Monjali, Tetenger Ditariknya Tentara Belanda dari Ibukota Indonesia

6 min read
0
43

genpijogja.com – Museum Monjali atau Museum Monumen Jogja Kembali tidak asing di telinga kita. Pasalnya, Monjali kini menjadi salah satu destinasi wisata yang cukup populer bagi pelajar di seluruh Indonesia. Wisata edukasi yang menambah khazanah pengetahuan diri.

Barangkali sebagian orang bertanya, kenapa tempat ini diberi nama Monjali? Untuk menjawabnya, kita perlu tahu sejarah bangsa ini di era revolusi fisik Indonesia di Jogja. Sebab, penamaan museum ini dilandaskan pada satu cerita besar yang pernah meletus di Jogja.

Monjali

 

Sejak 4 Januari 1946, Ibukota Republik Indonesia berpindah ke Jogja. Pemindahan ini dikarenakan Jakarta tidak lagi kondusif untuk menjadi Ibukota. Sebagai pusat pemerintahan dari negara yang belum genap setahun merdeka, Jogja menjadi garda terdepan dalam menahan ambisi Belanda menguasai kembali Indonesia.

Peristiwa kembalinya Jogja bermula dari meletusnya Agresi Militer Belanda II di akhir tahun 1948. Agresi yang terpusat di Jogja ini mempengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat. Pertumpahan darah tidak terelakan. Soekarno dan petinggi negara lain diasingkan. Namun, di sisi lain peristiwa ini menunjukkan semangat kerjasama yang berkobar.

Agresi Militer Belanda II diwarnai gejolak perlawanan gerilya. Perlawanan sembunyi-sembunyi dengan berpindah dari satu desa ke desa lainnya. Hingga kemudian tercetuslah ide Serangan Oemoem 1 Maret 1949. Peristiwa Serangan Oemoem 1 Maret ini cukup berpengaruh bagi Indonesia. Meskipun hanya bertahan 6 jam, setidaknya Indonesia dapat membuka mata dunia bahwa dirinya masih eksis dan ada.

Monjali Dua

Tahun-tahun ini menjadi masa-masa terberat bagi Indonesia dan Belanda. Waktu berselang, perjuangan panjang nan melelahkan pasukan Indonesia pun usai. Pada 29 Juni 1949, tentara Belanda ditarik mundur. Penarikan tentara Belanda ini menandai terbebasnya Indonesia dari kekuasaan Pemerintah Belanda.

Kelak, peristiwa ini dikenal sebagai “JOGJA KEMBALI”. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi inspirasi dibangunnya Museum Monjali. Museum yang menjadi tetengger atau tanda dari momen penting dalam sejarah awal pembentukkan Republik ini.

Museum Monumen Jogja Kembali terletak di Jongkang, Sariharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya mudah dijangkau, berada di paruh utara Lingkar Ring Road Utara. Museum ini cukup mencolok bentuknya meski dari kejauhan. Berbentuk seperti gunung merapi yang bermakna sebagai pemberi kesuburan bagi masyarakat sekitar.

Monjali Tiga

Museum Monumen Jogja Kembali terdiri dari 3 (tiga) lantai. Lantai satu berisi empat ruangan yang keempatnya memiliki ceritanya sendiri. Ruang pertama menceritakan peristiwa-peristiwa di Jogja pasca merdekanya Indonesia. Sementara itu, ruang kedua mengangkat cerita perjuangan masyarakat selama perang gerilya dan mengembalikan kembali kedaulatan Indonesia.

Ruang ketiga mengangkat cerita tentang PMI dan Dapur Umum yang juga berperan bagi Indonesia. Terakhir, ruang empat yang bercerita tentang sepak terjang tokoh-tokoh nasional, di antaranya Soekarno, Moh. Hatta dan Ki Hadjar Dewantara.

Berbeda dengan lantai satu, lantai dua berisi sepuluh diorama yang menceritakan peristiwa-peristiwa besar di Jogja. Dimulai dari masa perang gerilya yang menggambarkan semangat gotong royong warga, sampai dengan ditariknya tentara Belanda dari Indonesia.

Sementara itu, lantai tiga pun memiliki fungsi yang berbeda. Lantai tiga ini diberi nama “Garba Grha” yang artinya tempat perenungan. Lantai ini digunakan sebagai tempat mendoakan para pahlawan yang telah gugur di medan perang.

Monjali Empat

Museum Monjali tidak hanya menampilkan koleksi, tetapi juga memberi layanan pemutaran film gratis tentang peristiwa Serangan Oemoem 1 Maret atau peristiwa 6 (enam) jam di Jogja. Museum Monjali buka mulai hari Selasa hingga Minggu.

Pada hari Selasa sampai Jumat, museum buka sejak pukul delapan pagi hingga empat sore. Sementara pada akhir pekan, museum Monjali buka dari pukul delapan pagi hingga setengah lima sore.

Tidak perlu khawatir, harga tiket Museum Monjali cukup terjangkau. Hanya dengan merogoh kocek Rp10.000 saja, kita sudah bisa menikmati suasana museum Monjali sekaligus belajar tentang usaha-usaha rakyat Indonesia memukul mundur tentara Belanda.

Load More Related Articles
Load More By Hernawan
Load More In Heritage