Home Heritage Menilik yang Tersembunyi di Gereja Marga Mulya Jogja

Menilik yang Tersembunyi di Gereja Marga Mulya Jogja

5 min read
0
0
97

Jika berkunjung ke Jogja, sungguh tak lengkap rasanya jika tak menyusuri kawasan titik Nol Kilometer. Kawasan ini dikenal eksotis berkat banyaknya bangunan-bangunan tua yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Namun perlu diketahui bahwa di kawasan ini juga terdapat sebuah bangunan gereja yang bersembunyi dibalik tenda kios dagang. Bahkan ternyata gereja yang tersembunyi ini justru menjadi gereja tertua di DIY. Gereja tersebut dikenal sebagai Gereja Marga Mulya.

GPIB-Margomulyo

Gereja Marga Mulya terletak di ujung pertemuan antara jalan Ahmad Yani dan jalan Reksobayan. Meski begitu, secara administratif gereja ini beralamat di jalan Ahmad Yani no. 5 Kota Yogyakarta, DIY. Tak jauh dari gereja juga terdapat tugu jam, sehingga tak heran jika warga Jogja juga menggelar gereja ini sebagai Gereja Ngejaman.

Pada masa residen Brest van Kempen, dibangunlah Gereja Marga Mulya dengan nama awal De Prostantse Kerk in Westelijk Indonesia sebagai salah satu sarana peribadatan bagi orang-orang Eropa yang bermukim di Jogja. Bangunan awal gereja dirancang oleh Ir. P.A. Van Holm dengan mengusung gaya Eropa.

IMG-20190210-WA0015

Proses pembangunannya sendiri dimulai pada tahun 1853 atas pimpinan dari seorang Opster bernama G.R. De Valette dan mendapat bantuan secara finansial dari Sultan HB VII. Gereja secara resmi diberkati pada tanggal 11 Oktober 1857 oleh seorang pendeta bernama Ds. C.G.S Begeman.

Bangunan gereja menggunakan denah persegi panjang dengan menempati lahan seluas 745 meter persegi. Saat ini kondisi bangunan gereja sudah berbeda seperti dengan yang aslinya karena pada tahun 1867, bangunan gereja yang asli sempat runtuh akibat gempa bumi yang melanda hampir seluruh wilayah yang secara administratif saat ini masuk ke DIY.

Terdapat tiga pembagian ruangan pada gereja, yakni ruang depan, ruang utama dan ruang konsistor. Saat berada di ruang utama, terdapat tulisan Belanda yang berbunyi die in my gelooft heet eeuwige leven (yang percaya kepada Ku memperoleh kehidupan yang kekal).

Keberadaan tulisan ini cukup strategis, yakni berada di bagian atas mimbar pendeta. Gereja Marga Mulya juga memiliki 12 kaca jendela lebar yang saling berhadapan. Hal inilah yang kemudian menjadikan gaya Eropa pada gereja semakin berkesan. Tak lupa, gereja juga bertingkat dua guna menampung jemaat gereja.

IMG_20190211_131411

Gereja Marga Mulya berlokasi di kawasan yang cukup strategis, yakni berada di kawasan Nol Kilometer. Dari arah Malioboro, Anda dapat berjalan kaki ke selatan hingga menuju Pasar Bringharjo. Lokasi gereja tepat berada di seberang pasar. Namun bagi Anda yang ingin menggunakan kendaraan pribadi, harus diingat jika jalan Malioboro merupakan jalah yang searah, sehingga sangat disarankan bagi Anda untuk melalui jalan Reksobayan saja dan parkir kendaraan Anda di bagian samping gereja.

Saat ini, gereja dikelola oleh Jemaat GPIB Marga Mulya dan masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah bagi umat Kristiani dari berbagai kalangan umur. Gereja akan buka sesuai dengan jadwal ibadah jemaat yang telah ditentukan sebelumnya.

Apabila ingin berkunjung ada baiknya untuk menghindari jam ibadah karena suasana gereja yang nantinya akan ramai dengan jemaat. Apabila ingin mencoba atmosfir ruang utama gereja, ada baiknya meminta izin dengan petugas setempat terlebih dahulu. Ingat, tetap berpakaian rapi dan sopan saat berkunjung karena gereja merupakan tempat ibadah.

Jadi, tertarik untuk mencoba sensasi Eropa ala Gereja Marga Mulya?

Load More Related Articles
Load More By Selly Juanisa Harsela
Load More In Heritage