Pedas Kandas di Ayam Geprek Bu Rum Jogja

9 min read
0
308

Matahari semakin beranjak tinggi selaras dengan suara perutku yang mulai bergemuruh. Perutku sudah mulai protes menagih untuk segera diisi. Kebetulan juga rutinitasku dengan mama di salon kecantikan harga mahasiswa Jogja telah usai. Sempat bertanya pada mama ingin makan apa yang dijawab oleh mamaku “Pokoknya harus bisa pedes. Kalo ga pedes kurang greget, dek.” Yah, bisa dibilang mama sedikit ‘rewel’ kalo soal makanan, harus bisa nyari yang pedas.

Aku mulai menggali ingatanku, kira-kira apa ya makan siang yang bisa pedas. Sambil memundurkan mobil dari parkiran salon, tiba-tiba aku teringat ketika tengah bulan ingin makan sesuatu yang pedas, ramah kantong mahasiswa, dan porsinya banyak. Seketika Ayam Geprek Bu Rum lah tempat yang aku tuju.

Langsung saja aku mengarahkan mobil ini ke warung tenda Ayam Geprek Bu Rum 1 yang beralamatkan di Jl. Wulung Lor Papringan, Caturtunggal, Depok, Sleman, Jogja.

Ayam Geprek Bu Rum

Sebenarnya Ayam Geprek Bu Rum ini memiliki beberapa cabang yang tersebar di Jogja tetapi ketika ingin ke Ayam Geprek Bu Rum pastilah aku selalu memilih yang berlokasi di daerah Papringan ini. Salah satu alasannya adalah Ayam Geprek Bu Rum yang berlokasi di Papringan ini adalah yang pertama ada dan telah berjualan sejak tahun 2003.

Sambil menyetir mobil sedikit teringat kenangan bersama kakakku. Lagi-lagi, dialah yang mengenalkanku dengan Ayam Geprek Bu Rum ini saat aku berkunjung ke Jogja beberapa tahun silam. “Kemarin sudah makan mie ayam kan, siang ini mbak pengen makan nasi. Ke Ayam Geprek Bu Rum ya?” kata kakakku pada saat itu.

Warung tenda sederhana dan harus berjubel di antara pengunjung yang kelaparan adalah sedikit kenanganku saat itu tetapi yang paling kuingat adalah rasa dari si Ayam Geprek Bu Rum sendiri. Gurihnya tepung crispy dan bumbu ayam yang meresap, ditambah pedas dan sedikit ada rasa asin dari sambal ulek.

Kedua elemen ini disatukan di dalam sebuah piring dan membuat aku selalu rindu geprekannya. Sejak saat itu, Ayam Geprek Bu Rum menjadi salah satu warung tenda favoritku.

Tak terasa, mobil yang aku kendarai telah mendekati tempat tujuan. Warung tenda sederhana seperti dalam ingatanku tampak dari kaca mobilku. Ahh, ada perasaan kangen melanda sudah lama aku tak kemari.

Segera aku parkirkan mobilku di sebelah warung tenda tersebut. Aku sungguh beruntung, jam makan siang telah usai, warung tenda tampak lenggang. Aku jadi lebih leluasa untuk memilih tempat duduk karena biasanya bila sedang penuh oleh mahasiswa dan pekerja kantoran yang makan di jam makan siang. Aku harus sedikit bersabar menunggu tempat duduk yang kosong atau terkadang mau tak mau berdesakan dengan mereka.

Warung tenda yang buka mulai pukul 08.00 hingga 21.00 WIB ini menurutku mempunyai sistem semi self service. Pengunjung diperkenankan untuk mengambil sendiri nasi dan memilih lauk untuk di geprek. Kalau aku memiliki cara tersendiri untuk makan di Ayam Geprek Bu Rum ini.

Aku akan mengambil dua buah piring rotan yang aku alasi dengan kertas makan. Satu piring akan aku isi dengan dada ayam crispy yang paling besar yang bisa aku temukan diantara ayam-ayam crispy lainnya. Terkadang aku juga menambahkan tahu atau tempe sebagai pelengkap. Piring lainya akan aku isi dengan nasi yang cukup banyak dan tak lupa beberapa sendok sayur.

Berikutnya piring yang berisikan dada ayam aku serahkan kepada orang yang bertugas menggeprek dan jangan lupa pula untuk menyebutkan jumlah cabai yang diinginkan. Untukku yang tak terlalu tahan dengan pedas dua cabai dirasa cukup sedangkan untuk mamaku sepuluh cabai barulah terasa mantap.

Di sini kalian bisa menyesuaikan berapa jumlah cabai yang akan digeprek sesuai kemampuan. Iseng saya bertanya kepada Mas Arif yang siang itu bertugas menggeprek ayam saya.

“Mas berapa kg cabai yang digunakan dalam sehari?” tanya saya.

“Wah mbak bisa sampai 10 kg cabe mbak dalam sehari” jawabnya di sela menggeprek ayamku.

Ayam Geprek Bu Rum

Aku mengambil ayamku yang telah selesai di geprek dan kemudian duduk di salah satu bangku panjang yang menghadap ke jalan. Sendokan pertama adalah penentu kenikmatan selanjutnya. Aku menyendok potongan ayam terbesar dari piring dan kutambahkan nasi serta sayur.

Pedas mengigit langsung terasa di lidah. Suapan demi suapan, aku mulai ke pedasan. Kutambahkan sedikit kecap agar terasa sedikit manis di lidah. Ketika aku menandaskan makananku, keringat mulai mengucur di mukaku. Bibir terasa panas sambil ber-huh-hah menahan pedas. Dua gelas air es kuhabiskan untuk meredakan pedasnya.

Ayam Geprek Bu Rum

Makanan di piring telah tandas dan sudah waktunya membayar. Aku meninggalkan bangkuku menuju kasir. Seporsi ayam geprek dengan nasi dan sayur dihargai Rp 11.000 saja. Cukup ramah kantong apalagi untuk mahasiswa yang bisa mengambil nasi cukup banyak.

Sebelum pulang aku kembali iseng bertanya pada Mas Arif. “Mas, pernah ngulek berapa cabai paling banyak nih?” tanyaku.

“Wah mbak, kalo saya paling banyak 100 cabai. Kalau ibu itu pernah sampai 300 cabai sekali ulek satu ayam, mbak” jawabnya sambil menunjuk seorang ibu yang sedang duduk di ujung tenda.

Aku hanya bisa geleng-geleng saja dan bergidik membayangkan memakan 300 cabai. Langsung mulas rasanya perutku.

Ayam Geprek Bu Rum ini jadi mengingatkanku dengan prinsip ala mahasiswa bahwa makan itu tidak harus di restaurant mewah, warung tenda sederhana saja sudah bisa mengeyangkan perut. Apalagi ditambah ulekan cabai, menu sederhana seperti ayam tepung crispy bisa terlihat mewah bagi kami tentunya.

Bagaimana berniat untuk mencoba Ayam Geprek Bu Rum? Kuat berapa cabaikah Anda?

Load More Related Articles
Load More By Rezarizkii
Load More In Kuliner