Home News Pawai Festival Kebudayaan Yogyakarta Menghadirkan Semangat Toleransi dan Teposliro

Pawai Festival Kebudayaan Yogyakarta Menghadirkan Semangat Toleransi dan Teposliro

7 min read
0
0
72

Kamis, 4 Juli 2019 dilaksanakan pawai dan pembukaan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2019 dengan panggung utama terletak di titik 0 KM. Pawai dijadwalkan akan berlangsung dari pukul 15.00 WIB hingga selesai namun, sejak pukul 14.00 WIB masyarakat sudah antusias memadati area sekitar titik 0 KM dan jalan Malioboro.

Terlihat banyak penonton dari anak-anak hingga orang tua duduk di pinggir jalan menanti acara dimulai. Titik 0 KM dan area sekitarnya menjadi panggung umum perayaan budaya dengan sambutan suka cita. Ada yang hanya sekadar menonton dan ada yang datang khusus untuk melihat sanak saudara peserta pawai atau mendukung daerah masing-masing yang menunjukkan beragam pertunjukkan khas.

Sebelum dibuka, panggung pertunjukan di depan Museum Sonobudoyo menampilkan pertunjukkan musik orkestra yang dipadu dengan gamelan.

Nada-nada apik dari biola, gamelan dan alat musik modern berpadu membawakan beberapa lagu dolanan dan tembang jawa. Setelah terhibur dengan alunan musik orkestra, suguhan selanjutnya adalah alunan lagu Bagimu Negeri yang dibawakan secara instrumental dengan gitar oleh Eros Chandra. Tampak Eros bermain gitar di tengah titik 0 KM dan spontan arus penonton menuju sumber suara. Di bawah langit Jogja yang mendung, lagu Bagimu Negeri terasa sangat syahdu sekaligus bersemangat.

ERos Candra FKY 2019

Usai lagu Bagimu Negeri mengalun, tarian massal komposisi Kinanthi Sandhung oleh 100 penari dari Sanggar Seni Kinanti Sekar, menyemarakkan jalan di depan Museum Sonobudoyo.

Ratusan anak-anak dengan kostum kebaya warna-warni berlarian dan mulai menari. Wajah-wajah ceria dan gerakan lincah memeriahkan suasana. Tarian ini melibatkan anak usia 4 hingga belasan tahun. Setelah menyaksikan pertunjukkan pembuka yang spektakuler MC mengajak semua penonton bersama menyanyikan Lagu Indonesia Raya.

Di atas podium, sambutan pertama disampaikan oleh Ketua Umum FKY 2019, Paksi Raras Alit. Beliau menjelaskan alasan dan maksud “Mulanira” yang menjadi tema besar festival ini.

“Yogyakarta telah menjadi ruang temu beragam kebudayaan sejak lama. Interaksi yang terjadi di dalamnya berlangsung dengan didasari semangat toleransi dan tepa selira, semangat itulah yang akan coba kami hadirkan kembali saat ini.” jelasnya.

Berikutnya, Direktur Kesenian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr. Restu Gunawan, M.Hum., hadir memberikan sambutan. Beliau memberikan motivasi untuk terus berkesenian. “Karena ini penting untuk penguatan dan memperteguh keistimewaaan Yogyakarta, menuju peradaban yang semakin maju dan memberi virus kebaikan ke daerah-daerah lain.” ujarnya.

Beliau juga berpesan agar anak-anak muda jika berlibur harus diisi dengan berkesenian dan berkebudayaan. “Liburan tidak asyik jika tidak berkesenian,” ungkapnya.

Mewakili Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, staf ahli Gubernur DIY Bidang Hukum Pemerintahan dan Politik Drs. Umar Priyono, M.Pd, memberikan sambutan. Beliau menekankan bahwa FKY bukan sekadar arena unjuk kebolehan di bidang kesenian semata, tapi juga menggali segenap potensi kebudayaan yang dimiliki DIY, yang merupakan peninggalan mulai dari Sultan HB I hingga Sultan yang saat ini bertahta.

“Semoga FKY 2019 ini menjadi penanda dan penguat keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, serta turut meneguhkan Indonesia sebagai tujuan budaya yang terkemuka.” jelasnya.

Usai sambutan tersebut, Ketua Umum FKY 2019 – Paksi Raras Alit, Direktur Kesenian Dirjen Kebudayaan RI – Dr. Restu Gunawan, M.Hum, Staf ahli Gubernur DIY Bidang Hukum Pemerintahan dan Politik – Drs. Umar Priyono, M.Pd, dan Kepala Kundha Kabudayan DIY -Aris Eko Nugroho, SP., MSi., bersama-sama secara simbolis membuka Festival Kebudayaan Yogyakarta 2019 dengan menekan tombol klakson di mobil kayuh sebagai simbol dialog budaya massa dan budaya tradisi.

Official Dok FKY2019 - Prosesi pembukaan FKY secara simbolis oleh Paksi Raras Alit, Dr Restu Gunawan MHum, Drs Umar Priyono MPd, Aris Eko Nugroho SP MSi

Iringan pertama yang mengawali pawai adalah para Bregada yang membawa panji FKY. Panji-panji tersebut terdiri dari panji FKY 2019, panji aksara yang berisi filosofi jawa dan panji lokasi. Menyusul para peserta pawai meramaikan jalan Malioboro dan sekitarnya.

Jalan Malioboro yang artinya jalan yang berintaikan bunga-bunga kini benar-benar menjadi penuh warna. Menguarkan semangat kepedulian warga Jogja terhadap seni dan budaya, menunjukkan aksi nyata untuk bergerak bersama, hingga mampu menyuguhkan pertunjukkan untuk dinikmati semua warga.

FKY 2019

Satu persatu kontingen menunjukkan hasil kerja kerasnya dengan menampilkan ragam kostum dan pertunjukkan. Di dalamnya antara lain terdapat kontingan dari Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta yang menampilkan Seni Garapan berupa kostum batik aneka warna kembang hasil karya 20 rintisan kelurahan budaya Kota Yogyakarta.

Kemudian kontingen Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul yang menampilkan beragam permainan tradisional khas daerah ini. Serta kontingen Dinas Kebudayaan Sleman yang menampilkan sajian kuliner khas kabupaten ini.

Paseduluran Angkringan Silat dan Kontingen Dinas Kebudayaan Bantul menampilkan adat tradisi upacara Jala Sutra. Lalu dilanjutkan oleh kontingen dari Dinas Kebudayaan Kulon Progo yang menggelar Parade yang terdiri dari 250 penari angguk dan kontingen lainnya.

FKY 2019 bukan hanya sekadar pesta rakyat tapi juga pertunjukkan besar yang melibatkan banyak pihak untuk menularkan semangat berkesenian dan menjaga kebudayaan. Ruang temu yang menghadirkan semangat toleransi dan teposliro.

Load More Related Articles
Load More By Kazebara
Load More In News