Menziarahi Isyarat Cinta Yang Keras Kepala

6 min read
3
172

“Aku memilih menziarahi situs masa laluku, menziarahi kesakitanku.”

Tepat beberapa detik setelah selesai membaca kalimat dari penggalan cerita itu, aku menyadari kegiatan membaca adalah sebuah ziarah. Ziarah terhadap apapun itu, terhadap kemungkinan dan pengalaman-pengalaman si penulis.

Di dalam buku kumpulan cerpen ini, Isyarat Cinta yang Keras Kepala memiliki 15 ‘tempat’ yang pantas untuk ‘di-ziarahi’. Pembaca disuguhi berbagai cerita yang tak jarang terasa seperti menziarahi kesakitan diri sendiri.

Kesakitan demi kesakitan di buku ini memiliki porsinya masing-masing. Ada yang hanya selesai disitu saja. Ada yang cukup menarik nafas lalu mengikhlaskannya. Adapula kesakitan yang akan membuat pembaca merasa dada mereka dipukul keras, harus merasakan patah hati yang sama.

Isyarat Cinta Yang Keras Kepala

Lantang, salah satu tokoh Isyarat Cinta yang Keras Kepala yang berhasil membuat seseorang patah hati. Kemunculannya memberi warna pada alur cerita. Meskipun Lantang bukanlah tokoh utama, tapi peran yang diberikan Puthut EA sangatlah penting. Tokoh dengan karakter kuat sekaligus jenaka.

Di sebuah perkebunan teh, di rumah kecil, rumah yang sengaja dibuat untuk menikmati hujan, gadis kecil itu bertemu untuk pertama kalinya dengan tokoh Lantang. Pertemuan yang sungguh aneh. Bagaimana tidak, Lantang dengan sengaja mengagetkan gadis kecil itu dengan seekor ular yang siap memangsanya dari balik jendela kamar. Lalu dia tertawa layaknya anak kecil yang nakal dan lari membawa ularnya.

Di pertemuan berikutnya, gadis kecil itu kembali dikagetkan oleh seorang anak yang menyodorkan satu rentengan ular. Sontak, dia pun menjerit dan menangis keras. “Tapi dengan segera kakakku menghampiri dan bilang bahwa itu belut dan Si Lantang ingin memberikan kepadaku. Belut itu enak jika digoreng. Tapi aku tidak peduli. Aku benci belut dan aku benci Si Lantang”, ujar gadis kecil itu.

Di tahun-tahun berikutnya, semasa gadis itu masuk awal kuliah, satu persatu kebahagiaannya hilang. Ayahnya dipenjara, tersangkut masalah politik. Rumah yang menjadi tempat tinggalnya terbakar, mungkin juga dibakar. Kakak, yang menjadi pelindungnya, menjadi buronan politik, karena dianggap terlibat gerakan yang membahayakan negara.

Disitulah, awal yang menjadi titik balik cerita. Gadis kecil itu terpaksa meninggalkan bangku kuliah. Dan satu-satunya harapan yang dimiliki adalah Lantang.

Di buku ini, pembaca akan disuguhi ketegangan-ketegangan yang sering kali tidak tertebak kemana akhirnya. Penulis tahu betul bagaimana mengelola emosi pembacanya. Di waktu yang bersamaan, pembaca dibuat menebak cerita apa yang akan disajikan? Peristiwa apalagi selanjutnya? Keinginan membuka lembar berikutnya begitu kuat. Anehnya, sekaligus ada rasa ingin menikmati tiap ceritanya lebih lama, lebih dalam, kita seakan diajak berpikir melalui cerita-ceritanya.

Mungkin benar kata Bung Hatta: “Membaca tanpa merenungkan adalah bagaikan makan tanpa dicerna”. Sayang sekali, jika kita ‘menziarahi’ buku ini tanpa memanjatkan doa-doa yang khusyuk dan merenunginya.

Meski begitu, ada beberapa hal yang membuatku sebagi pembaca merasa kurang puas. Pertama, cover buku ini (cetakan ke-empat) terlihat seperti kucel, seperti ada noda-noda yang nampak di bagian cover. Kedua, tidak adanya pengantar buku. Untuk alasan pribadi, aku senang mengetahui proses pembuatan dibalik cerita sebuah buku. Selebihnya hanya ada kesalahan kecil, editing nama. “atau juga Mas Kiki suaminya Mbak Lita.” (hal.39) dan “soalnya Mbak Lita dan suaminya, Mas Rudi, sudah pacaran sejak kelas satu SMA dan mereka terlihat sangat awet dan mesra.” (hal.43)

Terlena dengan penyajian cerita, buat saya, buku ini salah satu terbitan Mojok yang patut diapresiasi orang banyak. Saran saya, hati-hatilah. Isyarat Cinta yang Keras Kepala bukanlah buku yang cocok bagi kamu yang takut patah hati.

Tapi, lagi-lagi. Si penulis memang sangat cerdas membela dirinya.

“… aku justru harus berani menghadapi seluruh peristiwa yang telah lewat, dan bukan justru menghindarinya. Kenangan tidak bisa dihilangkan. Kenangan hanya bisa dihadapi atau diperam dengan risiko membusuk di dalam.”

Judul                              : Isyarat Cinta Yang Keras Kepala

Penulis                           : Puthut EA

Penerbit                         : Buku Mojok

Bulan terbit                  : Agustus 2017

Ukuran buku                : 13 x 20 cm

Jumlah halaman         : 160 Halaman

Baca juga artikel menarik lainnya Mochamad Ripki.

Load More Related Articles
Load More By Mochamad Ripki
Load More In Buku