Home Kuliner Pedas ‘Semelenget’ Ala Entok Slenget Kang Tanir

Pedas ‘Semelenget’ Ala Entok Slenget Kang Tanir

7 menit waktu baca
270
Entok Slenget Kang Tanir
Entok Slenget Kang Tanir

Dingin menggigit malam itu tidak menghalangi saya untuk mencoba olahan entok satu ini. Entok Selenget Kang Tanir namanya. Mungkin sebagian dari kalian sudah pernah mencicipi olahan entok yang terkenal dengan ciri khas pedasnya tersebut.

Namun bagi saya, ini merupakan kali kedua saya kesini setelah bertahun-tahun yang lalu. Terbayang-bayang dalam pikiran, sepiring entok dan nasi. Kedua hal ini, sukses membuat perut saya bernyayi menagih untuk segera diisi. Tak banyak menunggu lagi, saya segera memacu kuda besi menuju utara Jogja.

Kurang lebih saya menempuh perjalanan 40 menit dari pusat kota Jogja. Perjalanan cukup lancar karena akses menuju Entok Selenget Kang Tanir ini sudah beraspal. Untuk teman-teman yang ingin kesana tapi takut tersasar berikut link Google Maps yang dapat dijadikan panduan. Klik di sini. Pastikan kalian datang saat jam buka yaitu pukul 16.00 – 22.00 WIB.

Setibanya di Entok Selenget Kang Tanir, saya segera memakirkan sepeda motor. Tak lupa saya melihat sekeliling parkiran untuk melihat ketersediaan parkir untuk kendaraan roda empat. Siapa tahu di kedatangan berikutnya, saya membawa mobil. Setelah mengecek dan memastikan lahan parkir cukup luas untuk kendaraan roda empat, saya melangkahkan kaki masuk.

mbak wulan - Entok Slenget Kang Tanir
mbak wulan – Entok Slenget Kang Tanir

Begitu masuk, saya langsung disapa oleh seorang perempuan. Ia menanyakan apa yang saya ingin pesan dan pilihan tingkat kepedasan. Langsung saja saya memesan sepiring entok dengan tingkat kepedasan yang tidak terlalu pedas. Jujur saja, saya tidak begitu tahan pedas. Sembari menunggu pesanan dibuat, saya berbincang dengan perempuan yang menyapa saya. Namanya adalah Mbak Wulan, anak dari Pak Tanir pemilik Entok Selenget Kang Tanir.

Mbak Wulan sedikit bercerita mengenai asal usul Entok Selenget Kang Tanir sambil meracik pesanan di dapur. Yup. Kalian bisa melihat secara langsung Mbak Wulan mengolah daging entok karena ruang dapur dan ruang makan terletak bersebelahan. Kalau kata anak mudan zaman sekarang, konsepnya open kitchen.

Entok Slenget Kang Tanir
Entok Slenget Kang Tanir

Mbak Wulan bercerita, nama selenget berasal dari olahan entok yang pedas mengigit. Kalau kata orang “semelenget” sehingga dinamakan Entok Selenget Kang Tanir. Nama Kang Tanir sendiri diambil dari nama Pak Tanir yang merupakan pemilik dari Entok Selenget Kang Tanir.

Pak Tanir sendiri telah berjualan sejak 2006 akhir dan beberapa kali pindah tempat. Tempat terakhir ini beliau tempati sejak tahun 2014. Dalam semalam tak kurang dari 12 ekor entok diolah untuk para pelanggan Entok Selenget Kang Tanir. Khusus untuk weekend Pak Tanir mengeluarkan 15 ekor entok.

Di Entok Selenget Kang Tanir juga tersedia balungan entok bagi penggemar balungan. Sepiring balungan dihargai Rp 25.000 sedangkan kalau sepiring entok yang berisikan daging dihargai Rp 30.000. Kedua harga ini sudah termasuk secenting nasi, sepiring timun, dan sepiring kubis.

Bagi penggila makanan pedas, kalian bisa mencoba kemampuan dengan request jumlah cabai yang kalian inginkan. Kata Mbak Wulan, rekor cabai yang dipesan hingga saat ini berjumlah 25 cabai. Wow!

Entok Slenget Kang Tanir
Entok Slenget Kang Tanir

Tak terasa pesanan telah selesai dibuat oleh Mbak Wulan dan siap diantarkan. Saya pun beranjak dari  dapur menuju ruang makan. Saya memilih duduk lesehan, karena lebih nyaman. Makan enak, ngobrol dengan teman sambil kaki diselonjorkan.

Sepiring daging entok, secenting nasi, sepiring timun, dan sepiring kubis tersaji di depan mata. Tak lupa saya memesan segelas air es sebagai teman makan. Segera, saya menyantap hidangan ini. Cita rasa pedas manis dan bumbu rempah-rempah kuah dari olahan entok segera memenuhi mulut. Ditambah lagi sensasi segar dari timun dan kubis menambah kenikmatan setiap suap nasi dan daging entok yang masuk ke mulut.

Awalnya saya sempat khawatir dengan daging entok. Takut kalau dagingnya keras, tetapi ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti. Daging entoknya tidak keras sama sekali. Hal ini juga disetujui oleh Maya, salah satu pengunjung yang malam itu juga menikmati Entok Slenget Kang Tanir. Maya mengaku sudah dari lama berlangganan Entok Selenget Kang Tanir ini. “Bumbunya pas di lidah, terus potongan dagingnya juga tidak pelit”, ujar Maya.

Entok Slenget Kang Tanir
Entok Slenget Kang Tanir

Entok Selenget Kang Tanir memberikan pengalaman kuliner tersendiri bagi saya. Walaupun tempatnya cukup jauh tetapi rasa yang ditawarkan tidak mudah dilupakan. Sensasi pedas semelengetnya ini yang membuat saya tertarik untuk datang kembali.

Buat kalian penggila makanan pedas, gimana kalau kalian mencoba sendiri sensasi pedas semelenget Entok Selenget Kang Tanir ini. Dijamin bakal ketagihan.

Selamat Membahagiakan perut teman-teman!

Muat Lagi Dari Rezarizkii
Muat Lebih Banyak Di Kuliner