Nasi Berwarna Gurih Rasanya Khas Pasar Kakilangit

5 min read
0
80

Terdengar cukup unik bagi sebagian orang, namun terdengar biasa juga bagi sebagian orang lagi yang mempunyai pengertian awam.

Pasar Kakilangit bisa saja diartikan sebagai pasar pada umumnya, yang menjual sayuran dan berbagai kebutuhan pokok lainnya. Akan tetapi, pengertian itu salah gengs.

Pasar Kakilangit
Pasar Kakilangit

Pasar Kakilangit merupakan salah satu destinasi yang memadukan konsep tradisional dan modern serta tak meninggalkan unsur instagramable sebagai pengaplikasian di era digital ini. Sehingga Pasar Kakilangit disebut sebagai Destinasi Digital yang ada di Jogja.

Unsur tradisionalnya didapat dari kesenian khas yang ditampilkan yaitu gejog lesung dan aneka sajian makanan tradisional yang dibuat oleh masyarakat lokal. Unsur modern nya didapat dari atraksi tambahan yang ditampilkan beberapa waktu sekali oleh berbagai orang atau kelompok yang berkenan tampil untuk ikut meramaikan Pasar Kakilangit.

Aneka sajian yang tersedia di Pasar Kakilangit adalah makanan tradisional. Mulai dari olahan singkong alami hingga menyulap singkong menjadi spageti yang tak kalah lezat dibandingkan dengan spageti dari luar negeri.

Salah satu hidangan yang banyak diminati wisatawan yaitu sego buntil. “Sego” yang berarti “nasi” dalam bahasa jawa. “Buntil” yang artinya “bungkusan” terdapat dilauk yang disajikan, daun pepaya yang digulung kemudian diberi kelapa parut yang rasanya manis.

Sego Tiwul Khas Pasar Kakilangit
Sego Tiwul Khas Pasar Kakilangit

Nasi berwarna ini bukan nasi yang disemprot dengan cat semprot loh, melainkan salah satu makanan tradisional yang ada di Pasar Kakilangit, Dengan komposisi nasi merah dengan kelengkapannya seperti sayur daun pepaya (godhong telo), aneka sayur yang dicampur bumbu kelapa parut, dan tak lupa gorengan. Rasanya pas di lidah siapapun, bahkan turis mancanegara pun menyukai makanan tradisional yang ada di Pasar Kakilangit.

Bahan yang digunakan pun alami dan tidak mengandung pengawet atau bahan kimia lainnya, sangat menjamin kesehatan dong pastinya. Jika tidak ingin makan nasi merah, wisatawan bisa minta nasi putih sebagai penggantinya.

Belum berbicara sampai ke rasa. Penyajian diatas piring bambu dengan keunikan desain tradisionalnya membuat para wisatawan enggan memakannya. Tak jarang para wisatawan menunda waktu mereka untuk makan, bukan karena tidak selera. Namun, sudah menjadi adat untuk mengabadikan sajian unik tersebut, mengambil gambar makanan agar mendapatkan unsur digital.

Saat menyantap hidangan, suapan pertama merupakan suatu kunci untuk yes or no, untuk melanjutkan menyantap hidangan atau tidak. Bukan hal yang tabu untuk dibicarakan jika seseorang tidak ingin melanjutkan menyantap hidangan karna rasa hidangan tersebut tidak memberikan kesan tersendiri.

Namun, sampai saat ini tak ada wisatawan yang enggan menyantap hidangan yang ada di Pasar Kakilangit, bahkan mereka sangat terkesan dengan rasa yang diciptakan oleh tangan para pedagang Pasar Kakilangit.

Kombinasi resep hidangan tradisional khas dipadukan dengan inovasi yang tidak terlalu mengubah ke khas an hidangan tradisonal, entah memberi tambahan rasa atau memberi variasi bentuk telah berhasil melukis kesan baik di hati para wisatawan dan ingin berkunjung kembali. Tak jarang ada wisatawan lokal maupun asing yang berinteraksi dengan pedagang dan membicarakan cara memasak hidangan tradisional tersebut.

Saking asyik membicarakan tentang memasak, pernah ada live cooking di Pasar Kakilangit. Kabarnya akan ada kelas memasak untuk tahun ini. Dari waktu ke waktu, Pasar Kakilangit mengalami sedikit demi sedikit perubahan yang jangan sampai terlewat oleh para penikmat kuliner dan penggemar pariwisata.

Load More Related Articles
Load More By Latifah Nur Istiqomah
Load More In Destinasi Digital