Mocosik #3, dari Puisi Cinta Hingga Berita Kepada Kawan

8 min read
0
161

Perhelatan Festival Musik dan Buku MocoSik 2019 berlangsung meriah di hari kedua. Obrolan pembuka dimulai tepat pukul satu siang. Menampilkan dua penyair, yaitu Agus Noor dan Joko Pinurbo. Obrolan yang dipandu oleh Vika Aditya itu bertajuk “Akulah Puisi, Akulah Cinta”.

“Di depan cinta, semua orang bertekuk lutut dan setara”, ujar Joko Pinurbo. Kehadiran dua penyair ini membuat cinta menguar di Festival Musik dan Buku MocoSik 2019. Puisi cinta bagi dua penyair ini tak bisa dihindari. “Puisi cinta bisa membantu memahami situasi sosial saat ini”, jelas Pinurbo.

“Nasionalisme tanpa puisi”, sahut Noor. “Nonsense!”

Baca juga: MocoSik 2019 Hari Pertama: Diskusi, Pameran Buku, Monolog Hingga Efek Rumah Kaca

Mocosik #3, dari Puisi Cinta Hingga Berita Kepada Kawan
Mocosik #3, dari Puisi Cinta Hingga Berita Kepada Kawan

Sesi berikutnya dimulai pukul tiga sore. Menghadirkan Man Angga (Nosstress) dan Kharis Junandaru (Silampukau). Diskusi menarik yang berlangsung selama dua jam ini dipandu oleh Tomi Wibisono (Warningmagz).

Man Angga bercerita bahwa menulis lirik lebih sulit ketimbang menulis  karya sastra, seperti cerpen, novel atau bahkan esai. “Tidak mungkin”, kata Angga. “Menyanyikan 100 lembar. Kalau di buku kan mesti dijelaskan”.

Sedangkan Kharis Junandaru berbagi kisah tentang “Si Pelanggan”. Lagu miliknya yang menceritakan keruntuhan Dolly, daerah lokalisasi di Surabaya dan dihancurkan pada masa Walikota Tri Rismaharini, juga terinspirasi sajak.

Di saat yang sama, Yura Yunita berbagi pengalaman menulis lirik lagu. Diskusi yang terbatas itu dihadiri sejumlah 15 orang.

Diskusi selanjutnya membahas peran komunitas dan kaitan terhadap suburnya kancah literasi Yogyakarta. Memboyong pilar-pilar kepenulisan Yogyakarta. Mereka adalah Edi Iyubenu (Kampus Fiksi), Aguk Irawan (Baitul Kilmah), Eko Prasetyo (Social Movement Institute) dan Muhidin M. Dahlan (Indonesia Buku). Diskusi empat pegiat komunitas literasi Yogyakarta ini dipandu langsung oleh Irwan Bajang, Direktur Program Festival Musik dan Buku MocoSik #3 yang juga jebolan salah satu komunitas menulis di Sewon, Bantul.

Baca juga: Festival MocoSik 2019 Hadir, Catat Tanggal Presale Tiketnya!

Mocosik #3, dari Puisi Cinta Hingga Berita Kepada Kawan
Mocosik #3, dari Puisi Cinta Hingga Berita Kepada Kawan

Menulis, bagi mereka, adalah menggelorakan impian. Menyuburkan narasi-narasi lain kehidupan. Seperti Aguk Irawan, yang menularkan kemampuan menulis kepada sekitar. Lain lagi bagi Eko Prasetyo. Baginya, menulis adalah mempertaruhkan risiko.

Bagi Edi Iyubenu, terus belajar menulis menjauhkan kita dari sikap merasa telah sempurna. Sedangkan Muhidin M. Dahlan menyampaikan bahwa berkomunitas melebihi sekolah. Tetapi, bila komunitas tak bisa menggaransi kebahagiaan. Kata Muhidin: “Tinggalkan!”

Ada yang berbeda di Festival Musik dan Buku MocoSik 2019 hari ketiga. Pilihan musiknya lintas generasi. Di awali oleh Langit Sore, band baru yang sedang naik daun di Jogja ini mengorbit karena lirik-lirik lagu yang easy listening sesuai selera milenial. Hadir membawakan lagu-lagu berjudul “Aku Terus Berjuang”, “Rumit”, “Aku Cemburu”, “Hilang Tanpa Kabar”.

Dilanjutkan penampilan Sudjiwo Tejo & Sastra Warna Band. Seniman serba bisa yang juga dikenal sebagai presiden republik jancukers, menggoyang panggung dengan beberapa nomor lagunya. Tentunya, masih berkutat kisah asmara antara Rama-Shinta-Rahwana. Tak lupa, lagu “Anyam-Anyaman” dinyanyikan oleh mbah Tejo diikuti ratusan penonton.

Tashoora, grup musik asal Jogja, seakan tengah merekam kembali album EP mereka bertajuk “Ruang”. Tampil di sesi ketiga setelah Sudjiwo Tedjo. Beberapa nomor dari album live perdana mereka mainkan, seperti “Terang” dan “Nista”. Single terbaru mereka, “Surya” yang terinspirasi Giordano Bruno. Filsuf Italia yang meregang nyawa karena membantah gereja dengan berkata bahwa bumi mengelilingi matahari, juga mereka bawakan.

Tashoora bahkan membocorkan bakal merilis album di akhir tahun ini. “Agni”, lagu baru tersebut terinspirasi salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini yang cemar oleh kasus pelecehan seksual.

Selang beberapa menit usai Tashoora turun panggung. Penonton Festival Musik dan Buku MocoSik 2019 merapatkan barisan. Penggemar Ebiet G Ade berdatangan. Ebiet, pria yang mengawali karier dari puisi ini bercerita bahwa musik memang tak terbayang di masa mudanya.

Mocosik #3, dari Puisi Cinta Hingga Berita Kepada Kawan
Mocosik #3, dari Puisi Cinta Hingga Berita Kepada Kawan

Jogja Expo Center, tempat berlangsungnya Festival Musik dan Buku MocoSik 2019 bergemuruh. Lantunan lagu-lagu milik Ebiet seperti “Titip Rindu Buat Ayah”, “Camelia”, “Elegi Esok Pagi”, “Berita Kepada Kawan” dinyanyikan oleh penonton mengikuti dentingan gitar Ebiet.

“Kalian semua anak muda, kan?”, tanya Ebiet. “Masih berusia di bawah 30 tahun? Tapi kok hapal lagu-lagu saya”, ujarnya tak percaya kepada para penonton Festival Musik dan Buku MocoSik 2019 semalam. Ebiet mengungkapkan kebahagiaannya sebagai penyanyi senior yang lagu-lagunya meski sudah sangat lama dia tuliskan, tapi masih didengarkan hingga hari ini.

Penutup Festival Musik dan Buku MocoSik 2019 hari kedua adalah Yura Yunita. Yura menyanyikan 9 lagu yang didominasi oleh musik rancak. Tak ketinggalan penampilan spesial dimana Yura dan Band-nya menari ala K-Pop di atas panggung. Sontak penonton MocoSik #3 bertepuk tangan gemuruh menyambutnya.

Festival Musik dan Buku MocoSik 2019  akan berlangsung selama 3 (tiga) hari yaitu Jumat Sabtu Minggu 23, 24, 25 Agustus 2019 di Jogja Expo Center Yogyakarta.

Baca juga artikel menarik lainnya pacarkecilku.

Load More Related Articles
Load More By pacarkecilku
Load More In News