Home Heritage Museum Sonobudoyo, Museum Bernuansa Jawa Bali Kebanggaan Jogja

Museum Sonobudoyo, Museum Bernuansa Jawa Bali Kebanggaan Jogja

7 menit waktu baca
119

Siapa yang tak kenal Museum Sonobudoyo? Museum kaya koleksi yang berlokasi di jantung Kota Yogyakarta. Museum sonobudoyo beralamat di jalan Pangurakan atau Trikora No. 6 Yogyakarta. Hanya beberapa meter saja dari Titik Nol Kilometer Jogja.

Museum sonobudoyo letaknya tak jauh dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Tak heran, nuansa Jawa-Jogja masih bisa terasa. Didukung arsitektur rumah jawa dan iringan gamelan dengan kidung yang menyertai setiap pengunjung yang masuk ke dalam museum ini.

Gapura Candi Bentar

Museum sonobudoyo memiliki banyak keunikan. Salah satunya mata rantai sejarah berdirinya museum ini. Usia museum sonobudoyo sudah cukup tua, bahkan lebih tua daripada usia Indonesia.

Cikal bakal lahirnya museum sonobudoyo bermula dari berdirinya Javaa Instituut. Sebuah yayasan yang konsen pada bidang kebudayaan, khususnya kebudayaan yang berkembang di wilayah Jawa, Madura, Bali, dan Lombok.

Menurut sejarah, museum sonobudoyo diresmikan tanggal 6 November 1935 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, 82 tahun yang lalu. Museum sonobudoyo sejak dahulu digunakan menyimpan, memelihara dan mengenalkan berbagai benda, termasuk naskah-naskah kuno dari berbagai daerah.

Sebagai pencinta museum, museum sonobudoyo pantang dilewatkan. Explore museum sonobudoyo menjadi pilihan yang tepat. Museum sonobudoyo menyimpan beragam koleksi luar biasa yang bisa menambah wawasan kita terkait kebudayaan berbagai suku bangsa.

Koleksi museum sonobudoyo terdiri dari berbagai ruang. Ruang pertama merupakan ruang pengenalan. Koleksi yang paling menarik perhatian mata dari ruangan ini adalah pasren, berbentuk tempat tidur dengan sepasang patung laki-laki dan perempuan di depannya. Pasren simbol penghormatan terhadap Dewi Sri. Dari titik ini, perjalanan explore museum sonobudoyo di mulai.

Dua ruang selanjutnya adalah ruang prasejarah serta ruang klasik dan peninggalan Islam. Bagi saya, koleksi paling menarik dari dua ruangan ini adalah koleksi lontar yang digolongkan dalam bagian kebudayaan Hindu-Budha.

Bagaimana tidak? Lontar menjadi media pembuatan naskah. Adanya lontar membuktikan bahwa manusia pada waktu itu sudah mengenal tradisi tulis menulis dan membaca. Sampai saat ini, lontar masih digunakan salah satunya di Desa Kemiren, Banyuwangi.

Ruang keempat dari museum sonobudoyo adalah ruang yang menyimpan koleksi batik. Batik merupakan kain khas Indonesia yang sudah diakui dunia. Koleksi batik yang dipamerkan dalam ruangan ini cukup beragam, dari mulai piranti yang digunakan selama proses membatik seperti canting, kompor minyak, dan sebagainya sampai motif-motif khas Indonesia. Jogja memiliki berbagai motif batik dengan nilai filosofi tinggi.

Selain keempat ruangan tersebut, masih terdapat beberapa ruang lain yang diatur sesuai dengan temanya. Ada ruang wayang yang memamerkan koleksi wayang purwa, wayang kancil, wayang sadat, hingga wayang wahyu.

Ada juga ruang topeng yang memamerkan koleksi topeng-topeng, seperti topeng panji yang sudah diakui oleh UNESCO.

Ruang Koleksi Topeng

Kunjungan saya pada 30 Agustus 2018 bertepatan dengan revitalisasi museum sonobudoyo. Kala itu, ada dua ruang dalam museum yang masih dalam tahap revitalisasi yakni ruang Jawa Tengah dan ruang logam. Oleh karena itu, saya belum berkesempatan menikmati koleksi yang biasanya di-display dalam dua ruangan ini.

Masuk lebih dalam, pengunjung museum sonobudoyo akan menjumpai ruang senjata dan ruang mainan. Ruang senjata merupakan ruang yang menyuguhkan koleksi senjata, termasuk keris yang juga menjadi simbol budaya bangsa.

Sementara itu, ruang mainan merupakan ruangan yang menyajikan informasi tentang permainan masa kecil. Kamu tahu dakon dan gasing? Keduanya ada di sini. Ruangan ini mampu membawa people zaman old nostalgia dengan masa kecilnya.

Ruangan terfavorit saya di museum sonobudoyo adalah ruangan yang bernuansa Bali. Ruangan bernuansa Bali ini ada di paruh akhir perjalanan explore museum sonobudoyo. Kalau pada awalnya nuansa Jawa lebih terasa, kali ini nuansa Bali mendominasi.

Gapura Candi Bentar yang ada di museum sonobudoyo membangkitkan nuansa Bali dalam museum ini. Kamu pernah ke Bali? Pasti kamu tidak asing lagi dengan gapura candi bentar. Ditambah lagi dengan adanya Bale Gede yang juga menjadi ikon museum sonobudoyo.

Di Bali, bale gede menjadi tempat upacara daur hidup dan bermusyawarah. Di area bale gede sonobudoyo, terdapat patung Men Brayut. Men Brayut merupakan simbol atau lambang kesuburan bagi masyarakat bali. Nuansa Bali akan lebih kental lagi apabila pengunjung menyimak betul koleksi yang ada di ruangan Bali. Ruangan terakhir dalam perjalanan explore sonobudoyo.

Museum Sonobudoyo buka hari selasa sampai minggu mulai pukul 08.00 WIB. Dengan merogoh kocek Rp 3.000,- saja, kamu bisa menikmati nuansa Jawa dan Bali dalam satu perjalanan. Jangan khawatir kalau merasa lelah, ada banyak penjual makanan di luar kompleks museum. Tapi, kamu dilarang makan di dalam museum ya. Pastikan museum tetap bersih dari sampah.

Tak hanya menyediakan tour museum, museum sonobudoyo juga menyelenggarakan pagelaran wayang pada malam hari setiap senin sampai sabtu.

Yuk, ke Sonobudoyo!

Bale Gede Museum Sonobudoyo
Bale Gede Museum Sonobudoyo
Muat Lagi Dari Hernawan
Muat Lebih Banyak Di Heritage