Pamerkan 83 Karya, Pekan Seni Grafis Yogyakarta Jadi Pesta Insan Grafis

6 min read
0
241

genpijogja.com – Pekan Seni Grafis Yogyakarta (PSGY) 2019 secara resmi dibuka pada Sabtu, 14 September 2019. Acara yang dibuka untuk umum mulai pada tanggal 14 hingga 27 September 2019 bertempat di Museum Sonobudoyo (Eks KONI) jalan Pangurakan No.6 Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, DIY.

Pameran Seni Grafis PSGY bakal memamerkan 83 karya dari 62 seniman sejak pukul 10:00 hingga 22:00 WIB setiap harinya ini gratis. Tidak ada tiket masuk.

Pamerkan 83 Karya, Pekan Seni Grafis Yogyakarta Jadi Pesta Insan Grafis
Pamerkan 83 Karya, Pekan Seni Grafis Yogyakarta Jadi Pesta Insan Grafis

Rangkaian Pekan Seni Grafis Yogyakarta diawali dengan Pameran Seni Grafis ini dibuka oleh Ibu Dra. Y. Eni Lestari Rahayu dan Ibu Dra. Purwiati mewakili Dinas Kebudayaan DIY, serta Bapak Bambang “Toko” Witjaksono selaku Kurator.  Pekan Seni Grafis Yogyakarta  secara resmi dibuka lewat prosesi mencetak Logo Pekan Seni Grafis Jogja 2019 pada media kertas dengan menggunakan teknik relief print.

Pekan Seni Grafis Yogyakarta adalah sebuah program yang diinisiasi oleh Studio Grafis Minggiran bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Tujuan diselenggarakan acara ini untuk  memasyarakatkan seni grafis kepada khalayak dan kalangan seniman (grafis) itu sendiri. Pekan Seni Grafis Yogyakarta sudah dirintis sejak tahun 2017.

Pamerkan 83 Karya, Pekan Seni Grafis Yogyakarta Jadi Pesta Insan Grafis
Pamerkan 83 Karya, Pekan Seni Grafis Yogyakarta Jadi Pesta Insan Grafis

Selain pameran, ada juga serangkaian acara lain seperti workshop 7 teknik grafis (15-26 September), lomba cukil battle untuk umum, karya seni grafis pelajar SMA/SMK, seminar (26 September) dan residensi 2 seniman dari luar kota.

Kurator Pameran Seni Grafis PSGY Bambang ‘Toko’ Witjaksono mengucapkan terimakasih kepada semua pengunjung yang hadir pada malam pembukaan.

Ia menjelaskan mengenai teknik-teknik dalam seni grafis seperti cetak tinggi dan relief print. “Seni grafis erat kaitannya dengan teknik,” ungkap Bambang.

Relief print adalah sebutan untuk teknik cetak dalam seni grafis. Termasuk di dalamnya teknik cukil kayu, di mana bagian matriks (plat atau papan) yang akan mencetak warna adalah pada permukaan aslinya.

Bagian yang tak berwarna adalah bagian yang dicukil. Implentasi teknik ini pada kehidupan sehari-hari dapat kita temui pada sistem cap atau stempel.

Pada perhelatan Pekan Seni Grafis 2019, PSGY akan fokus memamerkan karya-karya seni grafis dengan teknik relief print. Sebagai teknik yang paling awal digunakan pada dunia seni grafis, tidak hanya di dunia namun juga di Indonesia. Maka karya relief print sangat bersejarah bagi negara.

Sejarah ini terbentuk karena karya cukilan linoleum karya Baharudin Marasutan dan Mochtar Apin. Karya-karya keduanya tidak hanya memiliki nilai estetika, tapi juga berfungsi sebagai alat diplomasi negara Indonesia saat peringatan ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke-1 pada tahun 1946.

Pamerkan 83 Karya, Pekan Seni Grafis Yogyakarta Jadi Pesta Insan Grafis
Pamerkan 83 Karya, Pekan Seni Grafis Yogyakarta Jadi Pesta Insan Grafis

Mochtar Apin pantas kita sebut sebagai pelopor bagi perkembangan seni cetak grafis di Indonesia karena karya-karyanya yang bersejarah.

Selain itu, karyanya juga dianggap bagian dari perjuangan kemerdekaan. Karya-karya Mochtar Apin menjadi karya utama yang dipamerkan di PSGY.

Mochtar Apin (1923-1994) bersama Baharudin Marasutan (1910-1988) bermodal karya seni cetak grafis ikut mengiringi kemerdekaan Indonesia dalam suatu upaya diplomasi kebudayaan yang unik.

Di bulan Agustus 1946, merayakan setahun kemerdekaan Republik Indonesia, badan ‘Oeroesan Pemoeda Perhoeboengan Loear Negeri’ (salah satu bagian dalam Sekretariat Negara RI) menerbitkan 36 eksemplar album koleksi karya grafis (lineographs) hasil karya kedua seniman muda Indonesia tersebut.

Album tersebut disertai pengantar yang ditulis oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Beragam karya ditampilkan pada pameran kali ini. Mulai dari karya-karya lama hingga tahun 2019.

Temanya juga bermacam-macam, mulai dari filosofi hidup dan alam. Ada karya yang berwarna dan hitam putih. Pengunjung dapat menikmati dan membedakan beragam corak dan metode pembuatan seni grafis.

Harapannya, melalui pekan seni grafis ini dapat menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap seni tersebut. Selain itu, acara ini juga bisa disebut sebagai pestanya insan seni grafis yang telah lama ditunggu-tunggu. Pameran seni grafis juga jadi wadah regenerasi seniman, salah satunya melalui lomba di tingkat sekolah. Kelak, merekalah yang akan mewarisi kekayaan grafis dari para seniman pendahulu kita.

Baca juga tulisan menarik lainnya kazebara.
Load More Related Articles
Load More By Kazebara
Load More In News