Home News Njoged Njalar, Jenang Golong Gilig, Hingga Deklarasi Kota Budaya Di Titik Kilometer O Yogyakarta

Njoged Njalar, Jenang Golong Gilig, Hingga Deklarasi Kota Budaya Di Titik Kilometer O Yogyakarta

7 min read
0
0
29

Hari Kedua Jogja Cross Culture diwarnai dengan keseruan beberapa kegiatan yang melibatkan warga Kota Yogyakarta. Jalan Malioboro ditutup dan Titik Kilometer O dijadikan sebagai ruang bermain bagi publik. Permainan ular tangga di gelar di Titik Kilometer O dan menyedot banyak perhatian.

Selama satu jam, anak-anak lupa dengan gadget dan disibukkan dengan keseruan kegiatan Dolananè Bocah nJobo Latar. Berbagai permainan anak-anak ditampilkan di seputaran kawasan 0 Kilometer, mulai dari lomba lari karung,  egrang, hingga ular tangga ukuran super besar, lengkap dengan dadu raksasanya. Wakil Walikota Yogyakarta, Drs. Heroe Poerwadi, MA, tampak hadir menyemangati anak-anak yang menikmati permainan di Minggu sore (4/8).

Dolananè Bocah nJobo Latar di Jogja Cross Culture 2019
Dolananè Bocah nJobo Latar di Jogja Cross Culture 2019 | Fotografer Naufal Ilham

Publik yang masih fokus bermain Dolananè Bocah nJobo Latar tiba-tiba dikagetkan dengan meluncurnya sebuah mobil pemadam kebakaran. Di atas si Gajah Merah ini, seorang anggota dari Drummer Guyub Yogyakarta (DGYK) nampak memberikan aba-aba. Tak berapa lama para peserta njogéd njalar yang sebelumnya telah bersiap di beberapa titik, yang kurang lebih berjumlah 350 orang dari 14 kecamatan di Yogyakarta, serentak turun ke jalan dan menari dengan kuda lumping.

Jalanan yang mendadak dipenuhi ratusan orang yang menari, didukung gerakan tari yang mudah diikuti, kegiatan njogéd njalar ini benar-benar njalar pada masyarakat dan wisatawan yang sedang berada di sekitar jalan Malioboro dan Titik Kilometer O. Tak terkecuali juga Wakil Walikota Yogyakarta, Drs. Heroe Poerwadi, MA, para wisatawan dalam negeri dan juga wisatawan manca negara yang mencuri perhatian para fotografer dan rekan media.

Pemandangan ratusan penari dari berbagai lapisan dengan beragam latar belakang yang bersama-sama menari ini, selain membuat suasana semakin meriah juga seolah menjadi perwujudan nyata dari semangat yang diusung oleh Jogja Cross Culture.

Baca juga:

njogéd njalar di Jogja Cross Culture 2019
njogéd njalar di Jogja Cross Culture 2019 | | Fotografer Naufal Ilham

Jogja Cross Culture hari kedua diawali sejak pukul 08:00 WIB dengan Historical Trail  Njeron Journey hingga ditutup dengan persembahan musik réUnèn sekitar pukul 24:00 WIB. Semua kegiatan dilaksanakan di seputaran kawasan Kilometer 0 Yogyakarta, sepanjang jalan Malioboro dan di kawasan Jeron Benteng.

Historical Trail  Njeron Journey adalah kegiatan yang mengajak peserta menyusuri tempat-tempat bersejarah di kawasan Jeron Benteng. Para peserta yang terdiri dari sekitar 45 kelompok, yang masing-masing kelompok terdiri dari sekitar 5 orang, yang semuanya menggunakan kostum yang sejalan dengan tema Jogja Cross Culture, sudah bersiap di kawasan 0 Kilometer sejak pukul 07:00 WIB.

Sementara itu di kawasan lain di Kilometer 0 Yogyakarta, pada pukul 10.00 WIB digelar kegiatan Sketsa bareng Maestro. Kegiatan ini diikuti oleh puluhan peserta yang turut mengabadikan keindahan kawasan tersebut dengan sketsa mereka bersama seniman Yogyakarta, Kartika Affandi dan Joko Pekik.

Pada pukul 19:30 WIB, Historical Orchestra Selaras Juang mengisi panggung Jogja Cross Culture di Kilometer 0 Yogyakarta dengan mengalunkan lagu-lagu perjuangan, seperti Hari Merdeka, Mengheningkan Cipta, Satu Nusa Satu Bangsa, dan Bangun Pemudi Pemuda. Penampilan paduan suara pimpinan Albertus Wishnu, dengan conductor Djoko Lemazh Suprayitno dan Julius Catra Henakin ini mampu menarik para pengunjung makin mendekat ke panggung.

Acara peluncuran Gandhes Luwes, Road to Jogja Cross Culture 2020, serta Jenang Golong Gilig dilaksanakan secara simbolis dengan melakukan pencabutan kayon oleh Wakil Walikota Yogyakarta, Drs. Heroe Poerwadi, MA, sekitar pukul 20:30 WIB.

Baca juga:

Launching Gandhes Luwes di Jogja Cross Culture 2019
Launching Gandhes Luwes di Jogja Cross Culture 2019 | | Fotografer Naufal Ilham

“Program Gandhes Luwes adalah program Pemerintah Kota Yogyakarta dalam rangka untuk membuat Kota Yogyakarta lebih nampak ke-Yogyakarta-annya.” jelas Wakil Walikota Yogyakarta, Drs. Heroe Poerwadi.

Nilai-nilai seni budaya pada anak-anak akan ditanamkan. Demikian pula dengan nilai-nilai seni budaya yang memberi ciri dan karakter budaya dari sisi visual dan desain arsitektur juga akan dimunculkan. Ini adalah bagian dari pengejewantahan nilai-nilai keistimewaan sebagai bagian kehidupan masyarakat Yogyakarta.

Sementara itu mengenai Jenang Golong Gilig, orang nomer dua Kota Yogyakarta ini menjelaskan, “Jenang Golong Gilig adalah hasil kreasi untuk menambah kekayaan kuliner sekaligus menjadi ikon kuliner baru Kota Yogyakarta.”

Sebagai sebuah kegiatan yang baru pertama kali ini dilaksanakan, Wakil Walikota yang juga merangkap sebagai Ketua Panita mengakui masih banyak kekurangan di sana sini, harapan beliau terhadap acara ini,  “Mungkin pada pelaksanaan kali ini masih tampak dan terasa kekurangannya. Namun kami bertekad di tahun-tahun mendatang  depan akan membuat Jogja Cross Culture lebih baik lagi.”

Baca juga artikel menarik lainnya pacarkecilku.

Load More Related Articles
Load More By pacarkecilku
Load More In News