Merespon Sumbu Imajiner DIY Lewat JSSP #3 2019

6 min read
0
16

Pertunjukkan ruang publik atau performing art Jogja Street Sculpture Project #3 (JSSP) diadakan pada Minggu malam (24/11) di Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Acara tersebut merupakan bentuk respon dari berbagai komunitas pertunjukkan terhadap instalasi seni yang dipamerkan. Pertunjukkan ruang publik JSSP #3 diadakan lima kali setiap akhir pekan. Nantinya, pertunjukkan ini akan kembali diadakan pada Minggu, 8 Desember 2019 mendatang.

Salah satu instalasi seni di JSSP #3

Salah satu komunitas pertunjukkan yang unjuk gigi di Jogja Street Sculpture Project #3 adalah Kontramo. Mendalami tari-tarian, drama, dan musik noise, Kontramo mencoba menerjemahkan instalasi seni yang dipamerkan lewat drama tari. Kedelapan perwakilan Kontramo berhasil menyemarakkan pameran JSSP #3, antara lain Nares, Indhi, Noval, Ciang Lie, Andi, Andika, Fahri, dan Ame yang aksinya menarik perhatian pengunjung.

Dagelan merespon patung kaca M A T A karya Win Dwi Laksono

Sejumlah pertunjukkan seni dipersembahkan oleh Kontramo, antara lain Ada, Pencarian, Resah, Dagelan, Come True, Pill Pus dan Degup. Setiap performing art merespon masing-masing karya. Seperti Pill Pus dan Degup merespon patung Melting Pot karya Hilman Syafriadi.

JSSP #3 di 0 Km Yogyakarta.

“Kami mempersiapkan performing art selama dua hari dan alhamdulillah teman-teman Kontramo cepat memahami patung-patung di JSSP #3 berkat deskripsi gagasan patung dan penjelasan dari panitia. Kontramo mengolaborasi musik, tari, drama dalam performing art agar muncul kesan dramatik dari patung-patung yang dipamerkan”, ujar salah satu anggota Kontramo, Indhi.

Degup merespon patung Melting Pot karya Hilman Syafriadi.

Terdapat 33 karya yang dipamerkan selama gelaran Jogja Street Sculpture Project #3. Mengabil tema “Pasir Bawono Wukir” yang bermakna garis imajiner Laut Selatan, Keraton, hingga Gunung Merapi, 33 karya tersebut tersebar di dua kabupaten dan satu kota di DIY. Beberapa diantaranya adalah patung Selaras karya kelompok Cahya (Agus Widodo, Yani Sastranegara, Cyca Leonita, Henry Kresna), patung Hajar As’ad karya Ahmad Chotib Fauzi Sa’ad, dan patung Melting Pot karya Hilman Syafriadi yang dipajang di 0 Km Yogyakarta.

“Saya sudah melihat semua patung-patung yang dipamerkan di Titik Nol Kilometer. Semoga Yogyakarta sebagai kota budaya bisa lebih dikenal oleh wisatawan dan semoga JSSP #3 bisa mewujudkan itu lewat karya-karya patung yang dipamerkan”, tutur Mia, salah satu pengunjung Titik Nol Kilometer Yogyakarta.

Pertunjukkan ruang publik atau performing art Jogja Street Sculpture Project #3 (JSSP) merupakan salah satu dari rangkaian acara JSSP #3 yang sudah dimulai sejak 7 Juli 2019 lalu. Didukung oleh Asosiasi Pematung Indonesia (API) dan Dinas Kebudayaan DIY, JSSP #3 terbagi menjadi tiga inti acara, yakni pra event, main event, dan side event. Pra event JSSP 3# meliputi sosialisasi dari tim kurator JSSP #3 kepada para seniman yang akan berpartisipasi, presentasi karya, dan Pameran Maket Jogja Street Sculpture Project #3. Pameran tersebut digelar pada 17-23 Oktober 2019 di Galeri Tiforti Art Space.

Seluruh maket yang sebelumnya dipamerkan di di Galeri Tiforti Art Space, dipajang dalam ukuran sebenarnya pada 17 November-10 Desember 2019. Pameran JSSP #3 tersebar di beberapa titik di DIY, antara lain Gumuk Pasir Parangtritis, sekitar 0 Km Yogyakarta, dan pertigaan Ngangkrak di Cangkringan, Sleman. Peminat patung dan seni pun dapat mengikuti JSSP 3# Tour menggunakan bus berkapasitas 150 orang. Bertujuan mengedukasi masyarakat, harapannya JSSP 3# Tour dapat mengajak masyarakat untuk memahami setiap karya yang dipamerkan.

Termasuk dalam agenda side event Jogja Street Sculpture Project #3, seminar, workshop, artist talk, sculpture performing art, dan lombo foto dan lomba review JSSP #3 turut memeriahkan acara. Artist talk Kelompok MATA AIR dan Kelompok MATA KAYU diadakan di Pendhapa Art Space pada Minggu sore (1/12) lalu. Sedangkan workshop pembuatan patung bersama Yulhendri dan Ali Umar dilaksanakan pada Selasa (26/11) di Studio Patung Zola Gallery di area Gumuk Pasir Parangtritis, Bantul. Melibatkan masyarakat Bantul, pembuatan patung sejatinya memerlukan kesabaran dan ketelatenan, serta aspek rasa dalam proses kesenian.

“Kami ingin lebih memasyarakatkan patung, terutama di wilayah Gumuk Pasir Parangtritis dan Gunung Merapi. Semoga nantinya bisa menjadi obyek wisata baru”, pungkas Ketua JSS #3 2019 Rosanto Bima Pratama.

Pameran Jogja Street Sculpture Project #3 masih berlangsung hingga 10 Desember 2019.

Load More Related Articles
Load More By hsnfarra
Load More In Event