Peluncuran Batik dan Tiket Sebagai Perkenalan Wajah Baru Museum Keraton Yogyakarta

5 min read
0
42

Pada hari minggu, 2 Oktober 2022, Keraton Yogyakarta menggelar “New Appearence of Yogyakarta Palace’s Museum” di Bale Raos Kecamatan Kraton dengan menghadirkan 2 (dua) narasumber yaitu Raras selaku bagian tim seni pertunjukan dan tata busana keraton dan GKR Bendara sebagai Penghageng Kawedan Hageng Nitya Budaya. Bertepatan dengan hari Batik Nasional, acara ini diadakan dalam rangka peluncuran batik dan tiket sekaligus memperkenalkan wajah baru dari Museum Keraton Yogyakarta.

Katalog Digital Awisan Dalem Bathik menjadi sorotan utama yang disebutkan selama perbincangan oleh kedua narasumber. Katalog tersebut merupakan dokumentasi motif larangan dari berbagai motif batik di keraton yang bersumber dari penggalian arsip sejak masa Sri Sultan Hamengku Buwono I dan juga ornamen hias batik yang berkembang dari masa ke masa. Kanjeng Pangeran Haryo Notonegoro sebagai penanggungjawab produksi katalog mengajak para pemerhati batik, praktisi seni batik, dan pecinta batik untuk turut memberi masukan agar katalog dapat menjadi tolak ukur bagi masyarakat dalam berbusana kain batik.

Raras selaku tim bagian seni pertunjukan dan tata busana menjelaskan ada banyak versi kisah yang beredar di kalangan masyarakat mengenai motif batik larangan. Sebagian besar masyarakat awam masih belum memahami tentang aturan penggunaan batik larangan. Berangkat dari itulah, KPH Notonegoro memprakarsai adanya penulisan Katalog Digital Awisan Dalem Bathik. Hal ini dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan dan pemakaian motif batik larangan yang tidak sesuai dengan aturan Keraton Yogyakarta.

“Kami ingin membuka wawasan sekaligus mengajak masyarakat untuk ikut nguri-uri batik awisan agar mereka dapat menempatkannya dengan tepat.” Ujar GKR Bendara. Beliau mengungkapkan bahwa aturan pemakaian motif batik awisan merupakan bagian dari bentuk apresiasi Keraton Yogyakarta terhadap eksistensi batik awisan sebagai masterpiece dari keraton yang telah ada sejak 250 tahun yang lalu.

Selain meluncurkan katalog digital, Museum Keraton Yogyakarta di bawah Kawedan Radyakartiyoso juga merilis motif batik baru sebagai bentuk turut sertanya dalam menjaga keletarian tradisi wastra. Motif yang dinamai batik Radyakartiyasa ini khusus diperuntukkan untuk edukator resmi Museum Keraton Yogyakarta.

Pembuatan motif batik Radyakartiyoso ini disebut sebagai perjalanan panjang karena terdapat berbagai tantangan seperti adanya ornament yang gagal menjadi motif. Namun pada akhirnya, tim seni pertunjukan dan tata busana Keraton Yogyakarta berhasil menciptakan motif batik baru yang terinspirasi dari ornament hias flora di bangunan keraton.

Ornamen pada Saka Regol Danapratapa yang motifnya berpola ceplok distilisasi menjadi motif menyerupai bunga padma/sekar. Hal ini selaras dengan tugas edukator museum yang memandu tamu/wisatawan, mereka merupakan ujung tombak dalam syiar budaya keraton yang diharapkan menjadi sumber ilmu dari setiap pemakainya.

Wajah baru dari Museum Keraton Yogyakarta diperkenalkan dengan adanya pembaruan tiket dan penataan baru dari masing-masing museum. Terdapat 4 unit usaha keseluruhan dalam keraton, antara lain Unit Pagelaran, Unit Kedaton, Unit Tamansari, dan Unit Wahana Rata yang sebelumnya dikenal sebagai Museum Kereta.

Unit Kedaton sendiri memiliki museum dengan tema khusus diantaranya Museum Daur Hidup, Gedhong Lukisan, dan Living Museum sebagai representasi kehidupan sehari-hari di keraton. GKR Bendara menyebutkan bahwa Museum Keraton Yogyakarta akan tetap mempertahankan intisari dan esensinya meskipun dikemas dengan cara yang berbeda.

Tiket masuk Museum Keraton Yogyakarta dapat dibeli langsung di lokasi dengan harga untuk wisatawan lokal sebesar Rp. 7000 sementara bagi wisatawan mancanegara sebesar Rp. 12.500. 

Load More Related Articles
Load More By Dzatarisa Almas
Load More In Event