Home Heritage Museum Benteng Vredeburg Jogja, Cagar Budaya Penuh Cerita

Museum Benteng Vredeburg Jogja, Cagar Budaya Penuh Cerita

9 min read
0
0
30

Millenial tak hanya soal perjalanan dan tantangan, tetapi juga tentang mengetahui dan menjaga cagar budaya serta merawat ingatan masa lalu bangsa. Soekarno, presiden pertama Indonesia pernah berkata JAS MERAH: jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Wisata sejarah belakangan ini banyak digandrungi. Berbagai tempat yang mengandung unsur sejarah tak lagi jarang dikunjungi. Museum menjadi ruang yang cukup dilirik, sebab menawarkan wisata yang tak hanya sekadar hura-hura, tetapi juga memuat konten edukasi.

Baca juga:

Museum Benteng Vredeburg Jogja
Museum Benteng Vredeburg Jogja

Ada puluhan museum yang tersebar di penjuru-penjuru Jogja. Salah satunya Museum Benteng Vredeburg yang letaknya persis di sudut titik nol kilometer Jogja. Secara tertulis, museum ini beralamatkan di jalan Margo Mulyo Nomor 6 Yogyakarta, berseberangan dengan Gedung Agung di sisi barat dan kantor pos besar Jogja di sisi selatan. Museum Benteng Vredeburg berada di lingkungan bangunan cagar budaya.

Pernah berkunjung ke Museum Benteng Vredeburg sebelumnya? Kalau belum, wajib hukumnya kesana. Museum Benteng Vredeburg luas dan cantik di beberapa titiknya. Bisa dipakai selfie dan menambah koleksi foto di galeri. Selain wawasan sejarah, foto menjadi bonus yang bakal kamu dapatkan bila mengunjungi Museum Benteng Vredeburg.

Perlu diketahui oleh millenial Indonesia bahwa bangunan Benteng Vredeburg sudah ada sejak lama. Benteng ini pertama dibangun tahun 1760, pasca Perjanjian Giyanti yang membagi dua kerajaan Mataram menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Benteng Vredeburg adalah markas Belanda. Di tempat ini, Belanda memantau segala aktifitas di Kraton Jogja. Konon katanya, jarak antara benteng ini dengan Kraton Jogja hanya satu tembakan meriam. Bisa dibayangkan apabila terjadi pertikaian bersenjata?

Baca juga:

Museum Benteng Vredeburg Jogja
Museum Benteng Vredeburg Jogja

Dulu Benteng Vredeburg tak semegah sekarang. Bentuk benteng mulanya hanya sederhana, temboknya berbahan baku tanah yang diperkuat dengan tiang-tiang penyangga dari kayu pohon kelapa dan aren. Sementara untuk bagian dalamnya, Benteng Vredeburg berbahan dasar bambu dan kayu. Sedangkan atapnya berupa ilalang.

Benteng Vredeburg dilengkapi oleh empat pos penjagaan di setiap sudutnya. Sebut saja Seleka atau Bastion. Oleh Sri Sultan HB IV, keempat seleka ini diberi nama Jaya Purusa (sudut timur laut), Jaya Wisesa (sudut barat laut), Jaya Prakosaningprang (sudut barat laut) dan Jaya Prayitna (sudut tenggara).

Benteng Vredeburg dari masa ke masa disempurnakan. Pada tahun 1767, atas usulan dari Gubernur Belanda W.H van Ossenberg, Benteng Vredeburg mulai dibangun permanen. Guna benteng ini untuk menjamin keamanan orang-orang di dalamnya. Benteng Vredeburg dengan bentuk baru ini selesai di bangun pada tahun 1787. Setelahnya, benteng ini diberi nama ‘Rustenberg’ yang berarti benteng peristirahatan.

Dalam perkembangannya, benteng Rustenberg pernah mengalami kerusakan berat. Hal ini dikarenakan adanya gempa besar yang melanda Jogja tahun 1867 silam. Gempa yang belum diketahui besarannya ini berdampak pada rusaknya sebagian bangunan benteng.

Pasca renovasi, nama museum lantas berganti dari Rustenberg yang berarti benteng peristirahatan, menjadi Vredeburg yang bermakna benteng perdamaian. Nama ini menjadi manifestasi dari relasi baik Kraton Jogja dan Pemerintah Belanda.

Cikal bakal dipakainya Benteng Vredeburg menjadi museum bermula dari perjanjian tentang pemanfaatan bangunan bekas Benteng Vredeburg tertanggal 9 Agustus 1980 antara Sri Sultan HV IX dengan Daud Jusuf selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu.

Pada tahun 1985, Sri Sultan HB IX mengizinkan diadakannya perubahan bangunan sesuai dengan tuntutan kebutuhan yakni menjadi museum. Pada tahun 1987, Museum Benteng Vredeburg pertama kali dibuka. Akan tetapi, baru pada tahun 1992 museum ini secara resmi menjadi Museum Khusus Perjuangan Nasional dengan nama Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.

Baca juga:

Museum Benteng Vredeburg Jogja
Museum Benteng Vredeburg Jogja

Museum Benteng Vredeburg kaya akan koleksi realia kebendaan yang terpamer rapih di empat diorama besar. Keempat diorama ini mengisahkan cerita masa lalu dengan periodisasi yang berbeda. Diorama Satu Museum Benteng Vredeburg mengangkat kisah dengan setting waktu sebelum kemerdekaan, dimulai pada masa Pangeran Diponegoro.

Diorama Dua Museum Benteng Vredeburg mengisahkan cerita dari proklamasi kemerdekaan hingga Agresi Militer I Belanda. Diorama Tiga Museum Benteng Vredeburg bercerita peristiwa sejarah periode perjuangan diplomasi hingga pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS). Sementara itu, Diorama Empat Museum Benteng Vredeburg mengangat cerita dengan latar waktu tahun 1950-1974.

Selain koleksi tersebut, di beberapa titik pun terdapat patung dan beberapa replika meriam sebagai pelengkap. Namun, daya tarik yang unik dari Museum Benteng Vredeburg sebenarnya ada pada bangunan benteng ini sendiri.

Dimulai dari wajah depan Museum Benteng Vredeburg yang cantik dengan parit, jembatan, tembok dan gerbang yang indah. Unsur Eropa kental terasa di Museum Benteng Vredeburg. Begitu pun bangunan di dalamnya. Beberapa bangunan yang kini sudah elok bentuknya pernah dipakai untuk dapur, barak tentara dan sebagainya. Coba cari saja foto bangunan lama Museum Benteng Vredeburg yang tertempel di masing-masing bangunan gedungnya.

Baca juga:

Museum Benteng Vredeburg Jogja
Museum Benteng Vredeburg Jogja

Dengan merogoh kocek Rp3.000 saja, pengunjung bisa menelurusi jejak cerita masa lalu Indonesia di Museum Benteng Vredeburg Jogja. Di dalam, pengunjung dapat mencoba permainan perjuangan di diorama dua atau menyewa sepeda dua kemudi untuk di naiki bersama.

Museum Benteng Vredeburg buka setiap selasa sampai minggu, mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Museum ini belum bisa dinikmati secara bebas pada malam hari, tetapi pengelola bekerja sama dengan Komunitas Malam Museum rutin mengadakan kegiatan Jelajah Malam untuk merasakan sensasi yang berbeda dari Museum Benteng Vredeburg.

Jadi, kapan kamu kemari?

Baca juga artikel menarik lainnya Hernawan.

Load More Related Articles
Load More By Hernawan
Load More In Heritage