NDX AKA Meriahkan Penutupan Pameran Fotografi Jogja Istimewa dalam Cerita

7 min read
0
39

genpijogja.com – Penutupan pameran fotografi dari Paniradya Kaistimewan “Jogja Istimewa dalam Cerita” dimeriahkan oleh NDX AKA. Massa antusias memadati halaman depan Kafe Sonobudoyo Yogyakarta pada Minggu malam (27/10).

 

NDX AKA Meriahkan Penutupan Pameran Fotografi Jogja Istimewa dalam Cerita
NDX AKA Meriahkan Penutupan Pameran Fotografi Jogja Istimewa dalam Cerita

Grup musik yang terdiri dari dua personil dan satu DJ itu menyanyikan 9 (sembilan) lagu antara lain sayang, di tinggal rabi, kimcil kepolen, terminal Giwangan dan beberapa lagu hits-nya. Tidak ada jarak antara artis dan penggemar, semua membaur dan bergoyang menikmati lagu yang dinyanyikan NDX AKA. Pada akhir pertunjukan, Nanda dan Fajar juga memberi ruang kepada para penggemar untuk berfoto bersama di ruang pameran fotografi “Jogja Istimewa dalam Cerita”.

“Seneng banget, Mbak. Ga nyangka seantusias ini para penontonnya. Rame banget”, ungkap Fajar salah satu personil NDX AKA.

Penutupan pameran fotografi “Jogja Istimewa dalam Cerita” di mulai pukul 19.00 WIB. Awalnya dibuka oleh pertunjukkan ciamik dari DJ Culfie. Culfie membawakan beberapa lagu lawas remix yang populer bagi generasi 90-an. Tentunya, puncak acara adalah penampilan NDX AKA.

Pameran fotografi “Jogja Istimewa dalam Cerita” yang berlangsung selama 3 (tiga) hari ini resmi ditutup oleh Staff Ahli Gubernur Bidang Sosial Budaya dan Kemasyarakatan Drs. Tri Mulyono, MM mewakili Gubernur DIY Sri Sultan HB X.

“Kegiatan ini merupakan peran serta aktif dari masyarakat dan stakeholder untuk lebih mengenalkan keistimewaan Jogja. Bisa berupa apa saja, salah satunya seperti lomba foto yang telah dilaksanakan tadi. Harapannya semoga kegiatan ini dapat menginformasikan Jogja dari segi artistik dan bukti sebagai kecintaan warga Jogja”, tutur Tri.

Gubernur DIY Sri Sultan HB X juga mengapresiasi atas terlaksananya pameran fotografi ‘Jogja Istimewa dalam Cerita’ ini. “Kami memberi apresiasi kepada Paniradya Kaistimewan atas suksesnya kegiatan ini. Selamat bagi pemenang lomba. Untuk yang belum menang, semoga dapat meningkatkan keahlian fotografinya”, imbuh Tri.

Sebelum penutupan pameran fotografi ‘Jogja Istimewa dalam Cerita’ ini, Christ Thomas salah satu juri foto mengumumkan pemenang lomba foto on the spot ‘Membingkai Jogja Istimewa’.

Para pemenang lomba foto on the spot, yaitu: Juara 1 Jenar Budi Santoso, Juara 2 M. Hidayat, Juara 3 Wartono, Harapan 1 Ahmad Abdul Mushafak, Harapan 2 Gandhi Murakabi dan Harapan 3 Iar Aimid Pratama.

 

NDX AKA Meriahkan Penutupan Pameran Fotografi Jogja Istimewa dalam Cerita
NDX AKA Meriahkan Penutupan Pameran Fotografi Jogja Istimewa dalam Cerita

Penyerahan hadiah lomba foto on the spot ‘Membingkai Jogja Istimewa’ juara 1 diberikan oleh Staff Ahli Gubernur Tri Mulyono, juara 2 oleh Paniradya Pati Beny Suharsono dan juara 3 oleh wakil dari Kepala Dinas Komunikasi DIY. Sedangkan juara harapan 1 sampai 3 diserahkan oleh pejabat dari Paniradya Kaistimewan DIY.

Lomba foto on the spot ‘Membingkai Jogja Istimewa’ telah dilaksanakan pada siang harinya dan diikuti lebih dari 400 orang dari 600 pendaftar. Setiap peserta mengumpulkan maksimal 2 (dua) foto kemudian dinilai oleh para juri handal seperti Christ Thomas, Giri Wija dan Eko Susanto.

“Peserta lomba foto yang mendaftar ternyata diluar dugaan, dari yang diperkirakan di ikuti oleh 300 orang menjadi 650 orang pendaftar. Tidak hanya diikuti oleh fotografer dari Jogja, namun banyak mereka datang dari Solo, Wonosobo, Semarang, Magelang dan Temanggung”, ungkap Christ Thomas selaku juri lomba foto on the spot sekaligus ketua panitia pameran fotografi ‘Jogja Istimewa dalam Cerita’.

“Meskipun sebagian besar mereka kurang menerjemahkan tema lomba foto dengan baik, namun dalam lomba foto ini mereka tetap gigih mengikuti alur perlombaan dari pagi hingga malam hari”, papar Christ lebih lanjut.

Lomba foto ini bertemakan ‘Wong Jogja’ karena keistimewaan Jogja dapat diambil dari sudut norma dan budayanya. Menghormati orang tua, tepa selira, tolong menolong, toleransi dan lain sebagainya. Hasil foto diharapkan mampu membingkai keistimewaan Jogja.

“Jogja Istimewa tidak ansih pada Status Yuridis-nya semata, melainkan juga orang-orangnya. Istimewa dalam tindak-tanduknya, istimewa dalam pemikirannya, istimewa dalam hubungannya dengan Tuhan, orang lain dan lingkungannya. Tetaplah merawat keistimewaan Jogja”, jelas Alexius Widhi Nur Pambudi selaku Kasubbag Hubungan Antar Lembaga di Paniradya Kaistimewan DIY.

Pada hari sebelumnya Sabtu (26/10) malam juga dilaksanakan Bincang Foto bersama Giri Wija. Bincang foto diikuti oleh 60 peserta. Giri memberikan tips-tips tentang memotret agar fotonya menjadi juara. Bincang foto ini sangat membantu bagi para peserta lomba foto.

Paniradya Pati Paniradya Kaistimewan DIY sangat mengapresiasi kegiatan pameran ini. “Pameran ini menunjukkan keutuhan tentang keistimewaan Jogja. Masyarakat Jogja dapat melihat langsung upaya dalam meliterasikan keistimewaan Jogja dalam bentuk foto. Sejauh mana masyarakat memahami keistimewaan ini, mampukah kita menopang apa yang dimandatkan di dalam UU Keistimewaan”, pungkas Beny Suharsono menutup wawancara.

Load More Related Articles
Load More By Sany Maya
Load More In News