Home Community Nada Bicara Ungkap Kegelisahan Lewat Musik

Nada Bicara Ungkap Kegelisahan Lewat Musik

7 menit waktu baca
30

Nada Bicara adalah sebuah band/ komunitas musik dari Jogja yang membawakan isu sosial dalam karyanya. Awalnya komunitas ini diinisiasi oleh Erlina Rakhmawati (Erlin) dan Alexandrie Dolly Paduahon (Alex). Kemudian, mereka bekerja sama dengan salah satu lembaga yang bergerak di bidang perempuan dan anak.

Lagu-lagu ciptaan Nada Bicara mengusung tema keberagaman, kesetaraan gender, maskulinitas negatif, otoritas tubuh, relasi kuasa, cegah bullying, pengasuhan anak, internet sehat, pendidikan, pemenuhan hak-hak anak, pencegahan kekerasan terhadap anak, dan pencegahan kekerasan berbasis gender. Bagi Nada Bicara cara yang dipilih untuk memutus mata rantai kekerasan adalah menyatakan sikap lewat sebuah karya.

 

Nada Bicara berdomisili di Jogja dengan tim inti : Erlina Rakhmawati (Vocal), Sasi Kirono (Gitar), Adhitya Gillang R. (Bass), Alexandrie Dolly (Perkusi), Andre Elyedes Tarigan (Gitar), Eko Widdarwan (Keyboard).

Nada Bicara memang memiliki tujuan agar orang-orang lebih mudah menceritakan pengalaman atau permasalahan pribadi mereka melalui lagu yang mereka ciptakan. Mereka terbiasa membantu proses penciptaan lagu yang didasari oleh pengalaman pribadi orang-orang yang datang kepada mereka.

Lagu yang mereka ciptakan dari kegelisahan mereka sendiri bisa menjadi media self-healing, terutama bagi mereka yang belum bisa berdamai dengan diri sendiri atau dengan masa lalu. Erlina percaya bahwa pendekatan melalui seni dalam hal ini musik dapat menyentuh ruang personal dan spiritual manusia dengan lebih cair, egaliter, dan diterima oleh semua kalangan.

Yah, awalnya Nada Bicara adalah band yang lahir tahun 2016. Selanjutnya Nada Bicara menjadi kolektif untuk mengajak lebih banyak keterlibatan dan kolaborasi dalam menyuarakan keberagaman, kesetaraan, toleransi, cara-cara nir-kekerasan, keberpihakan pada perempuan dan anak lewat karya lagu.

Lalu kenapa memilih keberpihakan kepada perempuan dan anak? Bagi Nada Bicara perempuan dan anak terdampak paling besar dari berbagai kekerasan di ruang domestik, publik, dan kekerasan akibat berbagai bencana. Masa anak dan remaja merupakan masa-masa pencarian jati diri.

Anak dan remaja rentan mewarisi budaya dan ekspresi kekerasan. Oleh sebab itu, dengan tagline “Kami berNADA, kami BICARA keberagaman, kesetaraan, dan keberpihakan pada perempuan dan anak”, Nada Bicara juga dapat dikatakan sebagai aktivis perempuan dan anak. Mereka menyuarakan kesetaraan melalui lagu-lagu yang mereka ciptakan sendiri, dan berkampanye melalui lirik-lirik yang mereka nyanyikan.

Nada Bicara dan tim pengisi album sondtrack film animasi Kosong. Dok: @nadabicara_

Beberapa album dari Nada Bicara sudah beredar salah satunya dapat diunduh melalui laman Sound Cloud.

Nada Bicara pun juga semakin banyak melakukan pelatihan serta kegiatan-kegiatan sosial yang melibatkan anak-anak. Project terbaru Nada Bicara di awal tahun 2019 ini ialah terlibat dalam penggarapan soundtrack film animasi dokumenter berjudul kOsOng.

“Filmnya sendiri tentang stigma yang dilekatkan pada perempuan karena tidak bisa punya anak dan tidak ingin punya anak. Konstruksi masyarakat kita masih menganggap perempuan sebagai perempuan seutuhnya jika dia memiliki anak,” tutur Erlin, Manajer Program yang merupakan Vokalis Nada Bicara.

Film ini mengangkat isu pernikahan tanpa keturunan, yang melibatkan pemikiran dan kesaksian lima perempuan dari berbagai profil dan latar belakang pernikahan dalam isu ini. Dengan teknik-teknik animasi, ‘KOSONG’ memvisualisasikan ingatan luput dokumentasi dan menyimbolisasikan pemikiran subyek-subyeknya.

Album kOsOng merupakan soundtrack film animasi dokumenter kOsOng “No One Inside”. Latar belakang pembuatan film dokumenter ini adalah untuk menyatakan sikap terkait dengan fenomena “pernikahan tanpa anak” yang banyak terjadi di masyarakat, bahkan di lingkup terdekat.

Banyak perempuan menjadi korban stigma, depresi, tidak sehat secara fisik dan mental akibat berbagai treatment yang dijalani agar bisa mempunyai anak, diceraikan, lebih disalahkan/terstigma daripada laki-laki, dan dianggap kurang perempuan. Nada Bicara pun ingin angkat bicara terkait dengan pandangan mereka yang sejalan dengan gagasan dari film animasi dokumenter ini.

Bagi Erlina perempuan tetaplah perempuan seutuhnya, baik dia melahirkan anak atau tidak melahirkan anak. Tubuh perempuan sepenuhnya otoritas perempuan itu sendiri, sehingga keputusan untuk mempunyai anak, sepenuhnya ada di tangan perempuan.

 

 

Anggia Oktivani (animator film), Erlina Rachmawati (vokalis), dan Chonie Prysilia (sutradara film animasi dokumenter Kosong) saat berada di dapur rekaman. Dok: @nadabicara_

Pembuatan album kOsOng yang melibatkan Nada Bicara ini berkolaborasi dengan Chonie Prysilia sebagai sutradara film dan Hizart Studio sebagai studio animasi. Kini album kOsOng sudah rilis di Spotify. Mau tau lagi lebih dalam tentang Nada Bicara, bisa follow untuk mengetahui kegiatan Nada Bicara di akun instagram: @nadabicara_, facebook: Nada Bicara, dan youtube: Nada Bicara.

Muat Lagi Dari Tikha Novita Sari
Muat Lebih Banyak Di Community