Pembukaan Simposium Kraton Jogja, Begini Pesan Sri Sultan HB X Buat Milenial

5 min read
0
119

genpijogja.com – Simposium Internasional Budaya Jawa: Busana dan Peradaban Keraton Yogyakarta digelar di Kasultanan Ballroom Royal Ambarrukmo Hotel pada Senin (09/03) pagi. Sejumlah pembicara dalam dan luar negeri turut mengisi diskusi ilmiah yang diadakan selama dua hari ini. Simposium dibuka secara langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hayu selaku Ketua Panitia Simposium Internasional Budaya Jawa.

Pembukaan Simposium Internasional Kraton Jogja 20202

Simposium Internasional Budaya Jawa kali ini merupakan rangkaian acara dari Mangayubagya Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X ke-32 menurut penanggalan Jawa. Mengusung tema Busana dan Peradaban Keraton Yogyakarta, Simposium Internasional terbagi menjadi 4 sesi.

Pada hari pertama membahas Sesi Sejarah dan Sesi Filologi. Masing-masing sesi mendatangkan akademisi terbaik di bidangnya. Seperti Pendiri Tracing Pattern Foundation USA Dr. Sandra Sardjono yang mengkaji “Depictions of Textiles in Ancient Java 8th – 15th Century”, juga salah satu pembicara call for paper Dyah Indrawati dari Universitas Sanata Darma Yogyakarta yang memaparkan “Mode, Kostum, Dan Kultur Orang Jawa Dalam Arsip Litografi”.

“Dalam rangka Mangayubagya Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, tahun 2019 lalu Keraton Yogyakarta mengadakan simposium internasional budaya jawa yang pertama. Hal tersebut juga dalam rangka menyambut diserahkannya 75 manuskrip dalam bentuk digital yang naskah aslinya tersimpan di Inggris sejak ratusan tahun lamanya”, tutur GKR Hayu dalam sambutan pembukaan Simposium Internasional Budaya Jawa.

“Tentu saja, dalam naskah-naskah tersebut tersimpan berbagai ilmu pengetahuan, kekayaan budaya, dan catatan-catatan penting mewarnai perjalanan Keraton Yogyakarta. Dengan harapan agar ilmu pengetahuan dan kekayaan budaya tersebut dapat dipahami oleh generasi saat ini, maka ruang-ruang diskusi dan penelitian akademis terkait Budaya Jawa dan Keraton Yogyakarta harus dibuka”, lanjut beliau.

Pembukaan Simposium Internasional Kraton Jogja 20201

Simposium Internasional Budaya Jawa: Busana dan Peradaban Keraton Yogyakarta kali ini menandai transisi Keraton Yogyakarta ke era digital. Selain itu, dalam rangka melestarikan kekayaan budaya, Keraton Yogyakarta berusaha memperkenalkan budaya Jawa kepada generasi muda. Harapannya, para milenial akan tertarik untuk mempelajari dan meneliti budaya Jawa, agar tidak hilang ditelan zaman.

“Kini Keraton sedang menata diri memasuki Era Digitalisasi. Demikian juga terhadap warisan busana berikut naskah-naskahnya, agar terbaca dan dikenal oleh generasi milenial. Karakteristik Keraton Milenial adalah adanya proses digitalisasi dan otomisasi untuk seluruh pengelolaan Keraton yang terkoneksi dengan sistem nasional, bahkan global, tanpa meninggalkan akar budayanya”, jelas Sri Sultan Hamengku Buwono X kepada rekan media.

Menurut Ngarsa Dalem, generasi muda tak sepenuhnya abai terhadap tanggung jawab melestarikan budaya Jawa. Mereka masih memiliki ketertarikan dan minat mempelajari budaya Jawa. Hal tersebut yang terus diusahakan oleh Keraton Yogyakarta, salah satunya melalui Simposium Internasional Budaya Jawa dan Pameran Budaya Jawa ABALAKUSWA : Hadibusana Keraton Yogyakarta.

“Hari pertama Pameran Abalakuswo, sudah sekitar 1300 pengunjung datang. Hari kedua pun, banyak orang sudah mengantre untuk masuk pameran. Kami berusaha agar acara ini akan menjadi acara tahunan Keraton Yogyakarta”, tutur GKR Bendara pada saat press conference Simposium Internasional Budaya Jawa.

Pembukaan Simposium Internasional Kraton Jogja 2020

Simposium Internasional Budaya Jawa: Busana dan Peradaban Keraton Yogyakarta berlangsung hingga hari ini, untuk membahas Sesi Seni Pertunjukkan dan Sesi Sosial Budaya. Sedangkan Pameran Budaya Jawa ABALAKUSWA: Hadibusana Keraton Yogyakarta masih akan berlangsung selama satu bulan, mulai tanggal 8 Maret 2020 sampai 4 April 2020, setiap hari di Keraton Yogyakarta.

Pameran dibuka pukul 09.00-16.00 WIB untuk hari Senin-Kamis dan pukul 09.00-21.00 WIB khusus hari Jumat-Minggu. Pengunjung hanya perlu membayar tiket masuk seharga Rp 5000,- untuk sebuah pengalaman menelusuri mesin waktu busana dan peradaban di Keraton Yogyakarta.

Load More Related Articles
Load More By hsnfarra
Load More In News