Home Buku Perempuan Yang Mencintaimu Dalam Kesunyian

Perempuan Yang Mencintaimu Dalam Kesunyian

6 min read
0
1
71

“3 orang! Satu pria dua wanita, betapa ramainya hubungan ini”

Cerita ini dibuka dengan sebuah dialog sepasang kekasih yang mempertanyakan akan kemana arah ujung kisah cinta mereka. Pernyataan kaburpun sempat terlontar dari mulut Mas Huda, seorang lelaki gagah berdada bidang yang sedang duduk di ujung kasur. Namun nyatanya sampai detik ini kata-kata itu hanya menjadi sebuah omong kosong belaka saja. Tidak ada kejelasan. Pembicaraan merekapun tak pernah benar-benar berakhir pada sebuah kesimpulan.

Perempuan Yang Mencintaimu Dalam Kesunyian
Perempuan Yang Mencintaimu Dalam Kesunyian

Perempuan Yang Mencintaimu Dalam Kesunyian adalah sebuah buku yang terbit pada tahun 2016 dan dicetak ulang di tahun 2018 oleh penerbit yang sama: Bening Pustaka Yogayakarta. Buku dengan cover dominan warna merah yang bercampur dengan jingga ini, bisa langsung kita tebak tema cerita apa yang terkandung di dalamnya. Mulai dari pemilihan judul yang menarik, hingga dilengkapi dengan ilustrasi seorang wanita yang sedang memejamkan mata. Memudahkan kita untuk menerkanya: tema cinta atau percintaan.

Namun, meskipun tema cinta telah banyak diangkat sebagai cerita dan banyak pula beredar di pasaran. Vita Agustina sebagai penulis mampu menawarkan sesuatu yang segar dalam karyanya. Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, buku ini memang menyuguhkan sebuah perspektif baru. Suatu pandangan yang jarang disentuh dalam kisah-kisah serupa yang bertemakan cinta. Si penulis dengan berani menjadikan karakter yang kerap dianggap ‘antagonis’ terkesan menjadi seorang ‘protagonis’.

Melalui sudut pandang si tokoh utama, Tata (Anggita), kita akan diajak melihat dan sadar bahwa manusia sedemikian manusianya yang memiliki keterbatasan juga kelebihan serta keserbamungkinan. Pada kenyataannya kita sering lupa dan gampang sekali mencap ataupun mengkotak-kotakan seseorang karena dianggap telah melakukan suatu hal yang salah.

Kisah ini bermula pada sebuah perkenalan dengan seorang pria, yang kelak akan kita kenal sebagai Mas Huda. Yang tanpa sengaja membawa Tata pada sebuah hubungan yang rumit dan melelahkan. Bagaimana tidak, Tata yang menyebut dirinya si gadis Sephia sering kali dihadapkan pada pergolakan batinnya sendiri. Sebagai kekasih gelap, sebetulnya ia memiliki kesadaran penuh atas naluri kewanitaannya. Naluri yang mengatakan jika hubungannya dengan Mas Huda adalah hubungan yang salah. Apa yang telah dilakukannya sangat egois dan membuat perasaan wanita lain terluka.

Di sisi lain, perasaan cintanya yang begitu kuat menjelma menjadi sebuah ketergantungan. Ketidakberdayaan lagi-lagi membuatnya jatuh pada pelukan yang sama. Tata sedang menabung sakit untuk dirinya sendiri atau mungkin hanya menunda patah hati yang akan dialaminya.

Dilihat dari segi mana pun, Tata tidak lebih beruntung dari Destri kekasih resmi Mas Huda. Destri memiliki ketenangan batin yang tak pernah didapatkan oleh Tata. Destri tidak pernah tahu jika tunangannya sedang berbagi kamar dengan wanita lain. Destri tidak pernah cemas ketika kekasihnya pamit kembali ke kotanya. Seperti Tata yang selalu cemas ketika kekasih gelapnya itu pamit dengan canggung untuk pergi ke jakarta dengan alasan akan menengok orang tuannya.

Lebih ironinya lagi, Tata tak mampu berbuat banyak ketika mendengar rencana pernikahan kekasihnya itu. Bahkan untuk sekedar cemburupun Tata merasa tidak berhak. Ia hanya bisa menahan segala sakitnya sendirian. Ditambah, keraguan Mas Huda-lah yang membuat segalanya menjadi semakin rumit. Dengan diamnya pun, Tata bisa tahu jawaban dari kumpulan pertanyaan yang selama ini ia tutup rapat.

“Aku tak pernah ada di hitungan masa depan Mas Huda”

Di dalam buku Perempuan Yang Mencintaimu Dalam Kesunyian, kita mendapati sesuatu hal yang jarang dibicarakan. Sejatinya, tidak ada satupun wanita di dunia ini yang rela berbagi atau pun diduakan. Sekalipun wanita itu adalah kekasih gelap dari lelaki yang telah bertunangan.

Judul: Perempuan Yang Mencintaimu Dalam Kesunyian

Penulis: Vita Agustina

Penerbit: Bening Pustaka Yogyakarta

Tahun terbit: 2018, cetakan kedua

Ukuran buku: 13 x 19 cm

Jumlah halaman: vi + 93 Halaman

Baca juga artikel menarik lainnya Mochamad Ripki.

Load More Related Articles
Load More By Mochamad Ripki
Load More In Buku