tiba juga bagi Gusti Kangjeng Ratu (GKR) Hayu & Kangjeng Pangeran Harya (KPH) Notonegoro. Hari ini Selasa (18/6/19) menjadi saksi dan torehan dalam catatan bersejarah.

Di Kagungan Dalem, nDalem Kilen, Karaton Ngayogyakarta, telah berlangsung Upacara Tingkeban. Bagi masyarakat umum, upacara ini tampaknya lebih dikenal dengan sebutan “Mitoni”, yaitu serangkaian upacara adat Jawa yang dilakukan pada bulan ke-7 kehamilan.

Mitoni GKR Hayu

“Acara Mitoni ini sebagai bentuk rasa syukur saya dan istri, kami berdua, atas anugerah yang telah diberikan Gusti Allah karena istri saya sudah mengandung tujuh bulan, anak pertama kami,” ujar Kangjeng Pangeran Harya (KPH) Notonegoro saat berjumpa dengan rekan media dua hari sebelumnya.

“Karena Mitoni cukup jarang dilaksanakan, maka upacara Mitoni ini akan di dokumentasikan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat,” lanjutnya. “Upacara ini diharapkan dapat turut nguri-uri tradisi yang berlangsung di lingkungan Karaton Ngayogyakarta.”

Mitoni GKR Hayu

Dalam upaya pelestarian budaya Jawa, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat senantiasa merawat dan mempertahankan adat dan tradisi leluhur hingga saat ini. Salah satu contoh yang berkaitan dengan hal tersebut adalah  pelaksanaan Upacara Tingkeban atau Mitoni ini, yang digelar sebagai salah satu bagian dari proses daur hidup manusia.

Di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, berbagai macam hal diejawantahkan menjadi acara-acara khusus yang dikenal dengan istilah “Hajad Dalem”. Hajad Dalem secara harfiah diartikan sebagai upacara, perayaan, atau selamatan yang diselenggarakan oleh Sultan.

Saat ini, ada beberapa Hajad Dalem yang sudah jarang dilaksanakan. Hal ini disebabkan situasi yang tidak memenuhi syarat sebuah upacara dinyatakan sebagai Hajad Dalem. Sebagai contoh, Upacara Tingkeban atau Mitoni disebut sebagai Hajad Dalem apabila yang mengandung adalah Garwa Dalem. Oleh karena itu, pranatan atau aturan tertulis mengenai upacara adat ini sulit dijumpai.

Upacara Tingkeban atau Mitoni diselenggarakan pada saat usia kehamilan tujuh bulan akan masuk delapan bulan. Berbagai catatan menyebutkan tentang adanya peringatan pada bulan-bulan awal kehamilan. Namun demikian, upacara-upacara pada masa awal kehamilan tersebut umumnya bersifat domestik, dilakukan oleh keluarga ibu yang sedang hamil tanpa mengundang tetamu.

Mitoni GKR Hayu

Dalam tradisi Karaton Ngayogyakarta, upacara Tingkeban diselenggarakan pada hari Selasa atau Sabtu hanya pada kehamilan yang pertama.

Ada 20 tahapan yang harus dilalui oleh Gusti Kangjeng Ratu (GKR) Hayu selama prosesi Upacara Tingkeban atau Mitoni berlangsung, antara lain Miyos Dalem, Doa, Ngabekten, Santun, Sileman Cangkir, Ngrantun Toya Siraman, Nata Lemek Lenggah, Siraman, Muloni, Mecah Pamor, Gantos Busono Kering, Pantes-pantes, Nigas Janur, Brojolan, Boyong Cengkir, Lenggah Petarangan, Boyong Petarangan, Dhahar Rogoh, Andrawina, dan Paripurna.

Pada saat upacara pantes-pantes, ada tujuh kain yang digunakan. Semuanya mem­punyai makna (angsar) yang bagus. Tujuh kain tersebut adalah grompol, sido asih, semen rama, sidomukti, sido luhur, kasatriyan, dan lurik lasem. Semua motif kain yang dipilih mempunyai maksud agar anak yang dilahirkan kelak mempunyai tabiat dan kedudukan yang baik.

Bagian paling menarik, adalah kain lurik. Meskipun terlihat tidak mewah, lain lurik dianggap paling pantas dikenakan dengan maksud agar anak yang dilahirkan tidak lupa asal-usul dan selalu bersikap sederhana.

Berbeda dengan Upacara Tingkeban atau Mitoni yang umumnya dilakukan di luar dinding Kraton, Upacara Tingkeban atau Mitoni para putri Karaton Ngayogyakarta tidak mengenal Dodolan (berjualan) Rujak dan Dawet yang biasa orang-orang lakukan sebagai bagian dari Upacara Tingkeban atau Mitoni.

Mitoni GKR Hayu

Upacara Tingkeban atau Mitoni ini berlangsung tertutup di Kagungan Dalem Karaton Ngayogyakarta. Tamu undangan yang berjumlah sekitar 50 orang, di dominasi oleh keluarga dan teman dekat Gusti Kangjeng Ratu (GKR) Hayu & Kangjeng Pangeran Harya (KPH) Notonegoro. Hadir pula para istri Bupati dan Wakil Bupati dari Kabupaten/Kota se-DIY.

Gusti Kangjeng Ratu (GKR) Hayu merupakan putri keempat dari Sri Sultan HB X dengan Gusti Kangjeng Ratu (GKR) Hemas. Beliau menjabat sebagai Penghageng Tepas Tandhayekti Kraton Jogja setelah menamatkan pendidikannya di Inggris dan Amerika. Gusti Kangjeng Ratu (GKR) Hayu dianggap sebagai ikon dari putri kraton masa kini karena berhasil membawa Kraton Jogja terdepan dalam urusan IT.

“Harapannya, semua pihak berkenan untuk turut mendoakan agar Gusti Kangjeng Ratu Hayu dianugerahi kesehatan dan diberi kelancaran hingga proses kelahiran nantinya,” ujar Kangjeng Pangeran Harya Notonegoro.

Sebuah harapan dan ajakan yang melibatkan banyak orang! Dalam tafsir bebas warga biasa, ini mengandung makna sebuah kerendahan hati melalui ajakan terbuka dan permohonan untuk memberikan dukungan doa dalam mengiringi proses kehamilan hadirnya sang buah hati.

Load More Related Articles
Load More By pacarkecilku
Load More In News