Menjelajahi Pagi Dengan Sepiring Jenang 13 Rasa di Pasar Tani Sleman

8 min read
0
22

genpijogja.com – Bagi saya bangun pagi di Kota Gudeg ini selalu menjadi rutinitas. Dengan bangun pagi, saya bisa merasakan udara segar dengan aroma tanah dan embun pagi yang memanjakan hidung. Bangun pagi juga memanjakan mata dengan pemandangan dedaunan segar berembun di setiap helainya, tetapi yang paling membuat saya bersemangat bangun pagi karena pagi artinya saat sarapan.

Di jam-jam sarapan ini, tidak jarang saya mencari kuliner yang memang hanya dijual saat pagi hari di Kota Gudeg ini. Salah satu menu favorit saya untuk sarapan pagi adalah jenang. Di Jogja ada banyak penjual jenang yang dapat ditemui, mulai dari yang berjualan di kios pinggir jalan, berkeliling menggunakan sepeda onthel atau mobil dan di dalam pasar tradisional.

Menjelajahi Pagi Dengan Sepiring Jenang 13 Rasa di Pasar Tani Sleman
Menjelajahi Pagi Dengan Sepiring Jenang 13 Rasa di Pasar Tani Sleman

Sedikit cerita mengenai menu favorit saya ini, jenang atau yang biasa disebut bubur, memiliki banyak jenis. Bahkan jenang gempol, diyakini sudah ada sejak zaman Mataram Islam.

Umumnya bahan dasar pembuatan jenang berasal dari tepung beras putih, ketan hitam, jagung, monte atau biasa disebut mutiara, juga umbi-umbian seperti pada jenang grendul. Cara memasaknya pun berbeda-beda, ada yang dibuat manis dengan dicampur gula Jawa dan ada yang dibuat gurih tergantung jenis jenang yang ingin dibuat. Tak ketinggalan pula kuah santan encer sebagai penambah kenikmatan jenang.

Pagi itu saya memilih untuk sarapan jenang di Lapangan Pemda Sleman setelah melihat salah satu postingan di media sosial. Bangun pagi kali ini terasa lebih bersemangat setelah tahu jenang yang dijual disini tidak seperti kebanyakan penjual jenang pada umumnya yang hanya menjajakan sekitar lima (5) hingga sepuluh (10) macam jenis jenang.

Yang menarik, jenang 13 rasa di jual di Pasar Tani Sleman mulai pukul 07.00 WIB sampai habis. Pasar Tani hanya diselenggarakan 1 (satu)  minggu sekali pada hari Jumat di Lapangan Pemda Sleman.

Uniknya, Pasar Tani tidak hanya menjual jajanan pasar dan makanan tradisional yang dikelola oleh Dinas Pertanian Sleman. Berbagai sayuran organik hasil bertani ibu-ibu rumah tangga di bawah asuhan penyuluh pertanian juga dijualbelikan di Pasar Tani Sleman.

Menjelajahi Pagi Dengan Sepiring Jenang 13 Rasa di Pasar Tani Sleman
Menjelajahi Pagi Dengan Sepiring Jenang 13 Rasa di Pasar Tani Sleman

Keinginan menjajal jenang dengan 13 varian rasa membuat saya buru-buru melajukan motor ke Lapangan Pemda Sleman. Ternyata jaraknya lumayan jauh dari rumah, butuh sekitar 30 menit menggunakan sepeda motor.

Sesampainya di lapangan Pemda Sleman, saya parkirkan sepeda motor di masjid yang berada di utara Lapangan Pemda Sleman dan berjalan kaki menuju sisi selatan Lapangan Pemda Sleman.

Setelah melewati tenda-tenda penjual dengan berbagai macam dagangan mulai dari camilan hingga baju-baju. Tenda penjual jenang terletak sedikit di tengah deretan tenda. Saat saya tiba ternyata di sekitar tenda sudah banyak pembeli yang mengantri jenang.

Saya memilih duduk di bangku  persis di depan kendil-kendil tanah liat yang berisi aneka jenang. Tak lupa saya mengambil nomer antrian. Sambil menunggu antrian, sesekali saya bertanya kepada Ibu yang bertugas menyajikan jenang, Ibu Rami namanya.

“Sebenarnya yang punya Ibu Ana, tapi beliau lagi tidak ada di sini”, ujar Ibu Rami. Ternyata jenang-jenang ini dipersiapkan dari malam sebelumnya sehingga saat di sajikan di pagi hari masih fresh, lanjut Ibu Rami bercerita.

Tak terasa antrian berjalan begitu cepat. “Nomer 54?” panggil Ibu Rami. Saya langsung menyerahkan nomer antrian kepada Ibu Rami.

“Mau jenang yang mana, Mbak?”, tanyanya ramah. Saya memilih 5 (lima) jenis jenang karena melihat piring pembeli-pembeli sebelumnya porsinya cukup banyak bagi saya. Lima jenis jenang ini dibanderol dengan harga Rp8.000 saja. Ibu Rami menyiapkan piring blek yang dialasi daun pisang dan mulai menyedokkan pesanan saya satu per satu.

Menjelajahi Pagi Dengan Sepiring Jenang 13 Rasa di Pasar Tani Sleman
Menjelajahi Pagi Dengan Sepiring Jenang 13 Rasa di Pasar Tani Sleman

Saya memesan bubur sumsum pandan, bubur beras merah, bubur jagung, jenang grendul ubi ungu dan yang terakhir, favorit saya, jenang grendul ubi kuning. Kelima jenang tadi di siram dengan kuah santan encer di atasnya.

Varian lainnya yang bisa dipilih adalah sumsum putih, ketan hitam, jenang monte, kacang hijau, ngangrang, sumsum coklat, dan gempol. Sayangnya dua varian jenang yaitu kacang merah dan sorghum sedang kosong.

Suapan pertama terasa “maknyess” di mulut saya. Jenangnya sendiri terasa manis berpadu dengan kuah santan yang gurih dan masih hangat.

Jenang grendul ubi ungu dan kuningnya terasa kenyal saat saya gigit. Tak hanya saya, Ibu Rezki yang duduk di sebelah saya juga mengamini kelezatan jenang 13 rasa ini. “Enak, sesuai selera. Ga percuma jauh-jauh datang”, ungkap Ibu Rezki yang berasal dari Pekanbaru Riau.

Setelah menghabiskan sepiring jenang tak lupa saya membelikan oleh-oleh untuk orang rumah. Saya membeli beberapa bungkus jenang untuk dibawa pulang. Khusus jenang yang dibawa pulang, saya mengambil nomer antrian kembali karena tempat menjualnya berbeda dengan yang dimakan di tempat. Empat gelas jenang sudah ditangan saatnya untuk pulang. Tak terasa matahari semakin terik dan meninggi, waktunya kembali melanjutkan aktifitas.

Load More Related Articles
Load More By Rezarizkii
Load More In Kuliner