Home Heritage Pabrik Gula Yang Beralihrupa Menjadi Museum Dirgantara Mandala Jogja

Pabrik Gula Yang Beralihrupa Menjadi Museum Dirgantara Mandala Jogja

6 menit waktu baca
56

Bangunan museum ini dulunya merupakan pabrik gula yang pada masa pendudukan Jepang dipakai sebagai gudang logistik tentara Jepang. Kamu sudah pernah ke sana?

Berbicara tentang pariwisata Jogja, museum tak jarang menjadi salah satu topik utama. Jogja memiliki puluhan museum yang masing-masing mengunggulkan daya tariknya. Akan tetapi, museum yang akan dibahas kali ini sangat menarik karena salah satu bangunannya merupakan pabrik gula.

Museum TNI AU Depan

Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala berlokasi di Kompleks Landasan Udara Adisucipto, Jalan Kolonel Sugiono, Karang Janbe, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Letaknya tidak terlalu jauh dari pusat Kota Yogyakarta sehingga bisa diakses dengan berbagai macam moda transportasi, baik kendaraan pribadi maupun kendaraan umum (ojek dan trans jogja).

Dari namanya, kita tahu bahwa museum yang luasnya mencapai lebih dari 4 Ha ini ada kaitannya dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara. Sedikit tentang sejarahnya, TNI AU bermula dari terbentukannya Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 23 Agustus 1945.

Namun, seiring berjalannya waktu BKR diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945. Di dalamnya terdapat jawatan penerbangan di bawah komando Soerjadi Soerjadarma. Kemudian pada 23 Januari 1946, TKR berubah menjadi TRI. Baru pada 9 April 1946, TRI dihapuskan dan digganti dengan Angkatan Udara Republik Indonesia.

Pada awalnya, Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala terletak di Tanah Abang, Jakarta. Namun, pada 29 Juli 1978, museum ini dipindahkan ke Yogyakarta. Pemindahan museum ini didasarkan atas latar belakang historis dimana Yogyakarta merupakan tempat lahirnya TNI AU sekaligus pusat diadakannya berbagai kegiatan TNI AU.

Sebelum berada di lokasi yang sekarang, Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala bertempat di Kesatrian AKABRI Bagian Udara. Koleksi yang semakin hari kian bertambah membuat pihak pengelola merasa perlu mencari tempat baru. Jadi, dipilihlah bangunan yang masih digunakan sebagai museum hingga sekarang. Bangunan museum ini dahulu merupakan pabrik gula yang pada masa pendudukan Jepang dipakai sebagai gudang logistik tentaranya.

Museum TNI AU: Replika Pesawat

Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala diciptakan dengan tujuan mengabadikan dan memperkenalkan pada khalayak umum tentang peristiwa-peristiwa kesejarahan yang ada di lingkungan TNI AU. Oleh karena itu, koleksi-koleksi yang ditampilkan dalam museum ini seluruhnya terkait dengan TNI AU seperti foto pimpinan-pimpinan TNI AU, foto kejadian-kejadian yang melibatkan TNI AU, contoh pakaian TNI AU, replika persenjataan perang, hingga replika pesawat yang jenisnya bermacam-macam.

Nah, koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala yang paling banyak menyita mata pengunjungnya adalah replika pesawat yang beraneka ragam bentuk dan jenisnya. Diantaranya Pesawat Ki-43, Pesawat P-51 Mustang, Pesawat PBY-5A, dan masih banyak lainnya. Berbagai macam pesawat tersebut memiliki spesifikasinya masing-masing sehingga pemakaiannya pun bukan main-main. Setiap pesawat memiliki porsi kerjanya masing-masing.

Museum TNI AU: Bawah Tanah

Selain replika pesawatnya, ada pula ruangan menarik di museum yang banyak digemari untuk kegiatan study tour ini. Ada bunker yang terdapat di depan pintu keluar bangunan museum. Menurut sejarahnya, bunker ini dahulunya merupakan tempat berlindungnya para tentara Jepang untuk menghindari serangan udara lawannya. Bungker ini menjadi wahana baru di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala setelah mulai dibenahi 2016 silam.

Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala buka setiap hari pukul 08.30 WIB sampai dengan pukul 16.00 WIB. Namun, waktu yang dirasa tepat untuk mengunjungi museum ini adalah pagi atau sore hari. Sebab, museum ini pun menyediakan ruang terbuka yang sayang kalau tidak dimanfaatkan.

Langit di atas museum ini menjadi jalur lalu lintas pesawat dari dan menuju Bandara Adisucipto Yogyakarta. Ya, setelah melihat replika pesawat bisa lah melihat pesawat yang nyata. Menarik, bukan? Untuk mengunjungi museum yang satu ini, kita hanya perlu mengeluarkan uang Rp 6000,- rupiah saja.

Jadi, kapan kamu berkunjung kemari?

Muat Lagi Dari Hernawan
Muat Lebih Banyak Di Heritage