Pekan Budaya Difabel 2019, Berantas Diskriminasi Lewat Operet Inklusi

6 min read
0
16

genpijogja.com – Operet Inklusi “Jalan Menuju Cahaya” sukses dipentaskan di Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta pada Rabu (20/11) sore.

Operet Inklusi merupakan bagian dari Pekan Budaya Difabel 2019. Sebelumnya, Pekan Budaya Difabel sudah berlangsung selama 5 (lima) hari terhitung sejak 16 November hingga 20 November 2019. Operet Inklusi merupakan puncak acara dari Pekan Budaya Difabel 2019.

Endang Sundayani ketika menyanyikan lagu "Hero"
Endang Sundayani ketika menyanyikan lagu “Hero”

Operet Inklusi “Jalan Menuju Cahaya” merangkul kawan-kawan difabel dan sejumlah komunitas, antara lain Bawayang, Nalitari, Tedjo Badut, Sasana Adiswara, Piramid Soulz, seniman asal Malang Arif One Leg Dance, Ansambel Anak Nusantara dan Beatboxing of Jogja.

Mengusung cerita tentang menemukan kesempurnaan dalam ketidaksempurnaan, Operet Inklusi mengisahkan sosok perfeksionis yang bersinggungan dengan tokoh tak sempurna, sosok bersayap yang duduk di kursi roda. Kedua tokoh, di akhir cerita, menemukan makna dari kesempurnaan dalam ketidaksempurnaan, yakni lewat indahnya bersyukur.

Operet Inklusi menampilkan Ninit Ungu, Endang Sundayani, Arif One Leg, Ihsan Kurniawan, Uul Syarifahlail, Eskhana Carmelia, Vivi Cinoohh, Aldo Adriansyah, Dewi Qurrota Ayun dan Andri Septio Wibowo. Disutradarai oleh Broto Wijayanto, tata musik apik oleh Dwipa Hangghana, serta sederet lagu ciptaan Rafael Sigit yang turut mengisi jalan cerita Operet Inklusi.

Salah satu adegan Operet Inklusi "Jalan Menuju Cahaya"
Salah satu adegan Operet Inklusi “Jalan Menuju Cahaya”

“Kami tidak membuat pertunjukkan yang luar biasa hari ini, mohon maaf. Tetapi kami mengumpulkan semangat, kemampuan dan motivasi dari teman-teman sekalian yang nanti akan kita saksikan bersama di sini. Harapannya Anda semua akan mampu melihat, merasakan betapa hebatnya mereka”, ujar sutradara Operet Inklusi, Broto Wijayanto.

Operet Inklusi diperankan oleh sejumlah mahasiswa ISI serta teman-teman difabel kecuali penyandang tuna netra. Penyandang tuna netra tampil di acara lain yang masih dalam rangkaian Pekan Budaya Difabel 2019. Operet Inklusi berlangsung selama 1,5 jam lengkap dengan tata lampu, properti dan tata musik yang menghidupkan cerita.

Suasana haru, jenaka, sekaligus penuh pengharapan tersebut disambut meriah oleh penonton. Baik dengan tepuk tangan keras, maupun bahasa isyarat penanda apresiasi ekspresi seni dari teman-teman difabel.

“Sore hari ini, kami mengumpulkan serpihan-serpihan hati yang selama ini berceceran. Kami menyatukannya dalam pertunjukkan ini”, tutur Broto.

Operet Inklusi diakhiri dengan sesi foto bersama pemain sekaligus kesempatan untuk memberikan dukungan kepada teman-teman difabel. Sontak penonton menghambur ke panggung dan langsung menyambut para pemain tanpa canggung. Operet Inklusi sendiri dipentaskan dalam dua sesi, yakni sesi sore dan malam hari.

“Semoga menginspirasi”, ucap pemeran tokoh malaikat bersayap, Endang Sundayani.

Pekan Budaya Difabel merupakan program khusus dari Jambore Difabel yang diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan DIY pada tahun 2016. Program tersebut telah tiga kali dilaksanakan dan mendapatkan apresiasi baik dari komunitas difabel maupun masyarakat.

Pekan Budaya Difabel 2019 mengambil tema “Turning Point” atau titik balik. Tema tersebut berdasarkan pemahaman bahwa setiap orang memiliki momen kebangkitan dalam hidupnya. Semangat itulah yang berusaha ditularkan Pekan Budaya Difabel 2019 kepada masyarakat, dengan terus membangun diri, menguatkan dukungan, serta meningkatkan kualitas infrastruktur di lingkungan inklusi.

Hal tersebut diwujudkan dalam rangkaian acara Pekan Budaya Difabel 2019 selama lima hari di Taman Budaya Yogyakarta. Dimulai dari peluncuran buku bertema “Turning Point” dalam bahasa Braile dan bahasa Indonesia. Kemudian seminar dan peluncuran buku “Turning Point” yang dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan DIY Aris Eko Nugroho, Guru Besar Antropologi FIB UGM Heddy Shri Ahimsa-Putra, pendiri Organisasi Harapan Nusantara Risnawati Utami, dan jurnalis sekaligus filmmaker Ucu Agustini.

Selain itu, ada pameran hasil kerajinan, kuliner dan alat bantu kursi roda. Juga aneka workshop, antara lain workshop tari bersama Nalitari, workshop art therapy “Moekti”, workshop parenting berbasis fisioterapi, workshop UMKM difabel dan kelas isyarat bersama Bawayang.

Melalui rangkaian acara tersebut, harapannya masyarakat semakin sadar akan pentingnya kesejahteraan difabel dan inklusi sosial di lingkungan sekitar. Hingga nantinya terwujud ruang gerak yang nyaman tanpa diskriminasi bagi para difabel di Jogja.

Load More Related Articles
Load More By hsnfarra
Load More In Event