Menyambut Senja di Candi Barong

7 min read
0
97
Candi Barong
Candi Barong

Berwisata di candi sembari menikmati momen matahari terbenam merupakan hal yang menyenangkan. Akhir-akhir ini, Candi Ijo menjadi primadona dalam hal itu sehingga semakin banyak orang yang berkunjung ke sana.

Padahal, masih ada candi-candi lain dengan pemandangan sunset yang tak kalah cantik, salah satunya adalah Candi Barong yang terletak di Dusun Candisari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman.

Candi Barong bisa diakses melalui Jalan Jogja-Solo hingga gapura perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Provinsi Jawa Tengah. Tepat di sebelah gapura tersebut terdapat jalan masuk ke selatan yang mengarah ke Abhayagiri Restaurant, ikuti saja terus jalan itu hingga melewati restoran tersebut.

Sampai di sebuah pertigaan ambil jalan ke arah kiri, setelah itu akan ada sebuah perempatan kecil dan ambil jalan ke arah kiri yang berupa aspal. Ikuti saja jalan tersebut sekitar 1 kilometer sampai terlihat sebuah candi, itulah Candi Barong.

Letak Candi Barong memang agak mblusuk dan berada di daerah perbukitan. Tidak ada transportasi umum yang menjangkau hingga ke lokasi tersebut, bus umum maupun Trans Jogja hanya dapat mengantarkan hingga sekitar gapura perbatasan, dari situ perjalanan dapat dilanjutkan dengan menyewa tukang ojek untuk perjalanan berangkat dan pulang. Opsi terbaik untuk menjangkau Candi Barong adalah menggunakan kendaraan pribadi.

Sore itu merupakan kunjungan keduaku ke Candi Barong. Sesampainya di tempat parkir, tidak ada satu pun orang yang terlihat maupun motor yang terparkir. Aku bersama adik sepupuku segera menuju ke pintu masuk yang terbuka.

Setelah melemparkan senyum kepada petugas penjaga yang berada di pos, kami berdua lantas berjalan menuju ke bangunan candi. Ya, dua kali aku berkunjung ke Candi Barong tidak dipungut biaya, baik itu biaya masuk maupun parkir.

Di dalam kompleks candi hanya ada kami berdua dan sekelompk wisatawan yang sepertinya berlibur menggunakan paket wisata jeep. Namun tidak lama kemudian, kelompok yang terdiri dari 4 orang tersebut melanjutkan perjalanan sehingga hanya tersisa kami berdua di sana, terasa seperti candi pribadi. Suasana yang sepi ditambah dengan udara sore hari yang sejuk benar-benar menyegarkan pikiran dan perasaan.

Candi Barong berbentuk punden berundak dengan tiga tingkatan/teras yang berbeda-beda ukurannya. Dikutip dari spotunik.com, teras terbawah memiliki ukuran 90 x 63 m2, teras kedua berukuran 50 x 50 m2, dan teras ketiga atau yang paling atas berukuran 38 x 25 m2.

Di atas teras ketiga terdapat dua buah candi dengan ukuran dasarnya 8 x 8 m2 dan tinggi sekitar 3 meter. Seluruh sisi pada kedua candi tersebut tertutup dan tidak memiliki pintu masuk ke dalamnya. Di sebelah barat candi-candi tersebut terdapat sebuah gerbang beratap sebagai pintu masuk ke teras ketiga.

Kondisi di lingkungan candi sangat bersih dan rapi. Di sebelah utara, timur, dan selatan bangunan candi terdapat pekarangan berumput cukup luas serta dilengkapi dengan dua buah gazebo yang dapat digunakan untuk bersantai oleh para pengunjung. Selain itu, di sekelilingnya juga banyak ditemukan pepohonan yang rimbun.

Sore hari yang cerah menjadi waktu terbaik untuk mengunjungi Candi Barong. Sambil menunggu waktu sunset tiba, para pengunjung dapat berfoto ria atau sekedar duduk menikmati suasana. Pemandangan indah yang terlihat sangat memanjakan mata sekaligus dapat menjadi objek foto yang menarik selain bangunan candi itu sendiri.

Candi Barong
Candi Barong

Jika langit bersih maka Gunungapi Merapi pun dapat terlihat di sebelah utara. Para pengunjung akan ditemani oleh semilir angin yang sejuk. Tidak heran, letak Candi Barong yang berada di atas bukit dan dikelilingi oleh pepohonan membuat persediaan udara segar cukup melimpah di sana.

Mendekati waktu sunset, pandangan mata tidak bisa lepas dari matahari yang perlahan menurun. Ufuk barat terlihat membara dengan warna jingganya. Sedikit demi sedikit sang surya pun terbenam. Momen-momen tersebut terlihat cukup jelas dari Candi Barong dan membuat kami berdua tersenyum senang.

Setelah adzan Maghrib berkumandang, kami bergegas menuju ke parkiran. Saat melewati pintu masuk, kami bertemu dengan bapak penjaga dan menyapanya. Beliau berkata bahwa pengunjung Candi Barong memang belum ramai, namun setiap hari selalu ada pengunjungnya, terlebih ketika weekend.

Hal itu mengingatkanku saat pertama kali berkunjung ke Candi Ijo pada pertengahan tahun 2014 lalu. Saat itu Candi Ijo juga masih sepi, belum banyak orang yang mengetahuinya. Namun, dengan adanya sosial media yang terus mengeksposnya, Candi Ijo pun kini menjadi destinasi wisata yang digemari oleh banyak orang.

Aku berpikir bisa saja Candi Barong bernasib sama jika terus dieskpos di sosial media, karena Candi Barong memiliki potensi yang cukup menjanjikan untuk dikembangkan.

Load More Related Articles
Load More By Prima Dini
Load More In Heritage